Menanamkan Jiwa Keayahan Pada Anak Laki-laki

Menanamkan Jiwa Keayahan Pada Anak Laki-laki

Parenting – Sejak dini biasakan untuk menanamkan jiwa keayahan kepada anak laki-laki. Agar kelak dia sudah terbiasa ketika sudah menjadi seorang ayah.

  1. Laki-laki itu ‘qawwam’ 

Semua laki-laki harus bisa menampilkan diri sebagai qawwam, seorang pemimpin yang telah Allah tetapkan atasnya. 

Kaum laki-laki adalah pemimpin bagi kaum wanita, lantaran terhadap apa yang telah dilebihkan Allah sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (perempuan), dan terhadap apa-apa yang telah mereka (laki-laki) nafkahkan dari harta-hartanya. Maka seorang yang sholihah ialah yang taat seta pandai menjaga dirinya ketika suaminya tidak ada, seperti Allah telah menjaga (mereka). Dan wanita-wanita yang kamu takutkan nusyuznya maka nasihatilah mereka pisahkanlah mereka dari tempat tidur dan pukullah mereka. Maka jika mereka taat pada kalian janganlah kalian mempersulit jalan bagi mereka. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar. (Q.S. An-Nisa’: 34)

Maksudnya lelaki merupakan pelindung (pemimpin) bagi kaum wanita dalam mendidik dan mengajak mereka kepada apa yang telah diperintahkan oleh Allah SWT kepada mereka. Itu akibat kelebihan yang telah berikan kepada laki-laki atas wanita dari mahar, nafkah, biaya rumah tangga, dan yang lainnya. Laki-laki menjadi pemimpin atau pengemban tugas dari Allah SWT untuk kaum wanita, yaitu isteri dan juga anak-anaknya.

Menurut Ibnu Abbas ra, laki-laki itu umara’ (pemimpin) bagi kaum wanita, dan wanita wajib untuk mentaati suaminya mengenai hal-hal yang telah Allah perintahkan kepada mereka. Mentaati suami yaitu dengan berbuat baik kepadanya, menjaga hartanya, serta memuliakan suami atas nafkah dan penghidupan yang telah ia berikan. 

  1. Seorang Qawwam harus kuat dan berkasih sayang

Di hadapan Allah kelak, suamilah yang akan mendapat pertanyaan dan harus mempertanggungjawaban tentang keluarganya, sebagaimana Rasulullah SAW pernah mengingatkan, 

Laki-laki (suami) adalah pemimpin bagi keluarganya dan kelak ia akan ditanya (dimintai pertanggungjawaban) tentang mereka.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Sebagai penanggung jawab, seorang suami tidak boleh bersikap masa bodoh, keras kepala, dan kasar terhadap isteri dan anak-anak yang menjadi tanggungannya. Ia harus memberi teladan akhlak yang mulia, penuh kelembutan, dan kasih sayang. 

Allah SWT telah memerintahkan seorang suami untuk bergaul dengan istrinya dengan cara yang baik.

“Dan bergaullah dengan mereka (para istri) dengan cara yang baik.” (QS. An-Nisa’: 19)

Makna bergaul dengan cara yang baik adalah memperindah ucapan terhadap istri dan anak, dan memperbagus perbuatan dan penampilan sesuai kadar kemampuan. Sebagaimana suami menyukai bila istrinya berbuat demikian, maka semestinya suami juga berbuat hal yang sama untuk membuat isteri menyukainya. Sebab para isteri memiliki hak kasih sayang dari suaminya, 

Nabi SAW sangat baik hubungannya dengan para istrinya. Wajahnya senantiasa berseri-seri, bersenda gurau dan bercumbu mesra dengan istri. Maka beliau berpesan, 

“Orang yang paling imannya paling sempurna diantara kaum mukminin adalah orang yang paling bagus akhlaknya di antara mereka, dan sebaik-baik kalian adalah yang paling baik akhlaknya terhadap isteri-isterinya   (HR. At Tirmidzi)

[Yazid Subakti]

Tinggalkan Balasan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan. Required fields are marked *