Cara Rasulullah Menyembuhkan Penyakit Cinta

Cara Rasulullah Menyembuhkan Penyakit Cinta

Parenting – Cara rasulullah menyembuhkan penyakit cinta. Penyakit jatuh cinta yang menggila atau al isyq pernah beberapa kali terjadi di zaman Rasulullah SAW. Qais tergila ‐gila kepada wanita bernama Laila. Kisah cinta ini bermula sejak mereka bersama mengembala domba ketika kecil sampai dewasa. Kisah berlanjut tragis, Qais benar‐benar menjadi gila ketika Laila dipersunting oleh pria lain. 

Itu bukan dongeng, tapi kisah nyata zaman dahulu yang kini berulang ratusan kali pada anak-anak remaja zaman ini. 

Ibnu Qoyyim dalam kitabnya Zadul Ma’ad mengatakan bahwa gejolak cinta merupakan jenis penyakit hati yang memerlukan penanganan khusus karena perbedaannya dengan jenis penyakit lain dari segi bentuk, sebab, maupun terapinya. Jika telah menggerogoti kesucian hati manusia dan mengakar di dalam hati, sulit mencarikan obat penawarnya dan penderitanya sulit sembuh. 

  1. Sasaran penyakit Al-isyq

Penyakit Al ‐isyq akan menimpa orang‐orang yang hatinya kosong dari rasa mahabbah (cinta) kepada Allah, berpaling dari-Nya dan penuh dengan kecintaan kepada selain-Nya. Hati yang penuh cinta kepada Allah dan rindu bertemu denganNya pasti akan kebal terhadap serangan virus ini, sebagaimana yang terjadi pada Nabi Yusuf as: 

“Sesungguhnya wanita itu telah bermaksud (melakukan perbuatan itu) dengan Yusuf, dan Yusufpun bermaksud (melakukan pula) dengan wanita itu andai dia tiada melihat tanda (dari) Tuhannya. Demikianlah, agar Kami memalingkan daripadanya kemungkaran dan kekejian. Sesungguhnya Yusuf itu termasuk hamba ‐hamba Kami yang terpilih” [Yusuf : 24] 

Penyakit cinta adalah getaran hati yang kosong dari segala sesuatu selain apa yang ia puja dan cintai. Pada anak muda yang ibadahnya tidak khusyu’, penyakit ini mudah menjangkiti. Dalam keadaan mental yang lemah, seorang laki-laki bisa tergila-gila akan kecantikan wanita kemudian terus menerus memikirkannya tanpa peduli kegilaannya itu telah mengubah perilaku dan membuang banyak waktunya. Seorang wanita bisa saja tergila-gila kepada seorang pria pujaannya, lalu memendam rindu yang sangat dalam hingga bertekad melakukan apapun asalkan pria itu menjadi miliknya. 

Mengingat remaja yang kosong dari kecintaannya kepada Allah adalah sasaran penyakit Al Isyq, lagi-lagi orang tua adalah tempat paling hangat untuk menjadi pengobatnya.  

  1. Mengenali cara penyakit ini berjangkit  

Al ‐isyq terjadi dengan dua sebab, yaitu menganggap indah apa‐apa yang ia cintai dan perasaan ingin memiliki apa yang ia cintai. Jika salah satu dari dua sebab ini tiada, virus ini tidak akan berjangkit. 

Rahasia adanya percampuran dan kesesuaian di alam ruh akan mengakibatkan adanya keserasian serta kesamaan. Sebagaimana adanya perbedaan di alam ruh akan berakibat tidak adanya keserasian dan kesesuaian. Jadi, sebenarnya pendorong rasa cinta tidaklah semata bergantung pada kecantikan rupa, dan tidak pula karena adanya kesamaan dalam tujuan dan keinginan, walaupun hal‐hal ini merupakan salah satu penyebab timbulnya cinta. 

