Khitan Untuk Si Buah Hati

Khitan Untuk Si Buah Hati

Khitan Untuk Si Buah Hati – Khitan berasal dari kata khatnun. Dalam bahasa medis, khitan disebut sirkumsisi (circumcision), yaitu membuang atau memotong bagian kulit luar ujung penis (bagian ini disebut kulup atau preputium). Pemotongan ini termasuk tindakan bedah yang aman, dilakukan dengan prosedur medis yang ketat untuk menghindari resiko bagi bayi atau anak-anak.

Khitan adalah syariat yang sudah lama sejak Nabi dan rasul terdahulu. Nabi Ibrahim as adalah salah satu utusan Allah yang mendapat syariat khitan, yaitu ketika usianya 80 tahun. Syariat ini kemudian masih berlaku juga kepada Nabi Muhammad SAW. Sebab, Risalah Rasulullah Muhammad SAW adalah memang berasal dari apa yang ada di zaman Nabi Ibrahim as.

Kemudian Kami wahyukan kepadamu (Muhammad): “Ikutilah agama Ibrahim seorang yang hanif.” (QS. An-Nahl : 123)

  1. Perintah Khitan

Ada cukup banyak hadits bahwa Rasulullah SAW memberi isyarat umatnya untuk berkhitan, menganjurkan, bahkan berupa perintah untuk berkhitan.

Buanglah darimu rambut kekufuran dan berkhitanlah! (HR. Ahmad an Abu Daud)

Khitan merupakan sunnah (yang harus diikuti) bagi laki-laki dan perbuatan mulia bagi wanita (HR. Ahmad dan Baihaqi)

Dari Abu Hurairah, Rasulullah SAW bersabda: “(Sunnah) fitrah itu ada lima, berkhitan, mencukur rambut sekitar kemaluan, mencukur kumis, memotong kuku dan mencabut bulu ketiak.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dari Abu Hurairah Ra. ia berkata bahwa Rasulullah SAW. bersabda: lima dari fitrah: memotong bulu kemaluan, khitan, memotong kumis, mencabut bulu ketiak dan memotong kuku (HR. Jama’ah)

Sesungguhnya Nabi Muhammad Saw mengkhitan Hasan dan Husein pada hari ketujuh dari kelahirannya (HR. Al-Hakim dan Baihaqi)

Rasulullah bersabda kepada para tukang khitan perempuan di Madinah: pendekkanlah sedikit dan jangan berlebih-lebihan sebab hal tersebut lebih menceriakan wajah dan disukai suami (HR. Abu Daud, Bazzar, Thabrani, Hakim dan Baihaqi)

  1. Pentingnya berkhitan

Tak ada satupun perintah Allah dan rasul-Nya yang tidak mengandung kebaikan. Semua yang dikehenadki-Nya dan semua yang diperintahkan oleh Nabi-Nya adalah kebaikan yang manusia dapat mengambil hikmahnya Ada tiga alasan terpenting bagi manusia untuk berkhitan.

  • Bentuk ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya

Khitan adalah salah satu media pensucian diri dan bukti ketundukan kita kepada apa yang diperintahkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Ibadah ini merupakan ritual kesetiaan seorang hamba kepada penciptanya.

Khitan juga bermakna pensucian diri, sebagaimana Rasulullah SAW sabdakan,

“Kesucian (fitrah) itu ada lima: khitan, mencukur bulu kemaluan, mencabut bulu ketiak, memendekkan kumis dan memotong kuku” (H.R. Bukhari Muslim).

  • Sebagai Iktiar kesehatan

Anak laki-laki yang tidak khitan menghasilkan smegma, yaitu zat semacam lemak yang mengendap di antara lipatan kulit kelaminnya bagian dalam. Smegma ini lama-kelamaan bisa membusuk, menjadi sarang virus yang bisa menjadi penyakit. Pada pria dewasa yang telah menikah, kuman ini dapat menularkan penyakit pada vagina bahkan rahim isterinya.

  • Agar praktis dan memudahkan dibersihkan

Alat kemaluan laki-laki yang dikhitan memiliki bentuk lebih praktis. Bagian yang selalu menutupi kepala penis tidak ada sehingga setiap kali habis kencing mudah membersihkannya.

Tentu saja, dengan mudahnya penis dibersihkan ini, berbagai resiko penyakit akan terhindarkan.

