Memperbanyak Hafalan

Memperbanyak Hafalan

Parenting – Keutamaan memperbanyak hafalan AL Qur’an. Salah satu ciri orang yang luas ilmu agamanya adalah mereka yang memiliki banyak hafalan al-Quran. Sebab, ilmu-ilmu itu sumber utama memang berasal dari AL-Qur’an. 

 Allah berfirman,

Bahkan, Al Quran itu adalah ayat-ayat yang nyata, yang ada di dalam dada orang-orang yang diberi ilmu.(QS. al-Ankabut: 49).

Kita mendorong anak menghafal Al-Qur’an kerana Allah memberikan banyak keutamaan bagi hamba-Nya yang bersedia menjadi penghafal Al-Qur’an 

Salah satu kemuliaan yang seorang penghafal Al-Qur’an dapatkan adalah ia berhak untuk memimpin shalat berjamaah daripada dengan muslim yang lain. 

Dari Abu Mas’ud ra, Nabi SAW bersabda,

Yang paling berhak jadi imam adalah yang paling banyak hafalan al-Quran-nya. Jika dalam hafalan quran mereka sama, maka dahulukan yang paling paham dengan sunnah… dan seseorang tidak boleh menjadi imam di wilayah orang lain.” (HR. Ahmad, Muslim, dan yang lainnya)

Dalam hadits lain, dari Ibnu Umar, beliau bercerita, ketika para muhajirin pertama tiba di Quba, sebelum kedatangan Rasulullah SAW, yang menjadi imam mereka shalat adalah Salim mantan budak Abu Hudzaifah. Dan beliau adalah orang paling banyak hafalan qurannya. (HR. Bukhari )

  • Ketika meninggal, mayatnya tetap berhak dimuliakan 

Bahkan sudah meninggal pun, jenazah penghafal Al-Qur’an memiliki status lebih mulia daripada jenazah lain yang bukan penghafal. 

Ada kisah di zaman perang uhud yang membuktikan bahwa Rasulullah lebih memuliakan jenazah penghafal Al-Qur’an. Ketika itu, banyak korban gugur sebagai syuhada. Ketika hendak menguburkan, Rasulullah SAW lebih mengutamakan  jenazah penghafal Al-Qur’an. 

Kemudian Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhuma mengisahkan, Nabi SAW menggabungkan dua jenazah uhud dalam satu kain kafan. Setiap hendak memakamkan, beliau tanya, “Siapa yang paling banyak hafalan qurannya?

Kemudian Nabi SAW memposisikan yang paling banyak hafalannya di posisi paling dekat dengan lahat. Lalu beliau bersabda, ‘Saya akan menjadi saksi bagi mereka kelak di hari kiamat’. (HR. Bukhari dan at Tirmidzi)

  • Diutamakan untuk menjadi pemimpin 

Kepemimpinan umat  menempatkan penghafal Al-Qur’an pada kedudukan lebih tinggi daripada yang lainnya. Jika dalam pemilihan pemimpin terdapat beberapa orang yang sama-sama memiliki kemampuan, maka yang berhak terpilih adalah yang paling banyak hafalan Al-Qur’an-nya. 

Ada sebuah kisah, ketika Umar ra menjadi khalifah, beliau menunjuk Nafi’ bin Abdul Harits untuk menjadi gubernur di Mekah. Suatu ketika, Umar bertemu Nafi’ di daerah Asfan.

Siapa yang menggantikanmu di Mekah?” tanya Umar.

Ibnu Abza.” Jawab Nafi’.

Siapa Ibnu Abza?” tanya Umar.

Salah satu mantan budak di Mekah.” Jawab Nafi’.

Mantan budak kamu jadikan sebagai pemimpin?” tanya Umar.

Dia hafal al-Quran, dan paham tentang ilmu faraid.” Jawab Nafi’.

