Tak Harus Sempurna

Tak Harus Sempurna

Parenting – Tak harus sempurna, jangan menuntut kesempurnaan pada anak untuk mencapai semua yang harus ia raih. Kita harus memahami bahwa setiap orang memiliki kemampuan yang tidak sama. Kita menyampaikan teladan tokoh hebat sebagai penyemangat baginya untuk memperjuangkan diri menjadi yang lebih baik, bukan menuntut untuk seperti mereka, apalagi memaksanya.

Untuk melangkah menjadi ayah, biarkan anak laki-laki mewarnai dirinya sebagaimana bakat dan kemauan kuat yang asli ada pada dirinya. Seorang calon ayah bukanlah sosok persis seperti tokoh-tokoh ayah hebat yang pernah kita kenalkan kepadanya, tetapi seorang laki-laki pembelajar yang tidak harus sempurna pada saat ini. Begitupun menjadi seorang ibu, anak kita tetaplah akan menjadi dirinya tanpa harus meniru persis seperti tokoh ibu yang pernah kita perkenalkan kepadanya. 

Jadi, tak harus sempurna untuk menjadi laki-laki calon ayah atau perempuan calon ibu, sebab ada yang lebih penting dari itu yaitu rencana dan komitmen untuk ke sana. Jika ia memiliki rencana-rencana dan menguatkan komitmennya, itu adalah cukup baginya untuk menyuntikkan tekadnya melangkah menjadi ayah atau ibu.

Kita tak pernah kuasa menetapkan kesalihan kepada anak setelah bertahun-tahun mendampingi dan mendidiknya. Ikhtiar manusia hanya sampai pada batas menasehati, mengajarkan, melatih, mengarahkan dan membimbing tak kenal henti yang kemudian disandarkan pada tawakkal untuk menerima takdirNya. Setelah semuanya, anak menjadi salih atau tidak tergantung pada turunnya hidayah atau tidak. Sedangkan satu-satunya Dzat yang berkuasa menurunkan hidayah hanyalah Allah SWT. 

Hidayah itu ar-rasyaad yang artinya bimbingan, dan ad-dalaalah yang artinya dalil atau petunjuk. Maksudnya adalah semua bimbingan atau petunjuk dari Allah berupa kesadaran, keyakinan, atau pandangan kebenaran yang diturunkan kepada manusia. 

Hidayah menentukan anak kita menjadi bahagia berupa keberuntungan yang berujung surga, yang tanpanya anak akan menemukan sengsaranya berupa kesesatan yang berakhir di neraka.

“Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka dialah yang mendapat petunjuk (dalam semua kebaikan dunia dan akhirat); dan barangsiapa yang disesatkan Allah, maka merekalah orang-orang yang merugi (dunia dan akhirat)” (QS al-A’raaf: 178).

Namun bagaimanapun, hidayah itu milik Allah. Manusia yang akan mendapat hidayah hanyalah mereka yang Allah kehendaki mendapat hidayah. 

“Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi hidayah kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi hidayah kepada orang yang Dia kehendaki”. [Al Qashash: 56].

Beberapa kerabat Rasulullah SAW tak sempat menikmati manisnya hidayah, sekalipun Nabi telah mengupayakan ikhtiar kepadanya. Abu Thalib adalah kerabat Nabi yang banyak berjasa kepadanya, namun Beliau SAW tidak kuasa memberinya hidayah di saat pamannya itu meregang nyawa.

Wahai pamanku! Ucapkanlah La Ilaha Illallah, suatu kalimat yang dapat aku jadikan bukti untuk (membela)-mu di hadapan Allah.” Tetapi disambut oleh Abu Umayyah dan Abu jahal: “Apakah kamu membenci agama Abdul Muthalib?” Lalu Nabi mengulangi sabdanya lagi, akan tetapi mereka berdua pun mengulang kata-katanya itu. Maka akhir kata yang ia ucapkan, bahwa dia masih tetap pada agama Abdul Muthalib dan enggan mengucapkan La ilaha Illallah. Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sungguh aku akan memintakan ampunan untukmu selama aku tidak dilarang” 

Di saat peristiwa itulah Allah menurunkan wahyu-Nya, 

“Tiadalah sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampun (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik, walaupun orang-orang musyrik itu adalah kaum kerabat (nya).” (QS. At Taubah: 113)

  • Batas kemampuan kita 

Yang dapat menjadi sebab datangnya hidayah Allah adalah kesungguhan untuk bergantung kepada-Nya. Ibnul Qayyim berkata, “Jika semua kebaikan berasal dari taufik yang datangnya dari Allah, dan bukan dari tangan manusia, maka kunci untuk membuka pintu taufik adalah berdoa, menampakkan rasa butuh, sungguh-sungguh dalam bersandar, selalu berharap dan takut kepada-Nya. Maka ketika Allah telah memberikan taufik ini kepada seorang hamba, berarti Dia ingin membukakan taufik kepadanya. Dan ketika Allah memalingkan dari seorang hamba, berarti pintu kebaikan akan selalu tertutup baginya”.

