Parenting – Sayyidina Ali ra mengibaratkan anak di usia tujuh tahun kedua ini bagai seorang tawanan. Tawanan adalah seseorang yang diambil untuk dilindungi karena diharapkan saat besarnya nanti bisa bermanfaat. Tidak boleh memperlakukan tawanan dengan sembarangan karena ia biasanya dalam keadaan jiwa yang tidak stabil, tetapi bisa memiliki potensi yang sangat besar untuk pengembangan. Perlakuan terbaik kepada tawanan adalah memberikan pembinaan dengan ketegasan aturan.
Anda sedang membina tawanan yang agung, ketika buah hati hari ini berumur antara 8 sampai 14 tahun. Kepada anak di usia ini, orang tua menghadapinya dengan sikap antara seorang pengajar, pendidik, pembimbing, sekaligus pelatih. Anak harus mulai terbentuk kepribadiannya karena beberapa saat kemudian ia akan memperjuangkan sendiri masa depannya.
Daftatr Isi
Mengajar dengan arif
Mengajar maksudnya adalah pemberian bahan ajar dalam bentuk ilmu pengetahuan. Prosesnya dapat dengan memberi contoh atau mempraktikkan sikap tertentu kepadanya agar ia memiliki pengetahuan yang dapat terpakai dalam kehidupan sehari – hari. Dalam mengajar, ada tuntutan untuk mengatur lingkungan supaya yang ia mau belajar karena ia merupakan pusat dari kegiatan ini.
Anda memberi bantuan, menentukan arah kegiatan dan menciptakan kondisi lingkungan yang dapat menjadi sumber bagi yang diajar untuk melakukan kegiatan belajar. Perbuatan ini memerlukan tanggung jawab moral. Oleh karenanya , berhasilnya terletak pada tanggung jawab pengajarnya.
Inilah yang Anda lakukan kepada anak. Anda berbagi ilmu dengannya, mempraktikkan kemampuan praktik dan sikap yang menjadi contoh. Anda mengikat diri secara moral dengannya, karena hasil dari semua proses ini sangat tergantung kesungguhan Anda.
Mendidik dengan bijak
Mendidik itu bagian dari usaha untuk mengantarkan yang dididik ke arah kedewasaan, baik itu secara jasmani maupun rohani. Oleh karenanya, mendidik merupakan upaya pembinaan pribadi, mental, akhlak dan sikap. Mendidik tidak sekedar berbagi ilmu, tetapi lebih dari itu adalah transfer nilai. Oleh karenanya kegiatan mendidik harus melibatkan aspek kognitif, afektif, maupun psikomotorik agar yang dididik tumbuh dan berkembang menjadi manusia yang berkepribadian.
Membimbing dengan hati
Kegiatan membimbing sangat berkaitan dengan norma dan juga tata tertib. Dalam prosesnya, membimbing dapat dengan cara menyampaikan ilmu pengetahuan, strategi dan seni menggunakan cara yang paling sesuai dengan individu yang terbimbing.
Jadi, membimbing lebih berupa pemberian motivasi dan pembinaan yang mengharuskan pembimbing dekat dengan yang dibimbing dan melakukannya dengan cara sebijak-bijaknya.
Anda saat ini membimbing anak, yang berarti kedekatan Anda dengannya tidak boleh ada tawar-menawar. Anda mengatasinya, memperhatikan perubahan-perubahannya, dan memberi dorongan agar ia menjadi pribadi yang mandiri dan bertanggung jawab.
Melatih dengan tekun
Melatih adalah memberi tuntunan kepada seseorang agar ia memiliki kemampuan yang ia butuhkannya, memiliki keterampilan atau kecakapan hidup yang ia inginkan. Dalam prosesnya, melatih dengan menjadi contoh, menyampaikan pemahaman, melakukan simulasi, memberi kesempatan mencoba, dan menuntun untuk mengulang-ulang sampai menjadi kebiasaan atau keahlian.
Seorang pelatih memiliki ukuran keberhasilan terhadap hasil pelatihannya dan memiliki catatan perkembangan mengenai seberapa jauh materi pelatihan sudah terkuasai. Yang tak kalah penting, melatih berarti memiliki aturan yang tegas, bahkan ketat, agar yang mendapat pelatihan dapat menjalani latihannya dengan tertib. Semua pelatih profesional menerapkan target dan disiplin tinggi agar hasil pelatihan sesuai target.
Melatih adalah aktivitas paling khas menghadapi anak di usia tujuh tahun keduanya. Kepada anak di usia remaja awal, Anda menjadi pelatih kehidupan baginya siang dan malam. Anda kini tak lagi mengasuh si kecil dengan nyanyian-nyanyian dan dongeng menjelang tidur, tetapi menjadi figur contoh bagi remaja tentang apa yang harus ia lakukan, menyampaikan pemahaman, memberinya kesempatan mencoba dan menuntunnya beberapa pembiasaan baik yang akan membentuk kepribadian dan kecakapan hidupnya.
Tidak ada yang mudah dari melatih tawanan agung ini. Ia tidak kecil lagi tetapi juga belum sepenuhnya besar. ITak bisa lagi memperlakukannya sebagai kanak-kanak lemah dan penurut, tetapi juga belum masanya menganggapnya sebagai orang dewasa yang pengertian.
Jangan sampai salah memperlakukan tawanan. Memperlakukan tawanan secara kasar membuatnya berontak dan menjadi sumber fitnah. Sedangkan perlakuan yang terlalu longgar membuatnya lupa diri dan terlena. Membiarkan tawanan dalam kebebasan bahkan bisa membentuknya menjadi musuh dan sumber fitnah.
Tawanan harus diperlakukan dengan cinta, yaitu jenis cinta keras yang disampaikan dengan ketegasan aturan dan kesungguhan menjalani syariat Allah.
Kini kita telah sampai pada fase ini.
[Yazid Subakti]