  1. Wajib bagi laki-laki

Meskipun istilahnya sunat, sebutan ini tidak serta merta mencerminkan bahwa ia hukumnya sunnah.

Khitan bagi lelaki hukumnya wajib. Pendapat ini berasal dari madzhab Syafi’i, Ahmad, dan sebagian kecil pengikut imam Malik. Imam Hanafi mengatakan khitan wajib tetapi tidak fardhu. Maksudnya, sebisa mungkin khitan tetapi derajat wajibnya tidak sejajar dengan amalan fardhu seperti halnya shalat lima waktu.

Menurut Ibnu Qudamah, khitan bagi lelaki hukumnya wajib dan khitan bagi perempuan merupakan kemuliaan. Andaikan seorang lelaki dewasa masuk Islam dan takut khitan maka tidak wajib baginya, sama dengan kewajiban wudhu dan mandi bisa gugur kalau takut membahayakan jiwa, maka khitan pun demikian.

  1. Waktu untuk berkhitan

Tidak ada ketentuan yang rinci mengenai usia berapa seorang anak harus berkhitan. Wajibnya khitan ketika anak laki-laki mencapai usia akil baligh karena pada saat itulah manusia wajib melaksanakan sholat. Sedangkan tanpa khitan, sholat tidak sempurna sebab alat kelaminnya masih terdapat bagian yang memungkinkan terkena najis.

Karena di masa baligh anak sudah harus menjalankan ibadah dengan kesucian yang sempurna, maka waktu untuk berkhitan adalah sebelum balig. Ini harus ada sebagai persiapan menuju masa-masa mukallaf (masa anak sudah wajib beribadah). Ketika anak sudah baligh, ia sudah terbebas dari bagian tubuh yang mengurangi kesempurnaan taharahnya (kesuciannya).

Ada riwayat yang mengatakan bahwa Rasulullah saw menghitan Hasan dan Husain (cucu beliau) pada saat umurnya baru 7 hari. Riwayat lain menjelaskan bahwa Nabi Ibrahim mengkhitan putera beliau Ishaq 7 hari setelah kelahirannya.

Yang paling tahu mengenai kapan anak dikhitan adalah orang tua. Anda harus mengenali kondisi anak pada saat ia harus dikhitan. Jika pada usia 7 hari tidak memungkinkan untuk mengkhitankan bayi, tidaklah perlu memaksakan diri melakukannya.

Yang salah adalah membiarkan anak laki-laki tidak siap khitan pada saat sudah mendekati masa akil baligh.

  1. Agar anak siap berkhitan

Keterlambatan anak untuk siap khitan dapat mempengaruhi semangatnya untuk berislam di masa mendatang. Oleh karena itu, cara yang paling bijak adalah mengkondisikan sedini mungkin anak laki-laki untuk siap khitan. Ini adalah kewajiban Anda sebagai orang tua.

  • Sampaikan kisah-kisah seputar khitan oleh orang-orang terdahulu. Misalnya kisah khitan nabi Ibrahim yang perintahnya datang pada saat usianya sudah tua. Perintah ini langsung melaksanakannya tanpa ragu sedikitpun.
  • Kenalkan bagian-bagian organ tubuhnya sejak dini. Pada saat mengenalkan alat kelamin, selalu hubungkan dengan cara memperlakukannya, yang salah satunya adalah kelak harus khitan.
  • Berikan gambaran bahwa khitan itu tidak menakutkan karena wajib bagi semua anak laki-laki muslim, dan tidak menyakiti karenaa ada pembiusan.
  • Ajak anak untuk berkunjung setiap kali ada tetangga atau anak saudara dikhitan. Biarkan ia menyaksikan langsung dan beri motivasi bahwa suatu ketika ia juga akan mengalaminya.
  • Jelaskan besarnya pahala dan kasih sayang Allah bagi orang yang berkhitan, serta manfaat khitan yang membuat alat kelamin menjadi sehat dan mudah membersihkannya.
  1. Orang tua harus lebih dulu siap

Yang paling utama dari semua topik adalah kesiapan orang tua. Pada banyak kejadian anak berkhitan di usia yang sudah mendekati balligh atau bahkan melewati baligh adalah karena kondisi orang tuanya yang memang tidak siap, tidak peduli, atau salah persepsi tentang khitan.