Mari menjadi orang tua yang bersahabat dengan Al-Qur’an. Sebab Al-Qur’an turun oleh Allah sebagai petunjuk bagi manusia, yaitu mereka yang menjadikannya sebagai pedoman hidup. 

 “Sesungguhnya al-Qur’an ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang paling lurus dan memberi kabar gembira kepada orang-orang Mu’min yang mengerjakan amal saleh bahwa bagi mereka ada pahala yang besar” (QS al-Israa’: 9).

Seberapa kita mampu istiqamah dengan kebaikan yang kita lakukan, juga menjadi sebab turunya hidayah. Para sahabat Nabi berlimpah hidayah karena mereka adalah contoh kesempurnaan dalam istiqamah.

 “Jika mereka beriman seperti keimanan yang kalian miliki, maka sungguh mereka telah mendapat petunjuk; dan jika mereka berpaling, sesungguhnya mereka berada dalam perpecahan” (QS al-Baqarah: 137).

Mereka menerima Islam dengan kelapangan dada, ridha Islam sebagai agamanya dan Al-Qur’an sebagai kitabnya, dengan semua bentuk ketaatan menerimanya. 

  • Tak henti memohon 

Doa-doa permohonan itu selalu mengiringi ikhtiar. Sepanjang kebersamaan bersama buah hati sejak kelahirannya, kita terus memohonkan hidayah untuknya. Sedangkan semua yang kita perlakukan padanya adalah ikhtiar dari apa yang kita mohonkan itu. 

Sebagaimana yang menjadi perintah, kita akan selalu memohon kepada-Nya hidayah. Kita memohon di setiap rakaat salat, yaitu ketika membaca surah al-Fatihah;

 “Berikanlah kepada kami hidayah ke jalan yang lurus” (QS Al Fatihah: 6)

Kita memiliki hajat yang sangat besar terhadap hidayah ini. Sebab tidak ada keselamatan dari siksa neraka dan tidak ada capaian menuju surga kecuali Allah telah menurunkan hidayah-Nya. 

Mungkin saja kita telah mendapatkan hidayah. Tetapi karena harus berikhtiar menyampaikan kebenaran kepada anak, maka kita membutuhkan tambahan hidayah dari-Nya agar kebenaran yang kita serukan itu tersampaikan. Orang tua melakukan misi penyampaian petunjuk Allah, maka ia harus terus menerus memohon petunjuk kepada-Nya. 

Jadi, orang tua adalah manusia yang paling membutuhkan hidayah Allah. Sebab, bagaimana mungkin seseorang berikhtiar mengupayakan turunnya hidayah kepada anaknya, kalau ia sendiri jauh dari hidayah-Nya. 

Sambil terus memohon dan berbuat apapun yang bisa diperbuat, biarkanlah Allah yang menentukan. Kita sangat menginginkan anak-anak yang menjadi amanah Allah ini segera mendapat hidayah menemukan kesalihannya. Tetapi Allah Maha Tahu bagaimana memperlakukan para hamba yang belum saatnya mendapat hidayah.

 

[Yazid Subakti]

 

___________________________

Bunda, udah tau belum kalo ada jasa aqiqah di Jogja yang praktis dan ekonomis, Aqiqah Al-Kautsar.

Aqiqah Al-Kautsar adalah layanan jasa aqiqah Jogja terbaik sejak 2012 dan sudah dipercaya oleh lebih dari 11.000 sohibul. Nah bagi Bunda yang berdomisili di Jogja dan sudah mulai memasuki masa HPL, Aqiqah Al-Kautsar bisa jadi rekomendasi layanan aqiqah Jogja yang praktis.

Jasa aqiqah Jogja Al-Kautsar menyediakan banyak pilihan menu. Daging kambing aqiqah diolah menjadi berbagai menu lezat, mulai dari masakan nusantara, masakan timur tengah, hingga western. Nah Bunda bisa memilih sesuai dengan selera Bunda dan keluarga.

Untuk pemesanan, Bunda bisa hubungi kami di 089603897933 atau datang langsung ke kantor kami di Jl. Kaliurang Km 4,5 Tawangsari CT II D2, Sleman, DIY.