Parenting – Perkembangan kecerdasan si kecil dimulai sejak tahap pembentukan otak ketika sedang berada dalam kandungan.
Daftatr Isi
Tahap pembentukan otak
Sejak janin berusia enam belas hari dalam kandungan, bakal otak telah terbentuk berupa lembaran yang sangat lembut dan transparan. Lembaran ini merupakan sistem saraf pusat pertama kali dan berada di bagian atas bakal kepala.
Di akhir bulan keempat, lembaran ini semakin nyata membentuk otak dan memasuki bulan ketujuh, perkembangan yang terjadi semakin dahsyat. Seiring dengan asupan gizi ibu yang cukup, otak ini semakin berkembang menuju kesempurnaan hingga bayi siap dilahirkan.
Berat otak baru lahir sekitar 350 sampai 400 gram (sekitar seperempat berat otak orang dewasa) dengan empat bagian utama. Pertama adalah batang otak (Brainstem), otak kecil (cerebellum), otak besar (cerebrum) dan dienchephalon. Dalam enam bulan berikutnya berat otak ini sudah menjadi hampir dua kali lipat berat semula.
Pada tahun-tahun pertama kehidupan, yang bekerja adalah sistem sensorik. Ia bekerja melalui kontak langsung oleh bayi dengan lingkungannya, dengan interaksi yang dilakukan terus menerus bersama orang terdekat (ibunya) dan benda-benda di sekelilingnya.
Pada usia satu hingga dua tahun, otak motor sensorik sudah semakin berkembang sehingga anak-anak siap untuk melangkah pada tahap perkembangan selanjutnya. Pada masa ini terjadi peningkatan yang luar biasa dalam jalinan-jalinan neuron. Ketika sistem emosional kognitif sudah mulai bekerja, bayi dapat merubah perilakunya dalam waktu yang sangat singkat. Selain perubahan perilaku (sebagai bentuk perubahan emosional bayi), ia juga sedang mengembangkan intelektualitas yang lebih tinggi melalui dunia belajarnya yang kita sebut bermain. Ia mempelajari dunia dengan menirukan, mendengar cerita, dan bermain imajinatif. Ini memberikan pelajaran metaforis simbolis yang akan menjadi dasar dari perkembangan kecerdasan yang lebih tinggi ketika dewasa nanti.
Otak Kiri dan Otak Kanan
Setiap anak normal memiliki belahan otak kanan dan kiri yang memiliki perbedaan fungsi. Fungsi yang dikendalikan oleh kedua belahan otak itu dapat saling bekerja sama sehingga manusia melakukan aktivitas dengan harmonis sesuatu tujuan gerakannya.
Tugas otak kiri adalah mengendalikan pikiran sadar, melakukan analisa dan mencerna logika. Ia bertugas menanggapi informasi secara rasional, dan bertanggung jawab terhadap kemampuan bahasa.
Otak kanan bertugas mengendalikan pikiran bawah sadar, berperan dalam urusan perasaan (emosi) dan bertanggung jawab terhadap sifat kreatif dan intuitif manusia.
Laju perkembangan otak bayi tidak selalu nampak dari pertambahan volume otaknya. Beberapa ukuran dan bentuk kepala dianggap memiliki hubungan terhadap besarnya volume otak di dalamnya. Namun demikian, anda tidak harus khawatir bila bayi anda memiliki ukuran kepala lebih kecil dari teman-temannya. Banyak faktor yang menentukan kecerdasan bayi anda. Menurut para peneliti dari University of California, kecepatan penghantaran pesan oleh sel-sel saraf seseorang merupakan salah satu faktor penting yang menunjukkan tingkat kecerdasannya.
Bayi yang cerdas nampak ketika ia berinteraksi dengan lingkungannya. Kecerdasan ini merupakan kemampuan si kecil dalam menyikapi lingkungannya.
