Toleransi dalam Perbedaan yang Damai

Toleransi dalam Perbedaan yang Damai

Parenting – Toleransi disebut al-samahah atau at-tasamuh. Istilah ini berarti memudahkan dan bermurah hati, atau bertenggang rasa dan memberi tempat kepada orang lain. Makna toleransi seperti ini terkandung dalam beberapa firman Allah, misalnya,

Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. (Q.S. al-Baqarah [2]: 185).

Allah sama sekali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan. (Q.S. al-Hajj [22]: 78).

  • Menurut Syekh Wahbah al-Zuhaili toleransi dalam Islam meliputi lima nilai dasar, yaitu 
  • Persaudaraan atas dasar kemanusiaan 
  • Pengakuan dan penghormatan terhadap yang lain
  • Kesetaraan semua manusia 
  • Keadilan sosial dan hukum 
  • Kebebasan yang ada dalam undang-undang 

Setiap anak akan menemukan sekumpulan orang yang berbeda dengannya. Saat ia bersekolah sampai perguruan tinggi, ia menemukan orang-orang dengan latar belakang dan sifat yang berbeda. Saat bergaul di masyarakat, ia menjumpai orang-orang yang tidak sama status sosial dan keyakinan. Kelak pada saat ia menjadi tokoh atau pemimpin umat, ia harus dapat memahami bahwa yang ia pimpin adalah orang-orang yang tidak dapat memaksanya untuk sama dalam banyak hal. Ia harus menemukan cara untuk berdamai dalam perbedaan-perbedaan.

 Manfaat Toleransi 

Bayangkan jika sekelompok orang hanya mau bertemu dengan orang lain yang memiliki kesamaan dengan mereka saja: suatu suku hanya bersedia bekerjasama dengan orang-orang yang sesuku, penganut agama tertentu hanya mau bertegur sapa dengan orang-orang seagama, atau orang kaya hanya mau bergaul dengan sesama orang kaya. Kehidupan di masyarakat tidak akan berjalan dengan cara ini. Perdagangan tidak akan ramai, kebudayaan tidak berkembang, teknologi tidak mengalami kemajuan, dan keamanan menjadi terancam. Kehidupan menjadi lancer berjalan karena kesediaan orang-orang untuk saling bekerjasama, sedangkan antara satu orang dengan orang lain yang bekerjasama itu tidak mungkin mengandalkan dari satu golongan yang sama.  

Karena dalam perbedaan tersimpan peluang terjadinya konflik, maka sikap toleran berguna sebagai tali untuk  saling mempererat hubungan. 

  • Memudahkan kesepahaman

Inti dari toleransi adalah memperbesar kesediaan untuk saling memahami, dan memperkecil keinginan untuk dipahami. Semua orang ingin dipahami, dan senang ketika bekerjasama dengan orang lain yang mudah memahaminya.

Latihan toleransi paling awal bagi anak adalah memahami perbedaan perbedaan hak dan kewajibannya di rumah dibanding dengan saudara-saudaranya. Anak laki-laki mendapatkan hak sebagai anak laki-laki yang dalam beberapa hal tidak sama dengan hak anak saudara perempuannya. Seorang kakak yang kebutuhan sekolah dan pergaulannya lebih rumit memiliki fasilitas yang lebih banyak daripada adik yang tingkat sekolah dan kehidupannya lebih sederhana. Tetapi dalam pembebanan, seorang kakak menanggung tanggungjawab lebih berat dibanding adiknya. Anak yang sedang sakit mendapat perhatian lebih besar dari orang tuanya dibanding saudaranya yang sedang dalam keadaan sehat. Tetapi anak yang sehat mendapat kebebasan bermain lebih banyak dibanding saudaranya yang sedang sakit.

Orang tua harus memahamkan itu semua kepada anak, dan memerankan diri sebagai sosok yang tidak mudah mempersoalkan perbedaan.  

  • Menghindarkan perpecahan

Allah melarang perpecahan dan mewajibkan persatuan umat dengan tetap berpegang teguh pada tali agama-Nya. 

Manusia dengan berbagai kepentingannya suatu saat harus bekerjasama dengan orang lain. Sisi lain dari kerjasama atau jalinan hubungan adalah timbulnya konflik atau persaingan. Setiap kali bertemu konflik dan persaingan, semua orang ingin menjadi pemenang. Ketika kontrol diri kurang, perjuangan merebut kemenangan ini akan mudah tenjadi tindakan yang menyakiti, curang, licik, kasar, dan merusak. Mungkin saja konflik atau persaingan ini tidak sampai melanggar hukum, tetapi dampak yang timbul adalah rusaknya hubungan. 

