Parenting Alkautsar – Sebelum nantinya Ayah dan Bunda mengurus dan mendidik anak, ada baiknya terlebih dahulu ayah dan bunda mempersiapkan tekad dan juga hati. Beberapa persiapan tersebut antara lain:
Daftatr Isi
A. Kesalihan Orang Tua Membekas kepada Anak-Anaknya
Ada kisah, ketika Nabi Musa as. berguru kepada Khidhir, salah satu pemandangan aneh bagi Nabi Musa adalah sewaktu Khidhir tiba-tiba menghampiri sebuah dinding dan merobohkannya. Nabi Musa terkejut dan heran, sampai kemudian Khidhir menjelaskan makna dari apa yang diperbuatnya. Perobohan itu ternyata bermaksud untuk melindungi tumpukan harta yang terpendam di bawahnya. Kelak pemilik harta itu akan datang mengambilnya.
Bagaimana Khidir tahu, dan mengapa ia melindungi?
Harta tersebut adalah harta warisan milik anak-anak yatim. Khidir bermaksud melindungi harta itu agar harta itu terlindung sehingga anak-anak yatim yang berhak atasnya dapat mengambilnya kelak. Anak-anak yatim ini dibela oleh Khidhir sebagai keturunan yang terpelihara berkat ayahnya adalah orang saleh.
Kisah ini terdapat dalam Surat Al Kahfi ayat 82.
“………sedangkan ayahnya adalah seorang yang saleh”. (Al-Kahfi: 82)
Menurut Ibnu Katsir, seorang lelaki yang saleh dapat menyebabkan keturunannya terpelihara, dan berkah ibadah yang ia lakukan menaungi keturunanya di dunia dan akhirat. Anak-anak itu memperoleh syafaat dari ayahnya, dan derajat mereka naik ke tingkat yang tertinggi di dalam surga berkat orang tua mereka, agar orang tua mereka senang dengan kebersamaan mereka di dalam surga.
Sa’id Ibnu Jubair telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa kedua anak itu terpelihara berkat kesalehan kedua orang tuanya, tetapi tidak ada kisah yang menyebutkan bahwa keduanya berlaku saleh. Dalam keterangan terdahulu disebutkan bahwa orang tua tersebut adalah kakek ketujuhnya.
Itulah alasan terpenting, mengapa orang tua harus salih. Orang tua yang mensalihkan dirinya, secara tidak langsung sudah mensalihkan atau menjadikan anak-anaknya terpelihara.
B. Menyiapkan Hati
Seperti apakah profil hati seorang ayah atau ibu pendidik bagi bayi dalam rahimnya? Hati seorang ayah atau ibu pendidik bayinya dalam rahim adalah penuh yakin dan tawakkal.
- Yakin
Jiwa peragu adalah jiwa-jiwa syetan yang dibisikkan ke dalam dada manusia. Bisikan inilah yang menjadikan manusia waswas, pesimis, dan tidak yakin akan setiap langkah ikhtiarnya. Sementara itu, apa yang kita lakukan terhadap bayi dalam kandungan adalah sesuatu yang masih belum memungkinkan terlihat dengan mata.
Terlalu banyak yang belum kita ketahui tentang bayi yang belum terlahir ke dunia. Ia adalah makhluk di awal penciptaan yang belum kita sentuh, kecuali kita bimbing dengan berbekal rasa yakin.
Oleh karenanya, seorang ibu pendidik anak-anaknya adalah sosok yang hati dan pikirannya bersih dari keraguan dan waswas. Jiwanya yakin dan optimis bahwa apa yang diperjuangkan akan berakhir pada keberhasilan yang waktunya entah kapan terserah Allah menghendakinya.
Yakin, berarti dalam hati sangat mempercayai bahwa apa yang kita ikhtiarkan akan menemui keberhasilannya jika memang Allah menghendaki, yang juga dengan rasa percaya bahwa apa yang Allah tetapkan adalah yang terbaik.
- Tawakkal
Ada cuplikan kisah di zaman Rasulullah SAW. Seorang sahabat yang menemui beliau tiba-tiba pergi meninggalkan untanya begitu saja tanpa diikatkan pada sesuatu, seperti pohon, tonggak dan lain-lain, lalu ditinggalkan begitu saja.
Beliau SAW. bertanya: “Mengapa tidak kamu ikatkan?” Ia menjawab: “Saya sudah bertawakkal kepada Allah.” Rasulullah SAW tidak setuju, lalu bersabda, “Ikatlah dulu lalu bertawakkallah.“
Itu kisah tentang memaknai tawakkal.
Tiadalah sesuatu di dunia ini kecuali dalam penguasaan Allah. Anak-anak yang kita didik adalah milik Allah dalam kekuasaan-Nya. Dia yang berkehendak menjadikan pasangan memiliki anak ataukah tidak. Dia yang berkehendak janin dalam kandungan tetap hidup atau mengalami keguguran dan dia pula yang berkehendak bayi-bayi yang terlahir itu akan terus dihidupkan ataukah menemui ajalnya sejak dini.
