Masa Remaja – Bagian 2 : Ditekan oleh Perasaannya Sendiri

Masa Remaja – Bagian 2 : Ditekan oleh Perasaannya Sendiri

Parenting – Ada kalanya masa remaja akan ditekan oleh kesulitan-kesulitan yang muncul dari perasaannya sendiri. Ini merupakan bagian yang normal dari perkembangan. Beberapa kesulitan ini dapat menjadi catatan negatif jika orang tua lalai atau membiarkannya. 

Tidak ada yang aneh jika remaja mengalami mood yang berubah-ubah, sikap yang berbeda dalam waktu yang dekat. Suatu saat ia pendiam, cemberut, dan mengasingkan diri, tetapi pada saat yang lain ia menjadi ceria, periang, dan ramah. Ini bukanlah sesuatu yang abnormal. Anda hanya perlu mengamati dan mencatat dan menerimanya tanpa harus menanyakan sebab-sebabnya.

  • Keingintahuan yang besar seputar urusan seksual

Masa remaja memang masa-masa awal pematangan organ reproduksi sehingga gejolak yang muncul memang berkisar seputar gejolak seksual. Rasa ingin tahu seksual dan bangkitnya syahwat adalah normal dan sehat, sebab perilaku tertarik pada hubungan seksual adalah bagian dari fitrah untuk melanjutkan keturunan. Keinginan ini menimbulkan bentuk-bentuk perilaku seksual di masa dewasanya. Tanpa perlakuan meredam atau kesadaran akan harga diri, ia akan berfantasi liar, menonton adegan prono, bahkan bisa berbuat criminal dengan menyalurkannya melalui cara yang melanggar hukum. 

  • Ketidakcocokan terhadap norma dan nilai

Ia menampakkan perilaku anti sosial dengan kesukaannya berbuat iseng mengganggu, berbohong, mencoret-coret tembok, atau mengebut. Ia merasa memiliki kebenaran baru yang membuatnya memandang bahwa kebenaran ama tak lagi relevan. Ia menginginkan tata norma dan nilai baru di keluarganya, sementara keluarga terlanjur berpegang teguh pada nilai yang sudah disepakati bersama. Dalam kondisi lepas kontrol, keadaan ini dapat menjadi pemicu konflik di mana-mana. Di rumah dianggap durhaka atau mengingkari kebiasaan keluarga, di masyarakat dipandang sebagai pembuat onar, di sekolah dicap sebagai biang rusuh. Ini tidak kita anggap wajar, tetapi kejadiannya memang mudah diduga. 

  • Memikirkan pelarian atau keinginan melepas beban

Di sekolah, anak remaja mencari cara untuk membolos. Di keluarga, ia memikirkan cara untuk terbebas dari tugas-tugas keluarga. di masyarakat, ia ingin berlepas dari aturan dan adatnya. Ia ingin bermain jauh, mencoba hal-hal baru, dan melakukan aktivitas ekstrem yang selama ini belum pernah ia alami. 

Semua itu mungkin disadari oleh si remaja. Ia sendiri merasa bingung dan tertekan dengan gejolak ini, tetapi mekanisme kontrol yang telah membuatnya tak mampu untuk mengendalikannya. Orang tua masih diperlukan untuk hadir menjadi terbaik yang mendampingi.

  • Fase-fase perkembangan remaja

Ada tiga fase perkembangan masa remaja. Pembagian fase ini didasarkan pada usia dan ciri-ciri perkembangan menonjol yang biasa menyertainya. 

    • Remaja awal (11-13 tahun)

Ini adalah fase awal atau menjelang pubertas. Perkembangan fisik yang terjadi pada fase ini adalah pertumbuhan rambut pada beberapa area tubuh, meningkatnya produksi dan pengeluaran keringat serta minyak pada rambut dan kulit. Inilah awal tanda puber muncul tetapi kadang masih samar-samar.

Pada remaja perempuan, payudara mulai mengalami pembesaran serta mulai mengalami menstruasi, sedangkan pada remaja laki-laki, alat kelamin mulai mengalami pertumbuhan, mimpi basah serta perubahan suara. Berat badan dan tinggi badan mengalami perkembangan yang sangat cepat sehingga anak terlihat mendadak besar hamper setinggi orangtuanya.

Kemampuan berpikir berkembang dengan dimulainya meninggalkan cara berpikir kekanak-kanakan, mulai berpikir tentang masa depan meskipun sangat terbatas dan kadang tidak masuk akal. Remaja mulai berusaha mencari identitas dirinya, muncul perasaan canggung saat bertemu dengan seseorang, konflik dengan orang tua meningkat, pengaruh teman sebaya sangat besar, ingin bebas dan tidak mau diatur, mudah stress, dan mulai memendam perasaan tertarik kepada lawan jenis.

