Parenting – Shalat adalah penghubung seorang hamba dengan yang disembahnya. Maka dari itu, orang tua harus mengajarkan shalat kepada buah hati sejak dini.
Daftatr Isi
Kenalkan shalat sedini mungkin
Shalat adalah penghubung seorang hamba dengan yang ia sembah. Shalat juga merupakan kegiatan penyembahan yang tidak ada ibadah paling penting selainnya. Dengan melakukan shalat, seorang hamba menjadi terhubung dengan Allah dan membuktikan ketundukan serta ketaatan kepada-Nya.
Anak-anak harus menjadi pribadi yang menegakkan shalat, karena salat adalah kewajiban yang tak dapat terwakili, dan menjadi amal yang pertama kali terhitung kelak di hari kiamat.
Apakah ketika bayi atau balita, anak-anak tidak dapat memahami makna shalat?
Ia mungkin telah ikut-ikutan mengerjakan shalat dan menikmatinya, tetapi baru dapat memahaminya pada usia-usia menjelang sekolah, yaitu menjelang tujuh tahun. Yang ia pahami dari aktivitas shalat adalah sebuah kegiatan yang menyenangkan, atau rutin dilakukan sebagai sebuah kebiasaan. Ia menganggap suatu kegiatan itu baik jika orang tua biasa melakukannya.
Oleh karenanya, anak dikenalkan ibadah shalat sejak awal usianya, sejak ia mampu melihat dan mendengarkan. Ini merupakan pengenalan bahwa sebagian dari rutinitas kehidupan yang tidak boleh ditinggalkan adalah shalat. Ia akan mengamati dan akhirnya meniru apa yang yang dilakukan orang tuanya, kemudian mengulang-ulang hingga menjadi kebiasaan yang kelak tanpa melakukannya akan merasa ada yang kurang. Seiring dengan pertambahan usia dan kemampuan akalnya, ia nanti dapat dipahamkan mengenai perintah Allah yang mengharuskan setiap mukmin shalat, dan semua ketentuan tentang shalat.
Agar Anak Rajin Shalat
Menjadi teladan kedisiplinan shalat
Anak memperhatikan perilaku orang tuanya. Otaknya berkembang dan mulai mengamati, kemudian meniru. Jadi, anak adalah peniru yang ulung tanpa menyaring apa yang baik dan apa yang buruk karena logika berpikirnya belum sampai ke sana. Saat ia menyaksikan Ayah selalu melakukan sesuatu yang sama setiap sehari, ia pun tergerak untuk menirunya. Oleh karenanya, cara mengajarkan anak melakukan shalat adalah dengan cara memberi contoh, sebelum mengatakan atau memperlakukan apapun kepada anak.
Mulai mengajak shalat
Saat si kecil mulai bergerak mandiri, mengenali bagian organ tubuhnya dan berjalan atau berdiri dengan berbagai gerakan, mulailah mengajaknya shalat setiap kali waktu salat tiba.
Rasulullah SAW mengingatkan,
“Apabila seorang anak dapat membedakan mana kanan dan kiri, maka perintahkanlah dia untuk mengerjakan shalat” (HR Ath-Thabari)
Kemampuan membedakan kanan dan kiri menandakan otak anak sudah cukup berkembang. Ia sudah mampu memahami bahwa shalat adalah kegiatan kebaikan. Ajak si kecil mengerjakan shalat tanpa pernah berhenti dan tanpa memberi sanksi bila ia menolak atau benar-benar tidak mau melakukannya. Mungkin ia tertarik ikut tanpa benar-benar melakukan gerakan shalat, melainkan berlarian kesana kemari dalam masjid. Ini tidak mengapa, bahkan menjadi awal yang baik bahwa ia menyaksikan, ikut atau setidaknya bersama orang tuanya yang shalat dan bersuka ria berada di tempat shalat. Kesenangan seperti ini seharusnya bertahan sambil terus mengajaknya lebih serius melakukan gerakan salat.
Mengajarkan ilmu shalat saat usia anak sudah 7 tahun
Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash mengatakan bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Perintahkanlah anak kecil untuk shalat apabila sudah berusia tujuh tahun…” (HR Abu Dawud dan al-Hakim)
Pada usia 7 tahun ini pelajaran shalat sudah harus orang tua ajarkan. Si kecil harus sudah mulai paham alasan shalat, rukun shalat dan tata cara melakukannya. Ajarkan bacaan shalat mulai dari yang paling mudah, sampai lengkap beserta dzikir setelahnya dan adab-adabnya. Ia tidak lagi berlarian atau bermain ketika waktu salat tiba.
Jadi, mulai usia 7 tahun anak sudah menjadi pengamal shalat dan belajar membiasakan diri untuk tepat waktu dan berjamaah.
[Yazid Subakti]