Tahap kemampuan interaksi
Gerak refleks (usia 0-4 bulan)
Bayi pada usia ini hanya dapat melakukan gerak tanpa komando untuk menyikapi lingkungan sekitar. Semakin hari seiring dengan perkembangan dan kognitifnya, gerak refleks ini perlahan akan digantikan dengan gerak yang terkontrol, yaitu hasil komunikasi dengan otak. Gerakan ini semakin sempurna hingga bayi semakin tahu tujuan ia melakukan gerakan tersebut. Misalnya ia menendang-nendang untuk menyingkirkan selimut, sampai selimut benar-benar terbuka.
Memahami sebab akibat (usia 4-8 bulan)
Di usia ini, bayi mulai banyak mencoba hal-hal baru. Perkembangan otak bayi menyebabkan ia semakin tahu bagaimana merespon lingkungannya. Bayi akan tertawa bila anda mengajaknya bercanda dan menangis bila anda tiba-tiba meninggalkannya. Perasaan bayi mulai muncul dan ia telah berusaha mengungkapkannya.
Eksplorasi lingkungan di (usia 8 – 12 bulan)
Pada usia ini mungkin si kecil sering tidak puas dengan perbuatannya sendiri yang menghasilkan respon tidak seperti yang diinginkan. Ia merasa jengkel ketika mainan yang dipukul-pukul itu tidak berbunyi seperti yang ia inginkan. Tetapi segera ia meraih botol talk, gelas plastik, atau apapun yang ada di sekelilingnya untuk dipukul-pukulkan. Ia ingin tahu mana di antara benda-benda tersebut yang berbunyi paling menarik. Mungkin ia akhirnya memilih salah satunya yang paling nyaring suaranya. Ia berusaha melihat kejadian menarik dengan memperlakukan benda-benda itu.
Identifikasi (usia 12 bulan atau lebih)
Ketika telah berusia satu tahun. bayi telah mencoba mengidentifikasi benda berdasarkan pengalamannya. Jika anda sodorkan berbagai boneka lama dan baru kepadanya, ia telah tahu mana boneka miliknya yang biasa ia mainkan. Ia akan memilih biskuit bayi yang menurut pengalamannya paling nikmat. Identifikasi melalui suara juga tak mampu ia lakukan. Ia dapat membedakan mana suara ibunya, suara ayahnya, atau suara neneknya meskipun berada di balik pintu.
Di ulang tahun pertama inilah si kecil mulai mencoba mengoptimalkan memorinya. ia telah berusaha untuk berkomunikasi dengan peristiwa atau seseorang yang dilihatnya. Misalnya berteriak ketika melihat kucing, menonton tayangan kartun atau merengek manja ketika ibunya datang.
Kemampuan bahasa (1,5 tahun)
Bayi mulai menyebut “papa” atau “mama” dan beberapa sebutan lain atau kata-kata tidak jelas untuk menyebut sesuatu pada usia satu setengah tahunan. Ia tahu apakah percakapan ibunya itu mengajaknya bicara atau berbicara untuk orang lain. Beberapa kosakata yang ia dengar mulai tersimpan dengan baik dalam memorinya untuk berusaha ia tirukan di lain waktu saat perlu. Ia sering mengamati mulut orang yang sedang berbicara dengan harapan akan mudah menirunya dan mencari maknanya.
Anda seharusnya sering mengajaknya bercakap-cakap. Libatkan si kecil dalam banyak perbincangan. Selain mengumpulkan kosakata dan mengoptimalkan memori, cara ini juga berlatih logika.
Rasa ingin tahu (mulai usia 2 tahun)
Pada usia ini ia memiliki rasa ingin tahu yang sangat besar terhadap dunia sekelilingnya. Ia mulai gemar naik kursi, meja, membongkar laci, atau ulah lain yang lucu tapi kadang menyebalkan, membuat rumah berantakan atau bahkan membahayakan baginya.
Sesungguhnya ia tidak bermaksud apa-apa dengan semua perilakunya itu, kecuali ingin tahu seperti apa nikmatnya berdiri di atas meja, atau apa saja isi laci sehingga ayah suka mengambil benda dari dalamnya. Sekali ia mengamati ayah membongkar TV dengan obeng, maka setiap kali ia menemukan obeng akan selalu mencari sekrup pada alat elektronik lain untuk membongkae dan terlihat bagian dalamnya.
[Yazid Subakti]

