Seputar Penyapihan – Menyapih adalah suatu proses berhentinya masa menyusui secara berangsur-angsur atau sekaligus. Proses tsb dapat disebabkan oleh berhentinya sang anak dari menyusu pada ibunya. Atau bisa juga berhentinya sang ibu untuk menyusui anaknya. Atau bisa juga keduanya.
Daftatr Isi
Menyempurnakan sampai 2 tahun
Penyapihan juga bagian dari cinta orang tua kepada anak. Anda tak perlu merasa telah menyakitinya jika setelah proses penyapihan terdapat perubahan sikap anak. Semua itu adalah proses yang harus dilalui setiap anak yang menyusui. Disapih merupakan batasan pertama yang harus dilalui anak sebelum Ia melalui batasan- batasan lainnya dalam Syariat Islam. Perubahan-perubahan yang terjadi pada anak adalah awal dari latihan untuk menjadi lebih pemberani dan mandiri.
Lalu, kapan waktu yang tepat untuk menyapih?
Allah memberi petunjuk agar para ibu menyempurnakan penyusuan bayinya selama 2 tahun.
“Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan. …” [QS Al Baqarah: 233]
Sedangkan organisasi kesehatan dunia WHO dan Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI)menyarankan ASI eksklusif selama 6 bulan pertama, kemudian melanjutkan penyusuan sampai 2 tahun dengan memberikannya makanan pendamping ASI (MPSI).
Jadi, tidak ada aturan baku kapan anak harus disapih, tetapi masa 2 tahun penyusuan adalah ukuran kesempurnaannya. Penyapihan dilakukan ketika usia 2 tahun karena secara fisiologis ketika memasuki usia tersebut seorang bayi sudah dapat meninggalkan ketergantungan terhadap air susu ibu. Untuk mendapatkan asupan zat gizi, anak usia dua tahun sudah dapat mengkonsumsi bahan makanan dan minuman bergizi.
Cara menyapih si kecil
Penyapihan adalah pengalaman pertama si kecil, yang mungkin akan membuatnya kecewa dan tidak nyaman. Proses Penyapihan bisa secara bertahap yang terbagi menjadi :
- Natural weaning/penyapihan alami (tidak memaksa dan mengikuti tahapan perkembangan anak) Secara psikologis, dampaknya paling ringan.
- Mother led weaning (ibu yang menentukan kapan saat menyapih anaknya). Penyapihan dengan cara ini yang sangat dibutuhkan adalah kesiapan mental ibu. Kesiapan ibu juga sangat bergantung pada dukungan suami,
- Proses penyapihan mendadak. Proses penyapihan mendadak dilakukan dalam keadaan terpaksa, misalnya ibu mendadak jatuh sakit atau harus pergi jauh sehingga tidak memungkinkan untuk menyusui anak. Atau kondisi anak yang sedang sakit sehingga menolak untuk menyusu.
Hal-hal yang harus diperhatikan dalam proses penyapihan
Hitungan dua tahun penyapihan tidak harus persis bermakna harus mengakhiri penyusuan sama sekali pada bulan ke 24, tetapi masih memungkinkan sedikit mundur atau maju.
- Siapkan fisik dan mental si kecil satu atau dua bulan sebelum menyaapih hingga ia benar-benar sehat dan tenang.
- Berikan perhatian tambahan seperti lebih sering memeluk dan menciumnya, menemaninya bermain agar si kecil tidak merasa kehilangan.
- Lebih aktif berkomunikasi, bercerita dan berdiskusi mengenai masa penyapihan. Berikan contoh melalui buku-buku bacaan dan sebagainya.
- Di hari-hari penyapihan, tunggulah anak sampai merasa haus atau lapar, karena biasanya pada saat itu anak dapat menerima minuman selain ASI.
- Alihkan perhatiannya pada mainan yang ia suka sambil memberikan makanan/minuman lain sehingga anak tidak mencari-cari ASI.
- Saat anak berusia di atas 1 tahun, tawarkan alternative susu yang lain, misalnya susu UHT.
- Hadirkan sosok pengganti ibu yang biasa membuat anak merasa nyaman saat ibu tidak bisa berada di dekatnya, yaitu ayah atau nenek dan kakeknya.
Hambatan yang mengiringi penyapihan
Masalah hambatan penyapihan tidak hanya datang dari anak, tetapi juga dari ibu. Hambatan dari anak akan berupa sikap anak dan perilakunya yang berubah. Anak menjadi rewel dan sering menangis atau berontak, banyak meminta atau menuntut, atau merenggang dengan ibunya. Ia seperti merasa terkurangi haknya dan kecewa.
Semua itu terjadi dalam waktu yang tidak lama. Jika anda tetap memberikan sentuhan kedekatan dan membersamainya, perubahan sikap itu tidak akan sampai pada perasaan sakit hati atau merasa termusuhi. Ia akan tetap merasa mendapatkan cinta dan akhirnya dapat menerima kenyataan bahwa hari-hari tanpa menyusu bisa terlewati dengan tetap asyik.
Hambatan yang paling besar justru datang dari ibu. Pada umumnya masalah yang para Ibu hadapi adalah karena kondisi psikologis Ibu yang belum siap atau tidak tega. Selama bulan-bulan menyusui, ibu menikmati kebersamaan dengan bayinya, merasa bahagia dan nyaman. Proses yang mengikat batin ini mengakibatkan ibu enggan mengakhirinya. Ketika benar-benar harus berakhir, ibu justru yang merasa sedih dan terliputi perasaan bersalah karena memutus kesenangan bayinya untuk menyusu.
Ini semua hanya perasaan. Seorang ibu akan dapat mengalahkan perasaannya jika imbang dengan pikiran rasional mengenai rencana masa depan dan kebaikan keluarganya. Penyapihan bermaksud untuk kebaikan, sebab penyusuan yang terlalu lama dapat menghambat kemandirian anak dan pembiasaan mengkonsumsi makanan yang beragam.
Ayah dan keluarga terdekat harus turut mendukung penyapihan ini. Ketika si kecil ingat akan kebiasaannya menyusu, tugas ayah atau keluarga terdekat adalah mengalihkan perhatiannya, mengajaknya bermain atau mencarikan alternatif pengganti minuman atau makanan sehat yang lezat dan menyenangkan.
Relaktasi
Relaktasi adalah proses menyusui kembali setelah beberapa hari, beberapa minggu, bahkan beberapa tahun berhenti menyusui. Alasan perlu relaktasi antara lain sebagai bagian dari pengobatan rehidrasi pada bayi mencret dan kurang gizi setelah penyapihan, ingin menyusui kembali atau memulai menyusui yang tertunda karena bayi prematur, ibu atau bayi sakit keras.
Yang harus dilakukan agar relaktasi berjalan dengan lancar adalah dengan melakukan stimulasi payudara dan organ-organ produksi ASI dengan cara dipompa atau diperas. Sedangkan ajari bayi untuk kembali menyusu.
Persiapan mental menjadi menjadi sangat penting untuk keberhasilan relaktasi. Anda harus benar-benar siap menghadapi tekanan yang mungkin akan anda alami selama minggu-minggu pertama masa relaktasi ini. Anda juga harus menyiapkan diri menghadapi kemungkinan bayi menolak menyusu langsung dari payudara, atau bayi akan lebih banyak menangis karena merasa frustasi dengan sedikitnya ASI yang keluar.
[Yazid Subakti]