Maka, seorang ibu dan ayah perlu memiki sifat tawakkal. Anda menyerahkan diri kepada Allah sesudah melakukan usaha serta semua ikhtiar yang memungkinkan dilakukan. Anda menjaga kesehatan dan mengkonsumsi makanan bergizi adalah ikhtiar agar bayi dalam kandungan tumbuh sehat. Selanjutnya serahkanlah kepada Allah yang menghendaki takdir mengenai keadaan bayi itu.
Tawakkal merawat kehamilan dan mendidiknya dalam rahim artinya menyerahkan kepada Allah apa-apa mengenai hasil dari rawatan dan didikan setelah semua pengetahuan, keterampilan, dan metode mendidik bayi dalam rahim kita lakukan. Tawakkal ini menguatkan batin dan keyakinan bahwa Allah menjadi penjamin dan penentu atas apa yang kita lakukan, sekaligus menangkal rasa kecewa dan kecil hati sekiranya semua ikhtiar itu hasilnya tidak seperti yang kita inginkan.
C. Niat yang mulia
Mari kita belajar dari Keluarga Imran dan Keluarga Ibrahim, tentang niat yang mulia saat mengharap keturunan.
Allah mengabadikan kisah keluarga ini dalam surat Ali Imran (keluarga Imran). Telah lama Imran berkeinginan memiliki anak laki-laki. Mengapa mendambakan anak laki-laki? Karena mereka menginginkan anak ini nanti menjadi pemakmur Baitul Maqdis. Isterinya selalu berdoa dan terus berikhtiar.
Doa dan nazar ibu yang sabar ini diabadikan dalam QS Al-Imran ayat 35 yang artinya,
(Ingatlah), ketika isteri ‘Imran berkata: “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku menazarkan kepada Engkau anak yang dalam kandunganku menjadi hamba yang saleh dan berkhidmat (di Baitul Maqdis). Karena itu terimalah (nazar) itu dari padaku. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”.
Doa tulus ini terjawab oleh Allah dengan kelahiran seorang bayi perempuan, dan memberinya nama Maryam. Meskipun Maryam perempuan, Imran tetap bersyukur dan memelihara Maryam sebaik mungkin sebagai amanah dari Allah.
Sepeninggal Imran dan isterinya, Maryam dijaga oleh Zakariya, seorang hamba soleh yang sangat terpercaya. Selama dalam penjagaannya, banyak keistimewaan yang berkaitan dengan keberadaan Maryam.
Ketika Maryam telah dewasa, Allah menunjukkan kekuasaannya dengan memberikan kehamilan kepada maryam tanpa suami. Maryam benar-benar hamil dalam keadaan suci dengan penuh syukur dan menjaga kehamilannya. Di akhir kehamilan ini, Maryam semakin mulia dengan kelahiran seorang calon Nabi, yaitu Isa as.
Sungguh Imran dan isterinya mengawali semuanya dengan niat yang mulia. Maka Allah kemudian menjadikan keturunan mereka mulia.
D. Tekad yang Kuat
Membimbing bayi dalam rahim tidak seperti mengajari bayi yang sudah terlahir. Jika mengajari bayi yang sudah terlahir akan dengan nyata tampak hasil, respon, dan perubahannya, maka bayi dalam kandungan tidaklah demikian. Bayi dalam kandungan merespon, tetapi di luar pengamatan kita. Ia menerima bimbingan kita, tetapi tidak tampak nyata di depan mata kita.
Kenyataan ini membuat sebagian orang ragu, bahwa perlakuan orang tua terhadap janin dalam kandungan benar-benar memiliki dampak kebaikan. Beberapa orang yang sudah mencoba tidak melanjutkannya, karena rasa putus asa karena tidak adanya petunjuk yang dapat terlihat dengan mata bahwa apa yang dilakukannya benar-benar membawa hasil.
Mendidik bayi dalam rahim adalah tugas mulia seorang ayah dan ibu, yang hasilnya nyata dengan izin Allah. Ia tak tampak mata di awalnya tetapi akan terasa dan dapat terbukti secara ilmiah. Untuk itu ia memerlukan niat, yaitu Anda menyengaja melakukannya untuk kebaikan bayi dan masa depannya.
Selama masa kehamilan, ada saat-saat seorang ibu akan mengalami masa-masa ketidakstabilan fisik maupun psikis. Maka, tekad kuatlah yang menjadi bahan bakar bahwa Anda tetap bersemangat mendidik janin dalam keadaan sulit dan terbataspun.
Jadi, Anda perlu memiliki tekad yang kokoh, agar tetap bertahan membimbing bayi dalam rahim seperti yang anda rencanakan. Tetaplah optimis bahwa ikhtiar akan menemui hasil yang gemilang. Insya Allah.
[Yazid Subakti]


