Selamat datang Masa Amrad

Selamat datang Masa Amrad

Masa AmradPeralihan masa dari kanak-kanak menuju masa puber kadang menyisakan perasaan campur aduk di hati orang tua.

  1. Ketika masa kanak-kanak telah pergi 

Satu sisi orang tua gembira karena anaknya tumbuh beranjak dewasa seperti yang selalu dibayangkan, tetapi disisi lain juga sedih karena masa kanak-kanaknya yang lucu dan menggemaskan telah pergi. Sebentar lagi orang tua akan kehilangan teman yang selama ini menjadi pemicu tawa gembira, tetapi segera menemukan pendamping baru yang bijak dan pengertian. Masa kanak-kanak akan pergi dan seorang calon remaja sudah di hadapan. Suara percakapannya berubah, bahasanya berbeda, postur dan bentuk tubuh tak lagi sama, serta sifat-sifatnya juga tak seperti dulu lagi. 

Ini keniscayaan yang telah disadari oleh semua orang tua. Anehnya, meskipun para orang tua menanti-nanti datangnya masa puber anaknya, mereka juga yang merasa cemas menghadapinya. Hamper semua orang tua mengaku khawatir, merasa serba salah, dan kebingungan menghadapi pubertas anak pertamanya. Mereka takut salah memperlakukannya. 

Jika ada adalah orang yang merasa khawatir menghadapi anak puber, makan anda termasuk tipe orang yang bertanggung jawab jika kekhawatiran itu mendorong anda untuk berburu pengetahuan dan terus belajar. Kekhawatiran atau kecemasan yang tidak bertanggung jawab adalah jika hanya mendorong seseorang pada sikap abai dan putus asa, lalu menganggap bahwa perubahan fase dari anak-anak menuju remaja tak lain hanyalah peristiwa alami biasa, seperti air mengalir yang akan berjalan dengan sendirinya.    

Kita harus dapat memaknai bahwa berlalunya  masa kanak-kanak membawa konsekuensi baru. Kita akan menjadi orang tua baru juga, yaitu ayah dan ibu yang bukan lagi mengasuh, tetapi mendampingi seorang anak yang sudah mempertanggungjawabkan sendiri semua perbuatannya. Ada perubahan cara menghadapinya, juga perubahan tekanan. di masa awal puber ini, kita lebih tegas dan terbuka kepadanya. 

  1. Apa itu puber?   

Puber atau pubertas berasal dari bahasa Inggris puberty. Kata asalnya adalah bahasa Latin Pubescence  dari  kata  pubis  ( pubic  hair)  yang  berarti  rambut  (bulu)  pada daerah  kemaluan  (genital). Jadi, pubescence  berarti  perubahan  yang dibarengi   dengan tumbuhnya rambut pada daerah kemaluan atau pubis pada saat anak sudah mulai masuk fase remaja awal.   

Jadi,  pada masa pubertas ini  seorang  anak  mengalami  perubahan  fisik,  psikis  dan kematangan  fungsi  seksual.  Pertumbuhan  dan perkembangan  berlangsung  dengan  cepat.  Anak  perempuan ditandai   dengan  menstruasi  pertama,  sedangkan  pada  laki- laki  ditandai    dengan  mimpi basah.  

Stanley  Hall  (1991) menganggap puber  sebagai masa topan badai dan stress ( Storm and  Stress).  Karena  mereka  telah  memiliki  keinginan  bebas  untuk  menentukan nasib  sendiri,  kalau  terarah dengan  baik  maka  ia  akan  menjadi  seorang  individu yang  memiliki  rasa  tanggung  jawab,  tetapi  kalau  tidak  terbimbing  maka  bisa menjadi seorang yang tak memiliki masa depan  dengan baik. 

  1. Memutus lingkaran setan: mulailah menjadi orang tua yang belajar 

Semua orangtua pernah mengalami masa-masa awal puber. Tetapi tidak semuanya mendapat perlakuan baik dari lingkungan atau orang tuanya dan mendapatkan pelajaran indah di masa-masa itu. Bahkan banyak trauma psikologis masa lalu justru terjadi pada masa-masa puber sehingga tidak menganggap fase ini sebagai bagian dari catatan kehidupan yang indah. 

