Parenting AlKautsar – Semua berawal dari pertemuan yang baik hingga akhirnya menjadi pasangan pendidik yang baik untuk buah hati nantinya.
Daftatr Isi
A. Memulai dari Pertemuan yang Halal dan Barakah
Semuanya berawal dari sini: yaitu ketika anda dan suami bertemu dam hubungan yang halal dan diberkahi. Mungkin di malam ertama atau malam-malam berkutnya.
Hubungan intim antara suami dan isteri adalah ikhtiar syar’I untuk mendapat kehamilan. Dalam hubungan ini, Rasulullah mengajarkan adab-adabnya agar apa yang Anda senantiasa dalam keberkahan. Di antara salah satu adab itu adalah membaca doa,
Artinya: Dengan nama Allah, Ya Allah jauhkanlah kami dari syaitan dan jauhkan dari syaitan terhadap apa yang Engkau karuniakan kepada kami
Ada beberapa hal penting dalam doa ini.
Pertama, Anda melakukannya dengan nama Allah.
dengan menyebut nama Allah, artinya apa yang anda lakukan adalah perbuatan bernilai kebaikan, mengharap yang baik-baik dari Allah dan memohon ridha-Nya. Karena dengan nama Allah, maka apapun perintah-Nya sebaiknya ditunaikan dan apapun yang terlarang dalam perbuatan ini harus abaikan. Di antara yang dianjurkan dalam hubungan suami isteri adalah melakukannya dalam keadaan bersuci dari hadats keci (wudlu). Hikmahnya adalah, kelak ketika perbuatan ini menjadi penyebab kehamilan, maka bayi dalam kandungan adalah manusia yang di awal pembentukannya dalam keadaan suci. Inilah pendidikan awal bagi janin yang sangat mulia tentang menghargai kesucian dan menjaganya.
Allah melarang hubungan intim melalui lubang belakang, melarang melakukannya secara terbuka, dan melarang menceritakan peristiwanya kepada orang lain. Menghindarkan perbuatan tercela dalam hubungan intim ini mengandung hikmah bahwa sejak pertama, bayi telah diawali dengan ketaatan orang tuanya kepada Allah. Ketaatan yang harus terjaga selama dalam kandungan, dan seumur hidupnya ketika lahir.
Kedua, memohon dijauhkan dari syaitan saat melakukannya.
Pada saat hubungan intim terjadi, baik suami maupun istri dalam keadaan melampiaskan syahwat. Ketika puncak nafsu syahwat itu terjadi, manusia rawan terlena dan lepas kendali akan dirinya sendiri. Dalam keadaan inilah syetan sangat berpeluang untuk hadir, turut terlibat apa yang anda lakukan. Sungguh sulit terbayang, bagaimana syetan berdatangan untuk terlibat dalam hubungan intim yang Anda lakukan, tanpa sepengetahuan anda tentunya. Maka memohon kepada Allah untuk menjauhkan diri kita dari syetan saat berhubungan intim adalah doa yang sungguh-sungguh, sangat serius. Kita tidak menginginkan anak yang ada dalam rahim menjalani kehidupannya dengan keterlibatan syetan di awal penciptaannya.
Ketiga, memohon anak keturunan dijauhkan dari syaitan selama hidupnya.
Selamanya, syetan akan menjadi musuh yang nyata bagi manusia. Syetan mengajak manusia kepada keburukan dari arah mana saja ia kehendaki, pada waktu kapanpun. Doa yang ANda ucapkan saat hubungan intim bermakna memohon penjagaan dari Allah, agar Allah menjaga keturunan dari pengaruh syetan beserta keburukannya itu. Anak-anak bisa menjadi sulit darahkan, keluar dari fitrah dan cenderung pada keburukannya ketika syetan hadir menyertai dan memengaruhi hati mereka.
Jadi, berdoa sebelum hubungan intim adalah salah satu pendidikan paling awal bagi janin, bahwa ia diawali kehidupannya dengan menyebut nama Allah, dan telah dimohonkan penjagaan kepada Allah dari syetan agar kehidupannya cenderung kepada kebaikan.
B. Menjadi Pasangan Pendidik
Ada kesalahpahaman mengenai siapa yang paling lazim mendidik anak-anak. Banyak orang masih mengira bahwa pendidikan anak merupakan tanggung jawab ibunya, sebab seorang ayah telah terbebani oleh pekerjaan mencari nafkah yang menghabiskan waktu dan tenaga.
Pendidik bagi anak-anak adalah ibu dan juga ayahnya. Ketika kita membicarakan pendidikan dalam rahim, maka yang melakukannya adalah ibu janin dan juga ayah janin.
Memiliki kesepahaman
Ibu dan ayah mestinya telah memiliki kesepahaman dalam program kehamilan. Dua-duanya telah satu hati tentang kehamilan ini: bagaimana merawatnya, apa saja kebutuhannya, dan seperti apa memperlakukan janin di dalamnya.
Ibu dan ayah juga telah satu pemahaman mengenai pendidikan bayi dalam rahim. Sama-sama paham dan mengerti bahwa di dalam rahim bayi telah memiliki kemampuan untuk menerima rangsangan yang berdampak pada kehidupannya kelak yang menjadikan si kecil memerlukan perlakuan terencana sebelum menemui hari kelahirannya.
Kesepahaman ini mengantarkan pada tanggungjawab bersama. Ibu, dan juga ayah, sama-sama memiliki kesadaran bahwa apapun kejadian anaknya dalam rahim adalah tanggung jawabnya. Dalam kesibukan yang menghimpit, ayah mencari celah untuk hadir bagi janinnya. Dalam beban kandungan yang berat, ibu bertahan untuk tetap melakukan apa yang baik bagi bayinya.
Saling bekerjasama
Mendidik janin dalam rahim tidak hanya oleh ibu saja, tetapi juga ayah. Dalam Bab-bab berikutnya nanti, akan Anda temukan bahwa baik ibu maupun ayah sama-sama memberi sentuhan dan pengajaran bagi bayinya.
Kerjasama tersebut adalah pembagian peran yang luwes antara ayah dan ibu. Seorang ayah yang tidak banyak meluangkan waktu dapat memberikan waktunya yang sempit itu sebagai menit-menit berkualitas. Waktu yang sangat terbatas tetapi kata-kata dan sentuhannya bermakna. Sedangkan ibu yang sepanjang waktu bersama bayi dalam rahimnya, maka waktu ketika sang ayah tidak hadir adalah waktu kebersamaan yang optimal dengan bayinya. Ibu memberikan seluruh waktunya, meskipun pada saat tertentu dengan energi yang terbatas.
Inilah perlunya kerjasama. Tidak semua dapat ibu lakukan sendiri, sedangkan ayah tak mungkin memberikan seluruh waktunya.
[Yazid Subakti]

