Parenting – Tanpa harus berprofesi sebagai seorang penulis, setiap orang bisa berjuang melalui pemikiran yang dituangkan dalam tulisan. Sampaikan kepada anak bahwa di masa usianya yang masih sekolahpun sangat memungkinkan baginya untuk menulis.
Qatadah dalam tafsir al-Qurthubi mengatakan, “Menulis adalah nikmat termahal yang diberikan oleh Allah. Ia juga perantara untuk memahami sesuatu. Tanpanya, agama tidak akan berdiri, kehidupan menjadi tidak terarah.”
Setelah perang Badar usai, Rasulullah membawa 70 orang tawanan Quraisy Mekkah. Mereka dibebaskan dengan satu tebusan, yaitu setiap tawanan diminta mengajarkan membaca dan menulis kepada 10 anak-anak dan orang dewasa. Bayangkan, setiap satu orang dari 70 orang tawanan ini akan mengajari 10 orang. Maka setelah pembebasan tawanan itu tersisa 700 orang Madinah yang bebas dari buta huruf. Selanjutnya, tujuh ratus orang ini diminta kerelaannya mengajarkan kepada sesamanya yang masih buta huruf hingga kaum muslimin hampir seluruhnya terbebas dari kebodohan.
Mengapa Menulis?
Menulis itu menuangkan ide atau gagasan, menebar opini, berbagi pengetahuan dan pengalaman, serta menginspirasi orang. Terkadang ada pesan yang tidak bisa terucap dengan kata-kata sehingga harus menyampaikannya lewat tulisan. Jika semua pikiran hanya tersampaikan melalui perkataan verbal, maka kata-kata ini lebih cepat terlupakan. Pepatah mengatakan, “Apa yang kita tulis akan abadi, karena apa yang kita ucapkan akan cepat terlupakan”.
Dengan membaca tulisan, para pembaca bertambah pengetahuan dan wawasannya, lalu tergerak untuk berubah atau berbuat sesuatu. Telah banyak orang mengubah pandangan hidup gara-gara membaca sebuah tulisan. Banyak orang jadi percaya diri setelah membaca tulisan. Bahkan, tidak sedikit orang mengubah bertaubat karena terpengaruh oleh tulisan yang ia baca.
Jumlah penulis muslim masih harus diperbanyak. Selain efeknya dahsyat, menyampaikan kebenaran melalui tulisan juga memiliki kelebihan, yaitu,
- Tidak terikat waktu dan tempat. Menulis bisa di manapun dan kapanpun.
- Tidak memerlukan energi yang besar. Satu-satunya energi fisik yang keluar saat menulis adalah mengetik. Di luar itu, anda mengeluarkan energi pikiran saja.
- Tidak mengeluarkan biaya. Tidak ada biaya yang saat menulis. Bahkan sebaliknya, menulis dapat mendatangkan uang ketika tulisan terpublikasikan oleh media atau penerbit profesional.
- Karya tersimpan dan dapat kita baca kapanpun. Tulisan yang dicetak atau dalam bentuk digital dapat dibuka kapanpun dan oleh siapapun, tak terbatas waktu. Bahkan penulis meninggalpun karyanya masih tetap ‘hidup’ dan dibaca orang.
- Dapat merevisi atau menyesuaikan isinya). Ini adalah keunggulan tulisan dibanding ta’lim atau tabligh.
- Mudah berkembang dalam bentuk diskusi dan tanggapan. Inilah salah satau yang paling pendakwah inginkan, yaitu gagasan dan pemikirannya menjadi mendapat respon. Artinya, penulis (pendakwah) berkesempatan mempengaruhi pikiran orang pada tahap lanjutan.
Meneladani para mujahid pena
Ada begitu banyak teladan pejuang ilmu yang mendedikasikan hidupnya melalui tulisan. Sebagian dari mereka bahkan mengorbankan seluruh waktunya untuk menulis, berjuang melalui penanya. Siapa yang tak kenal Imam Bukhari, Imam Ahmad, Imam Muslim, Imam Abu Dawud, Imam Ibnu Majah dan Imam At-Tirmidzi? Mereka menghafal, mempelajari, dan menulis kembali hadits yang telah mereka pilih hingga hari ini kita dengan mudah memakainya sebagai rujukan.
Ath-Thabari, seorang ahli sejarah dan ahli tafsir terkemuka, mengisi hidupnya dengan menulis setiap hari 40 lembar selama 40 tahun. Ibnu Taimiyah menyelesaikan setiap buku dalam waktu satu pekan, bahkan pernah menulis satu judul buku penuh dalam satu kali duduk. Imam Ibnu al-Jauzy telah menulis 1000 judul buku tebal dan berjilid-jilid.
Al Farabi menulis konsep dasar matematika, sains, ilmu politik dan tata negara. Ibnu Sina menulis 450 judul buku bertema filsafat dan kedokteran hingga terkenal sebagai bapak kedokteran modern. Semua dokter sampai hari ini membaca bukunya yang berjudul Al-Qanun fit Tibb (The Canon of Medicine atau The Canon).
Imam Bukhari sering tiba-tiba bangun dari tidurnya, menyalakan lampu sebentar, menuliskan hadits yang seketika itu ia ingat, kemudian melanjutkan tidurnya kembali.
Muhammad bin Yusuf berkata, “Suatu malam, aku berada di rumah Muhammad bin Isma’il Al-Bukhori. Aku memperhatikannya bangun, lalu ia menyalakan lampu untuk mengingat sesuatu, dan mencatatnya sebanyak delapan belas kali.”
Ibnu Taimiyah sering keluar masuk penjara. Tetapi ia tak pernah berhenti menulis. Tulisan-tulisannya sangat terasa hidup dan mengena. Sayyid Quthb juga menyelesaikan penulisan kitab ‘Fi Dzilalil Qur’an’ di dalam penjara. Karyanya ini sudah sampai pada generasi sekarang. Pemerintah orde lama pernah menangkap Buya Hamka. Tetapi di balik jeruji besi masih menghasilkan tafsir AL Azhar yang sangat terkenal itu.
[Yazid Subakti]
___________________________
Bunda, udah tau belum kalo ada jasa aqiqah di Jogja yang praktis dan ekonomis, Aqiqah Al-Kautsar.
Aqiqah Al-Kautsar adalah layanan jasa aqiqah Jogja terbaik sejak 2012 dan sudah dipercaya oleh lebih dari 11.000 sohibul. Nah bagi Bunda yang berdomisili di Jogja dan sudah mulai memasuki masa HPL, Aqiqah Al-Kautsar bisa jadi rekomendasi layanan aqiqah Jogja yang praktis.
Jasa aqiqah Jogja Al-Kautsar menyediakan banyak pilihan menu. Daging kambing aqiqah diolah menjadi berbagai menu lezat, mulai dari masakan nusantara, masakan timur tengah, hingga western. Nah Bunda bisa memilih sesuai dengan selera Bunda dan keluarga.
Untuk pemesanan, Bunda bisa hubungi kami di 089603897933 atau datang langsung ke kantor kami di Jl. Kaliurang Km 4,5 Tawangsari CT II D2, Sleman, DIY.

