Apakah Syarat Aqiqah Sama dengan Syarat Qurban?

Apakah Syarat Aqiqah Sama dengan Syarat Qurban?

Sunnah Aqiqah – Mayoritas ulama memandang bahwa syarat aqiqah sama dengan syarat-syarat untuk qurban; yaitu termasuk salah satu jenis hewan ternak, cukup usia dan tidak cacat. Imam Malik mengatakan, “Aqiqah kedudukannya sama dengan nusuk dan qurban; tidak boleh buta sebelah, kurus, patah tanduknya atau sakit.

Imam at-Tirmidzi mengatakan, “Mereka katakan bahwa kambing untuk aqiqah tidak sah selain kambing yang boleh untuk qurban.”

Ibnu Qudamah mengatakan, “Ringkasnya, usia hewan aqiqah harus sama dengan usia hewan qurban.

Ibnu Rusyd mengatakan, “Usia dan ciri-ciri hewan untuk ritual ini (yakni aqiqah) harus sama dengan usia dan ciri-ciri hewan qurban.”

An-Nawawi mengatakan,

Hewan yang boleh untuk aqiqah adalah hewan yang boleh untuk qurban. Maka, tidak boleh selain domba usia dua tahun atau kambing usia tiga tahun ke atas, unta dan sapi. Inilah pendapat yang benar dan merupakan keputusan mayoritas ulama. Ada pendapat lain yang menyebutkan oleh al-Mawardi dan lain-lain bahwa boleh juga untuk domba yang usianya kurang dari dua tahun dan kambing yang usianya kurang dari tiga tahun. Tetapi, pendapat pertama lebih tepat.”

Pendapat yang disebutkan oleh al-Mawardi didukung oleh asy-Syaukani dengan komentar, “Inilah pendapat yang benar.” Dia katakan, “Apakah syarat-syarat yang perlu untuk aqiqah sama dengan syarat-syarat qurban? Ada dua pendapat di kalangan para ulama penganut mazhab Syafi’i. Disebutkannya ‘dua ekor kambing’ tanpa kaitan apa pun dijadikan sebagi tidak adanya syarat tersebut. Ini adalah pendapat yang benar. Tetapi, bukan karena keumuman yang terdapat dalam kalimat di atas, melainkan karena tidak ada dalil yang mengarahkan kepada syarat-syarat dan cacat yang disebutkan pada hewan qurban. Karena, itu termasuk dalam kategori hukum syariat yang hanya bisa tetap dengan dalil.

Al-Mahdi berkata dalam kitab Al-Bahr,

Fatwa Imam Yahya: Boleh untuk aqiqah dengan apa yang boleh untuk qurban, baik berupa unta, sapi atau kambing, usianya dan ciri-cirinya. Seluruhnya termasuk dalam kategori mendekatkan diri kepada Allah dengan ritual penumpahan darah.”

Jadi berdasarkan analogi ini, harus menerapkan seluruh hukum qurban pada setiap ritual penumpahan darah yang bertujuan untuk mendekatkan diri kepada Allah. Menyembelih hewan untuk pesta, seluruhnya sunnah menurut orang yang berargumentasi dengan analogi ini. Sementara, sesuatu yang sunnah berarti bertujuan untuk mendekatkan diri kepada Allah. Artinya, pada hewan sembelihan untuk pesta juga harus diterapkan hukum-hukum ritual menyembelih hewan qurban. Bahkan, diriwayatkan dalam salah satu pendapat Imam Syafl’i bahwa beliau menyatakan pesta pernikahan hukumnya wajib.

Para ulama penganut paham Zhahiriyah mewajibkan banyak jenis pesta.

Tapi, saya tidak mengetahui ada ulama yang mengharuskan pada hewan yang disembelih untuk pesta-pesta itu adanya syarat-syarat yang sama dengan syarat-syarat hewan qurban. Sehingga, kesimpulannya bahwa analogi ini mengharuskan timbulnya suatu hukum yang tidak pernah sebelumnya oleh seorang ulama pun. Suatu analogi keliru apabila mengharuskan sesuatu yang juga keliru.

Hal inilah yang juga oleh Ibnu Hazm katakan. Untuk aqiqah, dia tidak menuntut adanya syarat yang sama dengan syarat-syarat hewan qurban. Dia katakan, “Hewan cacat boleh, baik yang boleh untuk qurban maupun yang tidak boleh. Tapi, hewan yang sehat lebih baik.” Pendapat yang menyatakan bahwa hewan untuk aqiqah memiliki syarat-syarat yang sama dengan hewan qurban adalah pendapat yang rajih dan paling kuat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan. Required fields are marked *