Kemudian Umar mengatakan, bahwa Nabi SAW pernah bersabda, “Sesungguhnya Allah mengangkat sebagian kaum berkat kitab ini (al-Quran), dan Allah menghinakan kaum yang lain, juga karena al-Quran.” (HR. Ahmad dan  Muslim)

  • Mendapat kedudukan lebih baik di surga 

Kedudukan manusia kelak di surga ternyata menyesuaikan dengan banyaknya ayat yang ia hafal. Semakin banyak ayat yang dihafal, semakin tinggi dan mulia kedudukannya. Jadi, ada harapan besar anak akan mendapat kedudukan tinggi di surga jika ia adalah seorang penghafal Al-Qur’an.  

Dari Abdullah bin Amr ra, Nabi SAW bersabda,

ditawarkan kepada penghafal al-Quran, “Baca dan naiklah ke tingkat berikutnya. Baca dengan tartil sebagaimana dulu kamu mentartilkan al-Quran ketika di dunia. Karena kedudukanmu di surga setingkat dengan banyaknya ayat yang kamu hafal.” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi)

  • Penghafal Al-Qur’an berteman Malaikat

Tidak semua orang memiliki pesona yang membuat malaikat bersedia untuk berteman dengannya. Tetapi Nabi menjamin bahwa pembaca sekaligus penghafal Al-Qur’an akan mendapat teman malaikat dalam hidupnya. 

Dari Aisyah ra, Nabi SAW bersabda,

Orang yang membaca dan menghafal al-Quran, dia bersama para malaikat yang mulia. Sementara orang yang membaca al-Quran, dia berusaha menghafalnya, dan itu menjadi beban baginya, maka dia mendapat dua pahala. (HR. Bukhari)

  • Mendapat mahkota dan pakaian kemuliaan di akhirat 

Dalam suasana yang sangat menegangkan di akhirat, orang-orang kebingungan dan panic. Mereka mencari pertolongan dan berharap Allah bermurah hati kepadanya. Tetapi penghafal Al-Qur’an justru mendapat mahkota dan pakaian kemuliaan dari-Nya. 

Dari Abu Hurairah ra, Nabi SAW bersabda,

Al-Quran akan datang pada hari kiamat, lalu dia berkata, “Ya Allah, berikan dia perhiasan.” Lalu Allah berikan seorang hafidz al-Quran mahkota kemuliaan. Al-Quran meminta lagi, “Ya Allah, tambahkan untuknya.” Lalu dia diberi pakaian perhiasan kemuliaan. Kemudian dia minta lagi, “Ya Allah, ridhai dia.” Allah-pun meridhainya. Lalu dikatakan kepada hafidz quran, “Bacalah dan naiklah, akan ditambahkan untukmu pahala dari setiap ayat yang kamu baca.” (HR. At Tirmidzi).

  • Orang tuanya akan diberi mahkota cahaya kelak di akhirat

Anak yang menghafal Al-Qur’an dapat membawa kemuliaan bagi orang tuanya kelak di  akhirat. Orang tua mulia di hadapan Allah karena telah mendidik anaknya mencintai Al-Qur’an, kemudian mendapat mahkota cahaya sebagai penghargaan. 

Dari Buraidah ra, Nabi SAW bersabda,

Barang siapa menghafal al-Quran, mengkajinya dan mengamalkannya, maka Allah akan memberikan mahkota bagi kedua orang tuanya dari cahaya yang terangnya seperti matahari. Dan kedua orang tuanya akan diberi dua pakaian yang tidak bisa dinilai dengan dunia. Kemudian kedua orang tuanya bertanya, “Mengapa aku sampai diberi pakaian semacam ini?” Lalu disampaikan kepadanya, “Disebabkan anakmu telah mengamalkan al-Quran.” (HR. Hakim).

