Kita Perlu Mempersiapkan Diri Sebelum Semuanya Berlangsung

Kita Perlu Mempersiapkan Diri Sebelum Semuanya Berlangsung

mempersiapkan diriParenting – Kita akan mengawali dari jarak yang agak jauh sebelum janin dalam rahim itu bersemayam. Sebelum Anda menyebut diri sebagai seorang isteri atau suami, sebelum Anda ditakdirkan untuk menemukan pasangan. Untuk intu kita perlu mempersiapkan diri sebelum menjalani semua nantinya.

Awalan itu bernama taubat. Yang utama adalah untuk diri sendiri, membersihkan semua pengotor jiwa dan perbuatan, membasuh hati dan jasad dari semua kehinaan dan kealpaan.

  1.   Taubat adalah permulaan semuanya

Taubat (at-Taubah) artinya kembali. Maksudnya, kita kembali kepada Allah dengan melepaskan hati dari belenggu yang membuatnya terus-menerus melakukan dosa, kemudian menuju ketaatan kepada-Nya. Taubat itu kita tinggalkan dosa dan kesalahan, menganggapnya buruk, menyesali, dan bertekad untuk tidak mengulanginya. Kemudian, memperbaiki apa yang mungkin bisa diperbaiki kembali dari amalnya. Semuanya karena Allah, bukan sebab yang lain.

Taubat mensyaratkan kita melakukan penyerahan diri kepada Allah yang diikuti dengan bertambahnya ketaatan kepada-Nya. Maka, bukanlah bertaubat jika seseorang sekedar meninggalkan perbuatan dosa saja, namun tidak menambah ketaatan kepada-Nya. Bukanlah bertaubat ketika seseorang meninggalkan kebiasaan buruknya, sementara tidak ada pengalihan kepada perbuatan baik.

Taubat ini mengawali semuanya. Menjadi pintu sebelum merencanakan apapun tentang pengasuhan anak-anak dan mendidik mereka. Sebelum ikhtiar menjemput jodoh, taubatlah adalah permulaannya. Sebelum melangkah menuju akad nikah, taubat adalah awalnya. Ketika sudah menikah, taubat adalah awal untuk ikhtiar kehamilan. Ketika bayi telah lahir, taubatlah yang menjadi gerbang pengasuhan dan mendidik anak-anak.

  1. Meninggalkan kebiasaan buruk

Salah satu penyebab gagalnya orang tua mendidik anak-anak adalah karena kebiasaan buruknya masih melekat. Orang tua yang terus menerus mempertahankan kebiasaan buruk mengalami kesulitan menyampaikan nasehat kepada anak-anak, aebab ia sendiri melanggar apa yang ia nasehatkan.

Oleh sebab itu, taubat yang diperintahkan Allah adalah taubat nasuha (tabat yang tulus dan total), dengan pembuktian yang sungguh-sungguh.

Pertama, dilakukan dengan ikhlas. Artinya, yang mendorong untuk bertaubat adalah kecintaan kepada Allah dan pengagungan adanya rasa takut akan adzab-Nya. Bukanlah taubat jika ia hanya karena berhajat pada tujuan keduaniaan tertentu.

Kedua, merasa sedih dan menyesali dosa yang pernah dilakukan, disertai semangat memurkai dan memerangi sendiri hawa nafsunya. Rasa sesal ini harus terbukti dengan kesungguhan mencari sendiri jalan taubatnya, mencari sendiri penutup masa lalunya yang kelam, dan mencari sendiri cara untuk istiqamah dalam kebaikan. Bukan perbaikan diri yang menggantungkan pada bantuan orang lain.

Ketiga, benar-benar berhenti dari kebiasaan buruk. Ada begitu banyak kebiasaan buruk yang dianggap biasa, sebab terlalu lama menjadi bagian dari perilaku. Jika kebiasaan buruk itu berkaitan dengan hak-hak sesama manusia, maka taubatnya adalah membebaskan diri dari hak-hak tersebut. Misalnya, jika keburukan itu berupa pengambilan harta orang lain, maka taubat tidak sah sampai kita kembalikan harta tersebut pada pemiliknya.

Keempat, bersegera mengejar amal salih sebagai bukti penyesalan atas waktu dan umurnya yang selama ini hanya untuk melakukan dosa-dosa, serta mengejar pahala yang masih terlalu sedikit daripada dosa-dosa.

  1. Mengharap kemudahan dan penjagaan dari Allah

Apa yang Anda lakukan terhadap keluarga dan anak-anak adalah atas kekuasaan Allah. Jika kita nmenyampaika kata-kata nasehat, keteladanan, dan kebaikan kepada anak-anak, maka itu semua adalah ikhtiar yang terbatas. Allah yang menentukan dampak dari apa yang kita ikhtiarkan. Kebaikan-kebaikan yang telah kita usahakan, akan menjadi kebiasaan hanya jika Allah memelihara kebaikan itu. Kesulitan-kesulitan menjadi mudah karena Allah memudahkannya.

Orang yang bertaubat dari keburukannya, akan mendapatkan kemudahan dan penjagaan dari Allah. Dia melimpahkan barakah-Nya, melimpahkan rezeki dan kemakmuran, juga pahala yang agung dan nikmat abadi di akhirat kelak. Dia berfirman,

“Maka aku katakan kepada mereka: ‘Mohonlah ampun kepada Rabbmu, -sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun-, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai.” [Nuh: 10-12]

Sedangkan Rasulullah SAW. bersabda:

“Barangsiapa senatiasa beristighfar, Allah jadikan untuknya kelonggaran dari segala keresahan; jalan keluar dari segala kesempitan, dan Allâh beri dia rezeki dari arah yang tidak ia sangka-sangka.” [HR Ahmad]

[Yazid Subakti]