  • Orang tua yang tidak banyak pengetahuan tentang syariat khitan. Akibat dari keadaan ini adalah mereka tidak menganggap khitan sebagai sesuatu yang amat penting. Mereka tidak memikirkan hubungan antara khitan ini dengan kewajiban salat saat akil balignya, karena mungkin salat pun bukan sesuatu yang teramat penting bagi mereka. Tidak banyak yang bisa diharapkan dari orang tua yang tidak mempedulikan shalatnya. Sebab. Iapun akan tidak peduli dengan salat anaknya, apalagi hanya masalah khitan.
  • Orang tua yang menempatkan keumuman adat atau norma setempat di atas segala-galanya. Jika masyarakat sekitar umum berkhitan di usia remaja, maka anaknya pun mereka khitankan di usia remaja.
  • Orang tua yang berlebihan dan salah paham dalam menyayangi anak. Mereka mungkin saja memiliki keluasan pengetahuan islam, tetapi rasa kasihan yang salah kepada anak menghalanginya untuk menerapkan syariat. Anak tumbuh sampai besar, bahkan melewati masa akil baligh dalam keadaan belum khitan. Dan akhirnya, anak terpaksa dikhitan dalam keadaan yang sudah remaja.

Biasanya, anak yang khitan di usia baligh dari orang tua yang berlebihan ini adalah anak bungsu yang manja.

  • Orang tua yang mementingkan pesta penuh gengsi. Ada kalangan orang tua tertentu yang sangat menyukai atau terbebani hatinya dengan ritual dan pesta-pesta. Bagi mereka, khitan adalah peristiwa besar yang oleh karenanya harus ada perayaan. Oleh karena pesta atau perayaan kkhitan itu memerlukan biaya, sedangkan ketersediaan biaya belum mencukupi, maka tunda khitan sampai ketersediaan biaya mencukupi.

Keluarga seperti ini menyelenggarakan perayaan khitan dengan biaya yang jauh melebihi biaya khitan itu sendiri. Bahkan, kesibukan perayaan justru menjadikan fokus merawat luka khitan terabaikan.

Kita harus kembali kepada niat. Khitan adalah ibadah sebagai bentuk ketaatan, yang niatnya murni karena Allah. Artinya, khitan tidak berhubungan dengan sepi atau meriahnya acara dan pandangan lazim atau aneh oleh tetangga. Cukuplah tetesan darah si kecil menjadi saksi ketaatan ini, sebagai perjanjian suci antara seorang hamba dengan Rabb-nya.

Anda, sebagai orang tua, adalah pihak yang paling bertanggung jawab atas semua ini. Anda harus lebih dulu siap sebelum si kecil. Siap ilmu, siap mental, dan siap memurnikan niat.

  1. Merawat Luka Khitan

Bagian yang dipotong meninggalkan perlukaan. Perlukaan ini terdapat pada sekeliling penis bagian depan sebelum ujungnya sebagai akibat dibuangnya kulit kulup. Meskipun terjadi perlukaan melingkar, jarang ditemukan infeksi sampai parah. Namun demikian, Anda tetap bertanggung jawab melakukan perawatan dengan benar untuk mempercepat penyembuhan.

Luka khitan awalnya berupa pembengkakan pada bagian yang dipotong dan sekitar. Kadang luka ini berkembang menjadi putih kekuningan (berlemak). Mungkin keadaan ini akan berlangsung tiga hari sampai seminggu.

Untuk menghindari hal-hal yang tidak anda inginkan,

  • Luka bekas khitan tidak boleh basah dan tidak boleh lembab. Pada saat anak habis kencing, cukup lap ujung penis dengan tisu basah dan bilas sekaan sampai kering.
  • Secara berkala pastikan luka khitan terkontrol ke dokter dan terus menjalin hubungan dengan dokter.
  • Berikan obat yang anda dapatkan dari dokter dengan jadwal dan dosis sesuai saran, tanpa terputus sebelum masa pengobatan selesai.
  • Pakaian anak harus tetap bersih sekujur tubuh. Biasanya selama penyembuhan luka khitan anak tidak memakai celana, tetapi sarung.
  • Untuk memandikannya, usahakan luka tidak basah kecuali jika anda akan mengganti perbannya.
  • Pastikan dan pantau bahwa anak mendapat waktu istirahat yang cukup. Istirahat terbaik adalah tidur, pada malam atau sebagian siangnya.

Cukupkan asupan gizi, terutama protein. Berikan konsumsi dengan daging, ayam, ikan, telur atau sumber protein lain yang ia suka dan aman baginya.

 

[Yazid Subakti]