Nabi pernah mengatakan dalam sebuah hadisnya: “Ruh ‐ruh itu ibarat tentara yang saling berpasangan, yang saling mengenal sebelumnya akan menyatu dan yang saling mengingkari akan berselisih“

Hadits ini turun berkenaan dengan seorang wanita penduduk Makkah yang selalu membuat orang tertawa saat hijrah ke Madinah. Ternyata ia tinggal dan bergaul dengan wanita yang sifatnya sama sepertinya yaitu senang membuat orang tertawa. 

Jadi, ketika ada seorang anak muda sedang kosong hatinya dari mengingat Allah merasakan haus cinta asmara dari sesama makhluk. Lalu datang anak remaja Anda dalam kondisi yang sama, maka bertemulah hati mereka dalam getaran asmara yang tak terbendung. 

  1. Menghadapi penyakit Al ‐Isyq

Al‐isyq yang menjangkiti remaja dapat disembuhkan atau diatasi sendiri atau dengan bantuan orang tua. Anda sebaiknya proaktif mendekatinya, memberi bantuan dan apa saja yang ia perlukan. 

Jika terdapat peluang untuk meraih cinta orang yang ia kasihi, sudah sampai waktu yang pantas menikah dan sudah ada kesiapan untuk berumah tangga, maka inilah terapi yang paling utama. Yaitu menikahkannya. Tetapi jika ia belum sampai usia pantas menikah dan belum siap berumah tangga, maka perintahkan ia untuk berpuasa.

Rasulullah SAW bersabda, 

“Hai sekalian pemuda, barangsiapa yang mampu untuk menikah maka hendaklah dia menikah, barangsiapa yang belum mampu maka hendaklah berpuasa karena puasa dapat menahan dirinya dari ketergelinciran (kepada perbuatan zina)” (HR Muslim). 

Ibnu Majah meriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa Rasulullah SAW bersabda,

“Aku tidak pernah melihat ada dua orang yang saling mengasihi selain melalui jalur pernikahan”. 

Jika terapi pertama tidak dapat berhasil karena tertutupnya peluang menuju orang yang ia kasihi karena ketentuan syar’i dan takdir, atau alasan lainnya, penyakit ini bisa semangkin ganas. Oleh karena itu, Anda harus meyakinkan dirinya bahwa apa ‐apa yang diimpikannya mustahil terjadi, lebih baik baginya untuk segera melupakannya. Cinta tak pernah memaksa, dan tak perlu menyiksa. Jika memaksa dan sampai menyiksa, itu bukanlah cinta melainkan syahwat yang terdorong oleh nafsu setan.

Apabila ternyata kecenderungan anak tetap tidak berubah, Anda tetap mengingatkannya karena dua alasan. Pertama karena takut kepada murka Allah yaitu dengan menumbuhkan perasaan bahwa ada hal yang lebih layak dicintai. Kedua keyakinan bahwa berbagai resiko yang sangat menyakitkan akan ia temui jika dia gagal melupakan masalahnya. 

Jika hawa nafsunya masih juga tetap bersikeras tidak menerima kenyataan ini. Maka ajaklah berpikir mengenai dampak negatif dan kerusakan yang akan ia timbulkan segera, juga dampak jangka panjang yang merusak masa depannya. 

Jika cara ini juga belum berhasil, Anda dapat membantunya untuk membuat daftar keburukan orang yang ia cintai itu dan mengingat sisi‐sisi keburukannya, hal‐hal yang membuatnya dapat menjauh darinya, dan kabar apapun tentang orang itu yang memperbesar keyakinan bahwa ia tak mungkin saling berjodoh. 

Cara terakhir jika semua cara yang tidak juga berhasil adalah memohon kepada Allah. Menyerahkan jiwa sepenuhnya di hadapan Allah, memohon, merendahkan dan menghinakan diri kepada-Nya.

 

[Yazid Subakti]

Tinggalkan Balasan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan. Required fields are marked *