  • Melatih diri untuk bersikap  menghargai 

Bertoleransi adalah latihan bagi anak untuk melatih dirinya untuk menghargai, yaitu memberi pandangan positif bahwa setiap manusia memiliki perbedaan-perbedaan. Ada perbedaan yang munculnya berawal dari takdir yang tidak mungkin berubah, seperti halnya suku atau ras dan semua ciri yang ada di dalamnya. manusia tidak bisa mengubah kesukuan atau rasnya dan menghilangkan ciri genetis yang ia bawa sejak lahir karena orang tua dan nenek moyangnya memang seperti itu. Perbedaan yang terjadi sebagai akibat dari proses pencarian dan nasib yang  tidak sama, seperti status sosial yang menjadikan seseorang berada di keluarga kaya dan miskin. Ada perbedaan yang disebabkan oleh pengaruh lingkungannya seperti penggunaan dialek dan gaya komunikasi dalam bergaul. Ada perbedaan yang merupakan pilihan dan selera pribadi yang tak mungkin memaksa seperti keyakinan beragama, selera makanan, selera pakaian, dan hobi. 

Semua itu sudah terjadi. Saat ini melanda pada seseorang atau sekelompok orang, yang mereka inginkan adalah dihargai sebagaimana kita juga ingin dihargai oleh mereka.      

Saat berbincang dengan anak, anda  dapat mengajaknya merenungkan bahwa Allah telah menakdirkannya sebagai suku atau etnis yang saat ini terjadi, menjelaskan nasib yang terjadi saat ini dan kemungkinan mengubahnya, kemantapan berkeyakinan terhadap islam dan tujuan panjang di alam akhirat, serta apa saja hal-hal positif pada lingkungan sekitar. 

  • Melatih kekaguman terhadap kekuasaan Allah  

Toleransi akan membuat individu dapat berpikir lebih positif terhadap apa yang ia hadapi. Pada kenyataannya, Allah menciptakan makhluknya dalam bentuk dan jenis yang berbeda-beda. Dalam satu jenis makhluk yang sama, Allah memuat beberapa keragaman di dalamnya sehingga tetap tidak ada suatu ciptaan yang  sama dalam semua hal. 

Anda dapat mengajak anak untuk mengamati ayam atau kucing yang berbeda-beda warna dan ukuran ekornya meskipun pada jenis yang sama. Pada sebuah hutan atau di suatu kebun, hewan yang bernama burung itu ternyata tidak satu bentuk dan sifat. Sama-sama burung ternyata memiliki nama yang berbeda, bentuk yang berbeda, warna bulu dan ukuran berbeda, bunyi kicau yang beragam, dan perilaku yang tidak sama. Terhadap manusia, Allah menciptakannya dalam satu suku yang sama tetapi ciri wajah dan postur tubuhnya tetap berbeda-beda. Bahkan pada anak kembar pun ternyata tetap terdapat perbedaan, yaitu selera dan sifat-sifatnya.

Ajaklah anak mengamati sebuah pohon yang rindang dan memetik beberapa lembar daunnya. Dari jauh, sekilas tampak bahwa daun-daun itu semuanya sama. Begitu dipetik dan mengamatinya dari dekat, ternyata   daun-daun itu tidak sama persis. Semakin penasaran dengan membandingkannya dengan ribuan daun yang masih di ranting, semakin terpana bahwa semua daun di pohon itu tak satupun yang sama persis ukuran dan bentuknya. Padahal itu baru satu pohon saja. Ajak buah hati untuk merenung, dari bermilyar pohon yang tumbuh pada sebuah hutan, Allah menciptakan semua daunnya dalam bentuk yang tak satupun sama. Betapa kreatifnya Allah. 

Demikianlah perbedaan sebagai sebuah keniscayaan yang akan terjadi sebagai bukti bahwa Allah maha berkuasa atas ciptaannya. Allah bisa menciptakan makhluknya dalam banyak ragam, juga bisa menciptakan makhluknya dalam kondisi yang sama jika Dia menghendaki.  

  • Melatih sifat kepemimpinan  

Salah satu karakter khas seorang pemimpin adalah adil. Dalam banyak situasi, seorang pemimpin harus mengambil jalan musyawarah untuk memutuskan persoalan yang menjadi selisih umat. Musyawarah berarti bermufakat atas suatu perkara, sebagai jalan tengah paling maslahat yang disepakati bersama. Musyawarah tidak membolehkan kecondongan pemimpin pada salah satu kubu orang-orang yang ia pimpin. 

Peristiwa batin paling berat untuk bermufakat dalam musyawarah adalah memahami perbedaan atau meletakkan keinginan pribadi  tidak lebih penting daripada keinginan orang lain. Kadang harus merelakan ambisi pribadi yang menggebu tertunda karena ada kebutuhan orang lain, kadang ada saat harus ikhlas keputusan bersama tidak sesuai kehendak pribadi. 

Itulah pemimpin. Sedangkan kita telah berkata-kali berdoa kepada Allah, memohon anak-anak kita selain menjadi penyejuk hati (Qurrota a’yun) juga Dia jadikan pemimpin orang-orang yang bertakwa (muttaqiina imaman).

 

[Yazid Subakti]