Yang perlu anda amati pada fase ini adalah, 

  • Krisis identitas 
  • Jiwa yang labil
  • Meningkatnya kemampuan verbal untuk ekspresi diri
  • Pentingnya teman dekat/sahabat
  • Berkurangnya rasa hormat terhadap orangtua 
  • Kadang-kadang berlaku kasar
  • Mengoreksi kesalahan orangtua
  • Mencari orang lain yang disayangi selain orangtua
  • Kecenderungan untuk berlaku kekanak-kanakan, dan
  • Terpengaruh teman sebaya dalam hal hobi dan gaya hidup.
    • Remaja pertengahan (14-18 tahun)

Pubertas pada tahapan ini sudah terbentuk dengan sempurna. Organ reproduksi dalam keadaan matang dan sudah siap berfungsi sebagaimana mestinya. Namun demikian, pertumbuhan fisik pada perempuan mulai melambat sedangkan remaja laki-laki terus berlanjut meningkat.

Maka kemampuan berpikir mengalami kemajuan signifikan dengan kemampuannya menetapkan tujuan hidup, merencanakan hal-hal yang lebih masuk akal dan mulai serius merancang masa depannya. 

Sebagai bentuk aktualisasi diri, remaja di masa ini mulai melibatkan diri dalam kelompok atau kegiatan yang ia rasa cocok di dalamnya. Ia masih melambungkan cita-cita meskipun biasanya diiringi konsep diri yang kurang. 

Ada kecenderungan anak mulai mengurangi kedekatan dengan orang tua karena keinginannya yang begitu kuat untuk bebas dari intervensi. Pengaruh teman sebaya masih sangat kuat bahkan menjadi salah satu pertimbangan mengambil keputusan. Ketertarikan kepada lawan jenis dan gairah syahwat semakin meningkat sehingga beberapa anak di usia ini sudah benar-benar berani menjalin hubungan asmara secara terang-terangan.

Berikut ini adalah daftar kondisi yang menjadi alasan bagi anda untuk memberi perhatian dan bersabar atasnya, 

  • Mengeluhkan campur tangan orangtua dalam kehidupannya
  • Sangat cemas dan memperhatikan penampilan 
  • Berusaha untuk mendapat teman baru
  • Tidak atau kurang menghargai pendapat orang tua
  • Sering sedih/moody dengan emosi yang berubah-ubah
  • Mulai menulis buku harian atau mengungkapkan perasaan lewat puisi
  • Sangat memperhatikan kelompok main secara selektif dan kompetitif, dan
  • Mulai mengalami periode sedih karena ingin lepas dari orangtua.
    • Remaja akhir (19-24 tahun)

Fisik remaja putri di usia ini biasanya sudah mencapai bentuk sangat sempurna atau mencapai puncaknya, sedangkan remaja putra masih terus berlanjut terutama pada peningkatan berat, tinggi, massa otot dan rambut-rambut kasar pada sekujur tubuhnya.

Oleh karena itu pikiran remaja sudah mulai mampu menggagas ide besar dan mewujudkannya menjadi nyata, memiliki kemampuan untuk menunda kepuasan atau kegembiraan atau menahan nafsu dengan lebih baik, semakin terbiasa berpikir yang masuk akal dan mulai serius dengan masa depannya.

Di usia ini identitas begitu penting. Maka, anak sudah dapat menyebutkan dirinya siapa dan tujuan hidupnya untuk apa. Ia memikirkan orang lain sebagai bentuk kepedulian, emosi mulai stabil dan semakin mandiri menghadapi persoalan hidupnya. Pertemanan sebaya tetap penting jika secara nyata membawa manfaat, sedangkan ketertarikan kepada lawan jenis sudah memungkinkan untuk menjurus pada kesungguhan berjodoh. 

Kabar gembiranya, di masa ini banyak perkembangan penting yang sudah mendekatkannya pada sifat-sifat orang dewasa matang,

  • Kesempurnaan bentuk fisik mencapai puncaknya
  • Identitas diri menjadi lebih kuat
  • Mampu memikirkan ide besar
  • Mampu mengekspresikan perasaan dengan kata-kata
  • Lebih menghargai orang lain
  • Lebih konsisten terhadap minatnya
  • Bangga dengan hasil yang ia capai
  • Selera humor lebih berkembang, dan
  • Emosi lebih stabil

 

[Yazid Subakti]