Itulah sebabnya, para orang tua di masa kini masih banyak yang awam, cemas,  atau diliputi perasaan  bersalah ketika mendampingi anaknya menghadapi masa awal puber. Para orang tua memang dulunya di masa awal puber tidak mendapat pelajaran tentang pubertas yang memadai, sehingga saat ini pun menjadi orang tua yang kurang percaya diri mendampingi anaknya puber. Lingkaran setan ini akan terus berputar jika hari ini Anda tidak bertekad menjadi orang tua pendamping puber yang baik bagi anak Anda. Jika hari ini belajar dan memberi perlakuan dan pelajaran pubertas kepada anak dengan baik, maka kelak anaknya akan melakukan hal yang sama. Ia mendapatkan perlakuan dan pelajaran berharga dari Anda, lalu kelak memberi perlakuan dan pelajaran pubertas yang baik bagi anak-anaknya. 

Anda dapat menghadiri seminar-seminar atau kajian tentang pubertas, berkonsultasi atau bertanya kepada psikolog dan praktisi pubertas. Atau setidaknya membaca buku-buku yang mengulas cara mendampingi anak menghadapi masa puber.

  1. Badai pubertas  

Mari kita menjadi orang tua yang mudah memahami bahwa di masa puber anak mengalami gejolak yang serba tidak menentu baginya. Ada gejolak perasaan, pemikiran, ideology, harga diri, bahkan sampai pada identitasnya. Ia merasakan beberapa hal yang memuncak dan butuh penyelesaian. 

  • Khayalan dan fantasi 

para remaja laki-laki sering menghayal atau berfantasi tentang prestasi atau karir. Pada remaja putri, yang dikhayalkan adalah rumah tangga atau hubungan. Khayalan dan fantasi sering terjadi sebagai pelarian dari situasi yang tidak memuaskan remaja. Tentu saja bisa negatif bisa positif. Khayalan atau fantasi berlebihan sampai lepas kontrol membuat anak kehilangan jati diri dan akhirnya bisa menjadi gangguan jiwa.  

  • Gelisah  

Remaja mengalami kegelisahan karena banyak keinginan yang akhirnya tidak sesuai dengan kenyataan. Mereka juga mengkhawatirkan hal-hal yang belum terjadi sehingga hatinya tidak tenang. Perasaan selalu kurang puas, hasrat selalu kurang tersalurkan, kata hati selalu tak tersampaikan atau komunikasi tersumbat sering menyelimuti diri mereka.  

  • Pertentangan 

terhadap keinginannya sendiri, remaja sering mengalami pertentangan batin. Ia mengalami   kebingungan  bahwa apa yang dianggapnya kurang baik masih juga ingin ia tinggalkan. Sebaliknya bisa jadi ia sudah mengetahui keburukan tetapi masih juga tak berhenti melakukannya. 

Di luar konflik batin, remaja juga sering bertentangan dengan orang lain. Ia menjadi kritis dan berani mengoreksi kebijakan orang tua jika tidak bersesuaian dengan kebenaran yang ia yakini. Ia mengkritik kebiasaan masyarakat, mengingkari peraturan  sekolah dan ingin mengubah pola pertemanan. 

  • Keingintahuan 

Anak remaja memiliki keinginan besar untuk mengetahui  apapun yang belum mereka ketahui, keinginan merasakan, atau keinginan mengalami. Mereka  ingin  mengetahui anatomi tubuh lawan jenis dan apa yang terjadi dengannya, lalu iseng membuka gambar atau video yang ternyata porno. Keingintahuan juga berujung pada keinginan untuk mencoba. Mereka ingin merasakan apa yang biasa ia lihat dilakukan orang dewasa seperti  merokok, lalu ia pun mencoba merokok  secara sembunyi- sembunyi. Mereka juga ingin merasakan seperti apa pria dicintai wanita dan wanita dicintai pria, kemudian diam-diam menjalin hubungan asmara.  

Keingintahuan ini sangat penting baginya, orang tualah yang menjadi pengarah agar semua itu tidak menjadikan anak remaja terjerumus perbuatan negatif yang dilarang oleh Allah.  

  • Kenekatan 

Ciri lain yang khas pada remaja adalah nekat. Anak remaja sudah menjangkau pikiran seperti orang dewasa, tetapi kurang peka dengan risiko yang akan ia hadapi. Nekat kabur dari rumah karena konflik dengan orang tua, nekat kabur dari sekolh karena konflik dengan guru, nekat bunuh diri, nekat menjalin hubungan cinta terlarang, tawuran, atau geng motor adalah wujud nekatnya remaja. 

Jika terarah secara positif, remaja pula yang akan nekat menjadi penghafal Al-Qur’an, nekat menjadi atlet internasional, atau nekat mengikuti kompetisi sains.

 

[Yazid Subakti]