Mengajak Janin Bicara

Mengajak Janin Bicara

Parenting Al-Kautsar – Ketika semua perbincangan anda sudah dapat ditangkap oleh pendengaran bayi, maka sejak saat itu pula seharusnya anda mengajak janin bicara. Dalam sehari, usahakan selalu ada pembicaraan yang memang anda khususnya untuk bercakap-cakap dengan janin anda, meskipun waktunya hanya beberapa menit.

  1. Mengenalkan Bahasa

Bercakap-cakap dengan janin dapat bermakna mengajarkan Bahasa kepadanya. Selama masa hamil, gunakan Bahasa yang baik, dengan pilihan kata yang lebih berhati-hati mengucapkannya. Usahakan jangan ada pilihan kata yang buruk atau kasar, dan intonasi yang menghentak atau menghardik.

Ajaklah janin bercakap-cakap setiap kali anda melakukan melihat sesuatu atau mengomentari sesuatu.

Saat pagi-pagi keluar rumah anda melihat matahari bersinar hangat, elus atau tepuk-tepuklah perut dengan lembut sambal mengatakan, “ini hangatnya matahari, ciptaan Allah yang indah dan menakjubkan”

Ketika anda merasa lapar, usap perut dan katakana, “Ibu merasa lapar dan harus makan agar kita tetap sehat dan kuat”

Saat anda membuka jendela dan melihat pemandangan yang indah, usap-usap perut sambal mengatakan, “Subhanallah, ada pemandangan yang indah. Ada pohon, bunga, dan kupu-kupu yang cantic beterbangan”

Saat mandi menggunakan air dingin, rabalah perut anda dengan mengatakan padanya, “ini dinginnya air yang membasuh perut dan seluruh tubuh”.

Dekatkan lampu senter ke perut, kemudian usap perut sambal mengatakan, ini cahaya lampu, terang dan bermanfaat untuk kita”

Dan contoh lainnya. Anda tak perlu ragu, atau merasa aneh dengan perbuatan ini sekalipun di rumah anda belum umum atau belum paham maksud perbuatan anda. Mintalah suami menjelaskan, bahkan terlibat kegiatan stimulasi ini.

  1. Mengenalkan aktivitas

Pembicaraan dengan janin juga dapat bermakna mengenalkan aktivitas harian. Ajaklah janin berbicara sambal anda melakukan aktivitas ringan harian.

Ketika hari mulai petang dan berkumandang adzan maghrib, jawablah adzan itu lalu berdoalah. Kemudian usap-usap perut sambal mengatakan kepadanya, “Hari sudah petang, kita akan salat magrib”. Ketika hendak salat magrib, katakana, “kita solat maghrib, tiga rakaat karena perintah Allah” dan ketika salat selesai, katakana, “Salat sudah selesai, kita berdoa kepada Allah”, kemudian lantunkan doa-doa.

Ketika hendak makan, usaplah perut kemudian katakana, “kita akan makan, makanan halal dan bergizi. Sebelum makan, kita berdoa dulu” lalu ucapkanlah doa sebelum makan. Begitu makan selesai, katakana di dekat perut, “Makan sudah selesai, kita berdoa lagi” kemudian lantunkan doa setelah makan.

Ketika hendak tidur, usapkan perut beberapa kali sambal mengatakan, “Malam ini kita akan tidur. Kita berdoa dulu….” Lalu ucapkan doa menjelang tidur. Begitu terbangun, katakana lagi sambal mengusap perut “Hari sudah pagi, kita bangun tidur sambal berdoa,…” dan ucapkan doa bangun tidur.

Lakukan hal-hal semisal itu pada aktivitas yang lain. Anda tidak diharuskan mengajak dialog janin pada semua aktivitas dan terus menerus. Cukup beberapa jenis aktivitas dan di saat anda dapat senggang melakukannya.

  1. Membacakan kisah

Membacakan kisah juga bermakna mengenalkan Bahasa dan kosakata kepada janin, sekalipun ia tak akan langsung memahami dan menyimpannya seperti anak yang telah lahir pada umumnya. Hanya saja, pada pembacaan kisah terdapat konten atau muatan sejarah yang mengandung pesan kebaikan, nasehat, atau peringatan.

Ambil buku kisah yang di dalamnya terdapat cuplikan-cuplikan dialog. Misalnya kisah adzan terakhir sahabat nabi Bilal bin Rabah, kisah keislaman Umar bin Khattab, kisah Hijrah ke Madinah, Kisah Nabi Ibrahim menghadapi Namrud, dan sebagainya.

Bacakan buku kisah tersebut dengan pengucapan artikulasi yang jelas, menggunakan nada dan tekanan intonasi sesuai karakter tokoh atau kejadian dan alur ceritanya. Misalnya suara Umar bin Khattab yang berwibawa, suara Bilal yang kalem, suara kuda dan unta rombongan Hijrah, dan riuh orang-orang Madinah menyambut kedatangan Rasulullah.

Setelah membacakan, akhiri dengan kesimpulan atau petikan hikmah dan pesan kisah. Misalnya, “Nabi Ibrahim adalah hamba yang sangat taat kepada Allah. apapun ancaman yang dihadapi, ia tetap menolak untuk patuh kepada Namrud”

Hindari membacakan kisah mistis yang mengandung mitos menyesatkan, kisah yang menggambarkan adegan kekerasan, menampilkan dialog dengan perkataan kasar, atau cerita yang mengandung kebohongan. 

[Yazid Subakti]