Wahai Rindu; Kerinduan bukanlah keindahan jika ia tak mampu membawa manusia kepada kebaikan. Jadikan rasa rindu sebagai pemacu diri untuk melakukan kebaikan. Jadikan keinginan untuk bertemu sebagai penyemangat untuk bertemu dengan-Nya. Berdoalah Anda akan bertemu dengan Allah di alam yang kekal.
Daftatr Isi
“Sebutlah namaku di sana, karena aku tak kuasa melupakanmu!”
Jangan mengembarakan kerinduan dengan lamunan. Bacalah kisah indah tentang kerinduan ini,
Oleh Al Mubarrid dari Abu Kamil dari Ishaq bin Ibrahim dari Raja’ bin Amru An Nakha’iy bahwa di kota Kufah hiduplah pemuda yang tampan dan rajin beribadah. Ia pernah tinggal di permukiman Nakha’ dan bertemu dengan seorang gadis solehah dari kaum itu. Pertemuan ia membuatnya jatuh cinta dan ingin memilikinya.
Dia memutuskan untuk tinggal di tempat yang lebih dekat dengan rumah gadis lalu mengirim utusan untuk menyampaikan lamaran kepada ayah gadis itu. Tetapi sayang, gadis itu ternyata telah dilamar oleh anak pamannya.
Ketika keduanya semakin merasa rindu, gadis itu mengirim utusan agar mendatangi pemuda itu untuk menitipkan pesan: “Aku sudah mendengar tentang besarnya cintamu kepadaku, akupun sedih karenanya. Jika engkau mau, aku dapat menemuimu. Atau jika engkau berkenan, aku dapat mengatur cara agar engkau bisa masuk ke dalam rumahku”.
Pemuda itu mengirim balasan, “Sesungguhnya aku takut adzab hari yang besar (saat kiamat nanti) jika aku mendurhakai Tuhanku. Sesungguhnya aku takut api neraka yang baranya tidak pernah padam dan tidak pernah surut lidah apinya”.
Demi mendengar jawaban itu, sang gadis menyadari dan memilih untuk taat beribadah serta menjauhkan dirinya dari segala kemaksiatan. Namun demikian, ia tidak mampu menghapus rasa rindunya kepada pemuda tersebut hingga ia meninggal dunia. Sang pemuda sering datang ziarah ke makam gadis itu, menangis di sana dan berdoa baginya.
Suatu hari, saat sedang berziarah, pemuda itu tak kuasa menahan kantuk hingga ia tertidur. Dalam tidurnya ia bermimpi melihat sang gadis yang ia cintai dalam rupa yang sangat menawan. Dia menanyakan keadaan sang gadis lalu menjawab, “Cinta yang manis wahai orang yang kurindukan, cintamu adalah cinta yang menuntun kepada kebaikan dan kesantunan”.
“Sampai kapan engkau seperti ini?” Tanya pemuda itu. “Hingga pencapaian kenikmatan dan kehidupan yang kekal di taman surga, suatu kekayaan yang tiada lenyap”. Berkatalah pemuda lagi, “Sebutlah namaku di sana karena aku tak dapat melupakanmu”. Gadis itu menjawab, “Demi Allah, aku juga begitu. Aku telah memohon kepada pelindungmu dan pelindungku agar Dia menyatukan kita berdua. Maka tolonglah aku untuk menggapai tujuan ini dengan sekuat tenaga”. Pemuda itu bertanya, “Kapan aku bisa melihatmu lagi?” Lalu gadis itu menjawab, “Tak lama lagi engkau akan bertemu denganku dan melihatku.”
Tanyakan, “Siapa yang aku rindukan?”
Bertanyalah kepada akal anda, “Siapakah engkau, wahai orang yang aku rindukan?”
Berilah waktu kepada pikiran untuk mengetahui kebaikan dan keburukannya. Berilah kesempatan kepada hati untuk merasakan manfaat dan mudaratnya.
