Parenting Al-kautsar – Janin dapat mendengar perkataan ibunya. Bayi yang baru lahir langsung dapat belajar membedakan suara serta bahasa di sekitarnya. Penelitian mengungkapkan bahwa kemampuan bayi ini ternyata sudah ada sejak ia berusia sangat dini, bahkan sejak di dalam kandungannya dulu. Selama dalam rahim, ia telah belajar bahasa dari ibunya setiap kali ibu bercakap-cakap.
Kemampuan telinga janin
Salah satu alat indera janin yang menangkap stimulasi ketika masih dalam kandungan adalah telinga. Telinga merupakan organ pertama janin yang terhubung dengan perkembangan sistem syaraf otak. Janin mulai mendengar pada trimester kedua dari kehamilan meskipun cara mendengarkannya tidak sama dengan anak-anak yang sudah lahir ke dunia. Ini karena saat masih dalam kandungan, bayi terselimuti cairan ketuban, sedangkan cairan ketuban itu tertutup oleh selaput yang terbungkus oleh dinding rahim. Jadi, suara ibu tertangkap oleh janin berupa getaran yang merambat melalui badan ibu kemudian menembus dinding rahim dan air ketuban, baru sampai ke telinga dan masuk sebagai stimulasi bunyi.
Ini berbeda dengan suara yang bukan berasal dari mulut ibu. Suara yang datang dari luar harus melalui udara, kemudian menembus dinding perut, menyusup dinding rahim, dan baru merambat melalui air ketuban untuk sampai pada telinga janin. Oleh karena itu, stimulasi dengan suara yang bukan suara ibunya harus dengan mendekatkan atau menempelkan sumber suara pada perut ibu. Saat sang ayah ingin berbicara dengan janin, maka mulut ayah berkontak badan dengan perut ibu. Saat janin mendapat stimulasi music dari alat audio, maka headset dekatkan atau tempelkan pada perut ibu.
Janin mempelajari bahasa ibunya
Pada usia kehamilan 10 minggu terakhir, bayi dalam kandungan selalu mendengar setiap kali ibu berbicara. Pada saat lahir, ia memberikan respon bahwa ia mengerti apa yang pernah ibunya katakan dulu selama dalam kandungan. Penelitian mengungkapkan bahwa 40 bayi perempuan dan laki-laki di Amerika dan Swedia terlihat dari perilakunya ketika mereka masih berumur 30 jam. Ketika ada rangsangan suara ibu dengan bahasa yang ia gunakannya sehari-hari, hampir semua bayi merespon. Sedangkan ketika mendapatkan rangsangan atau stimulasi suara yang menggunakan bahasa asing, bayi-bayi tersebut tidak merespon.
Para sesepuh yang bijaksana sering menasehati agar ibu hamil tidak marah dan berkata-kata kasar. Ini dapat dipahami bahwa kalimat-kalimat kemarahan atau kalimat kasar itu ternyata direkam oleh janin. Janin belajar darinya, kemudian menjadikannya sebagai Bahasa untuknya juga kelak ketika terlahir, sebelum belajar Bahasa yang lain.
Tidak hanya itu, suara yang ada di sekitar janin juga dapat mempengaruhi kesehatannya. Suara keras yang terdengar oleh janin pada trimester pertama kehamilan berisiko menimbulkan cacat lahir pada bayi. Sebuah penelitian melaporkan bahwa anak yang memiliki gangguan pendengaran sebagian besar lahir dari ibu yang setiap harinya terpapar suara dengan desibel yang cukup tinggi (85 hingga 95 dB) selama masa kehamilan. Ibu hamil yang terpapar suara dengan frekuensi setidaknya 80 dB selama 8 jam per hari, rata-rata melahirkan anak prematur. Bahkan, ada bayi keguguran karena ibunya mendengarkan suara dengan desibel yang sangat tinggi.
Bayi dapat mengingat suara yang pernah ia dengar selama dalam kandungan
Suasana rahim bagi janin adalah ruangan yang sangat berisik, terutama mulai pertengahan masa kehamilan. Di dalamnya bercampur bagi jenis bebunyian yang gaduh; cairan ketuban menghantarkan bunyi alat pencernaan ibunya, perut keroncongan ketika lapar, nafas terengah-engah, bunyi menelan makanan dan sendawa, detak jantung dan denyut peredaran darah, serta getaran lain aktivitas ibu. Janin mendengar bunyi-bunyian ini pada intensitas 72 sampai decibel sehingga membuatnya terlatih untuk memilah bunyi lain yang lebih menarik atau khas. Misalnya bunyi music yang nyaman, bunyi murattal Al-Qur’an, atau bunyi ibu dan ayah berbicara.
Penelitian mengungkapkan bahwa bayi ternyata mengingat musik yang pernah diputarkan ketika masih di dalam kandungan. Respon ini diketahui ketika musik yang sering diputarkan sewaktu hamil dulu dibunyikan kembali saat bayi telah lahir dan diukur dengan melakukan elektroensefalogram (EEG) (tes yang dilakukan untuk mengetahui aktivitas otak). Hasil pemeriksaan EEG pada bayi yang mendapatkan stimulus musik ketika di dalam kandungan, menunjukkan adanya tanda aktivitas otak yang mengenali musik tersebut.
Ini menguatkan keyakinan bahwa janin mengingat suara yang didengarnya dulu semasa dalam kandungan, dan mungkin berpengaruh pada perkembangan maupun pertumbuhannya.
[Yazid Subakti]