Dalam riwayat lain, dari Abu Hurairah ra, Nabi SAW bersabda,

Al-Quran akan datang pada hari kiamat seperti orang yang wajahnya cerah. Lalu bertanya kepada penghafalnya, “Kamu kenal saya? Sayalah membuat kamu bergadangan tidak tidur di malam hari, yang membuat kamu kehausan di siang harimu… ” kemudian diletakkan mahkota kehormatan di kepalanya, dan kedua orang tuanya diberi pakaian indah yang tidak bisa dinilai dengan dunia seisinya. Lalu orang tuanya menanyakan, “Ya Allah, dari mana kami bisa diberi pakaian seperti ini?” kemudian dijawab, “Karena anakmu belajar al-Quran.” (HR. Thabrani).

  • Hatinya senantiasa terawat  

Maksud hati yang terawatt adalah hati yang dalam keadaan sehat dan terhindar dari kotoran serta penyakit hati. Hati sehat ini memungkkinkan seorang hamba mudah menerima, memahami, mengambil hikmah dari semua ketentuan ALlah. Hati yang terawatt juga bermakna hati yang terjaga dari kotoran dan kerusakan-kerusakan yang menjerumuskan.   

Dalam hadits yang oleh Ibnu Abbas, Rasulullah SAW bersabda, 

“Orang yang tidak mempunyai hafalan Al Quran sedikitpun adalah seperti rumah kumuh yang mau runtuh”. (HR at Tirmidzi).

  • Mendapat penghormatan dari Rasulullah SAW

Di hadapan rasulullah SAW, orang yang dihargai adalah pemilik hafalan Al-Quran paling banyak. Semakin banyak hafalan, Rasulullah SAW semakin menyukainya. 

Dari Abi Hurairah ra, ia berkata: Rasulullah SAW mengutus satu utusan yang terdiri dari beberapa orang. Kemudian beliau SAW mengecek kemampuan membaca dan hafalan Al Qur’an mereka: setiap laki-laki dari mereka ditanyakan sejauh mana hafalan Al-Qur’an-nya. Kemudian seseorang yang paling muda ditanya oleh Rasulullah SAW :”Berapa banyak Al Quran yang telah engkau hafal, hai Fulan?” ia menjawab: aku telah menghafal surah ini dan surah ini, serta surah Al-Baqarah. Rasulullah SAW kembali bertanya: “Apakah engkau hafal surah Al-Baqarah?” Ia menjawab: Betul. Rasulullah SAW bersabda: ”Berangkatlah, dan engkau menjadi ketua rombongan itu!”. 

Salah seorang dari kalangan mereka yang terhormat berkata: Demi Allah, aku tidak mempelajari dan menghafal surah Al-Baqarah semata karena takut aku tidak dapat menjalankan isinya. Mendengar komentar itu, Rasulullah SAW bersabda: “Pelajarilah Al Qur’an dan bacalah, karena perumpamaan orang mempelajari Al Quran  dan membacanya, adalah seperti tempat bekal perjalanan yang diisi dengan minyak misik, wanginya menyebar ke mana-mana. Sementara orang yang mempelajarinya kemudian dia tidur -dan dalam dirinya terdapat hafalan Al Qur’an- adalah seperti tempat bekal perjalanan yang disambungkan dengan minyak misik.” (HR At Tirmidzi).

  • Penghafal Al Qur’an adalah keluarga Allah 

Selain di hadapan Rasulullah, penghafal Al-Qur’an sangat mulia kedudukannya di hadapan Allah. Allah bahkan menjadikan mereka dalam keluarga-Nya, yaitu golongan yang dekatk dengan-Nya seolah mereka adalah keluarga-Nya. 

Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya Allah mempunyai keluarga di antara manusia, para sahabat bertanya, “Siapakah mereka ya Rasulullah?” Rasul menjawab, “Para ahli Al Qur’an. Merekalah keluarga Allah dan pilihan-pilihan-Nya.” (HR. Ahmad)

Masih banyak lagi keutamaan menghafal Al-Qur’an. Kita telah meyakini bahwa Al-qur’an sebagai kitab suci merupakan kalam Allah yang akan menambah kebaikan jika melekat di hati, yaitu dengan menghafalkannya.  Kita memberi contoh menghafal, sambil mendorong anak untuk menjadi penghafal. 

[Yazid Subakti]