Merindukan orang yang banyak keburukannya dan sedikit kebaikannya adalah kecelakaan besar. Merindukan orang yang mudharatnya lebih banyak daripada manfaatnya adalah kesia-siaan.
Jangan merindukannya bila ia mengajakmu kepada kesesatan. Sesungguhnya ia adalah syetan yang bertujuan untuk menjauhkan anda dari mengingat-Nya. Jangan merindukannya bila kerinduan itu membuat Anda berkurang dari mengingat-Nya.
Apakah ia pantas dirindukan?
Apakah ia yang anda rindukan benar-benar seorang hamba Allah yang taat dan oleh karenanya pantas merindukannya untuk menjadi bagian dari kehidupan anda? Jangan merindukan seseorang sebelum anda mengenal kebaikannya. Jangan merindukan orang fasik yang hanya akan menyengsarakan anda.
Sesungguhnya Rasulullah saw bersabda: “Siapa saja menikahkan wanita yang di bawah kekuasaanya dengan laki-laki fasiq, berarti memutuskan tali keluarga.” (HR. Ibnu Hibban, dalam Adh-Dhu’afa’ & Ibnu Adi)
Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda, “Jika datang melamar kepadamu orang yang engkau ridho agama dan akhlaknya, maka nikahkanlah dengannya, jika kamu tidak menerimanya, niscaya akan terjadi fitnah di bumi dan kerusakan yang luas.” (HR. Tirmidzi, hasan)
Pantaskah engkau merindukannya?
Sekarang bertanyalah kepada hati anda, “Apakah saya pantas merindukannya?”
Jangan menjadi perindu untuk seorang hamba yang anda tidak layak merindukannya. Jangan mengharap hadirnya hamba yang berhati suci jika kebersamaan itu nanti hanya akan anda kotori dengan kefasikan anda.
Seorang laki-laki bertanya kepada Hasan bin ‘Ali, “Saya punya seorang putri, siapakah kiranya yang patut jadi suaminya ?” Hasan bin ‘Ali menjawab, “Seorang laki-laki yang bertaqwa kepada Allah, sebab jika ia senang ia akan menghormatinya, dan jika ia sedang marah, ia tidak suka zalim kepadanya.”
Jangan merindukan seseorang dengan memperturutkan hawa nafsu. Kerinduan seperti ini akan tumbuh menjadi angan-angan panjang yang tak berkesudahan.
Rasulullah saw bersabda, “Orang yang dungu adalah orang yang memperturutkan hawa nafsunya dan berangan-angan mendapatkan surga dari Allah SWT.” (H.R. Tirmidzi dan Ibnu Majah).
Rindukanlah ia yang dirindukan oleh surga
Rindukanlah hanya orang yang surga pun merindukannya. Inilah kerinduan yang akan beriring panjang sampai kekal nanti. Anda akan merindukan saat ini, menikmati cinta nanti, dan melanjutkannya di akhirat nanti.
Surga merindukan empat orang:
Pertama, orang yang senantiasa membaca Al-Qur’an. Mereka telah terkondisikan jiwanya oleh Allah dengan ketenangan bathin, kasih sayang-Nya, kecintaannya, kemuliaan dan selalu di ingat kepada-Nya.
Kedua, orang yang mampu menjaga lidahnya. Ia akan berkata hanya dengan kalimat yang Allah ridhai dan anda pun rela padanya. Dialah penyimpan rahasia, peredam fitnah, dan bersih dari ghibah.
Ketiga, pemberi makan orang yang kelaparan. Ia adalah seorang hamba yang tidak memiliki harta kecuali apa yang dititipkan Allah kepadanya. Maka ia termakan sesuatu yang merupakan titipan untuk hamba-hamba-Nya yang lapar.
Keempat, orang yang berpuasa di bulan Ramadhan. Dialah orang yang ketaatannya amat kuat kepada Allah ketika orang lain ragu dan berpura-pura. Dialah orang yang terbiasa merasakan lapar dan haus meskipun makanan dan minuman tidak sulit baginya.
[Yazid Subakti]

