Parenting – Bermain dengan Anak, ketika ayah dan bunda melihat anak-anak bermain, biarkan mereka dalam keasyikan dunianya.
Rasulullah tanpa ragu memasuki dunia anak-anak
Teladan kita Rasulullah Muhammad SAW meluangkan waktu untuk bermain dengan anak-anak. Beliau bercanda tawa dan bermain dengan mereka, memperlihatkan ekspresi bergembira. Bahkan di depan banyak sahabat, beliau SAW tidak malu-malu untuk bertingkah kekanakan bersama anak-anak kecil.
Dari Ya’la bin Murrah ia berkata, “Kami keluar bersama Nabi lalu kami diundang untuk makan. Tiba-tiba Husain sedang bermain di jalan, maka Rasulullah segera (menghampirinya) di hadapan banyak orang. Beliau membentangkan kedua tangannya lalu anak itu lari ke sana kemari dan Nabi mencandainya agar tertawa sampai beliau (berhasil) memegangnya lalu beliau letakkan salah satu tangannya di bawah dagu anak tersebut dan yang lain di tengah-tengah kepalanya kemudian Rasulullah menciumnya,” (HR. Bukhari).
Ath-Thabrani meriwayatkan dari Jabir ra., ia berkata,
“Saya masuk rumah Rasulullah saw., beliau sedang merangkak, dan di atas punggungnya Hasan dan Husain! ‘Beliau berkata, “Sebaik-baik unta adalah unta kamu berdua, dan sebaik-baik beban adalah kamu berdua”.
Ath-Thabrani meriwayatkan dari Jabir ra., ia berkata,
“Saya masuk ke rumah Rasulullah saw. Maka, beliau mengajak kami makan, tiba-tiba beliau melihat Husain ra. sedang bermain-main di jalan bersama anak-anak lain. Dengan cepat Rasulullah saw. menghampiri mereka, kemudian mengembangkan tangannya dan beliau lari ke sana kemari. Maka Rasulullah saw. membuat Husain tertawa, hingga ia mengambilnya, dan beliau meletakkan salah satu tangannya di dagunya dan tangan lain antara kepala dan dua telinganya. Kemudian beliau memeluk dan menciuminya, lalu berkata, Husain adalah daripadaku dan aku adalah daripadanya…” Allah mencintai orang yang mencintainya (Husain). Hasan dan Husain dua cucu dari sekian cucu-cucu”.
Menyapa dan menghibur
Rasulullah memanggil anak-anak dengan panggilan akrab khas anak kecil.
Anas bin Malik ra menceritakan bahwa beliau juga senang bercanda dengan Zainab. Rasulullah sering bercanda dengan Zainab, putri Ummu Salamah Ra. Kepada Zainab beliau memanggilnya dengan sapaan “Ya Zuwainab, Ya Zuwainab” berulang kali. Zuwainab adalah panggilan sayang atau akrab untuk anak-anak, yang artinya Zainab kecil.
Rasulullah juga suka menghibur anak-anak yang murung.
Dalam sebuah hadits,
“Sesungguhnya Nabi SAW dahulu menemui Ummu Sulaim dan beliau mempunyai seorang putra dari Abu Thalhah yang diberi panggilan Abu ‘Umair. Rasulullah SAW sering bercanda dengannya. Pada suatu hari Rasulullah SAW datang mengunjunginya dan mendapati anak itu sedang sedih. Mereka berkata: Wahai Rasulullah , burung yang biasa diajaknya bermain sudah mati.” Rasulullah lantas berkata: “Wahai Abu ‘Umair, apakah gerangan yang sedang dikerjakan oleh burung kecil itu?” (HR. Ahmad dan Abu Daud)
Membiarkan anak dalam keasyikan
Kebiasaan lain Rasulullah SAW ketika melihat anak-anak adalah membiarkan mereka dalam keasyikan dunianya. Kehadiran beliau tidak membuat anak terganggu dan segan dengan aktivitas bermainnya.
Dari Anas bin Malik ra. bahwa ia berkata,
Rasulullah saw. adalah orang yang paling baik budi pekertinya. Maka, pada suatu hari beliau mengutusku untuk suatu kebutuhan. Kemudian aku berkata, “Demi Allah saya tidak akan pergi, dan dalam diriku aku berniat untuk pergi setelah Rasulullah saw. memerintahkan aku pergi. Maka, aku keluar hingga lewat kepada anak-anak kecil yang sedang bermain-main di pasar. Tiba-tiba Rasulullah saw. berada di belakangku, aku melihat kepadanya dan beliau tertawa.” Kemudian beliau berkata, “Ya Anas, apakah kamu sudah pergi sebagaimana yang saya perintahkah tadi?” Anas berkata, “Ya, saya akan pergi wahai Rasulullah!” Anas berkata, “Demi Allah saya telah mengambil Rasulullah saw. selama sembilan tahun, tidak pernah saya mendapatkan beliau bertanya tentang perbuatan yang saya lakukan, ‘Kenapa kamu mengerjakan ini dan itu?” Atau tentang sesuatu yang saya tinggalkan tidak mengerjakannya, “Kenapa kamu tidak mengerjakan ini dan itu?”.(HR Muslim)
Suatu hari Ummul Mukminin A’isyah ra berkata, “Perhatikanlah keinginan anak-anak putri yang masih kecil.” (Muttafaqun ‘alaihi).
[Yazid Subakti]

