Parenting – Pada umumnya, anak-anak bercita-cita tanpa mengetahui dengan benar makna cita cita anak tersebut yang mereka sebutkan. Bahkan mereka tidak mengerti dengan jelas, apa itu cita-cita. Yang mereka bayangkan adalah gambaran nyata yang pernah mereka lihat mengenai sosok tertentu atau profesi tertentu.
Dengan keadaan ini, dapat dimaklumi jika cita-cita anak mudah berubah. Anak perempuan yang masih di taman kanak-kanak mungkin bercita-cita menjadi penyanyi, pramugari, atau dokter. Karena ia pernah melihat apa yang disebutkan. Anak laki-laki sangat mungkin bercita-cita menjadi tentara, pilot, atau pembalap. Ini semua karena kekagumannya pada tokoh-tokoh yang mereka lihat sebelumnya juga.
Semakin bertambah usia, kemampuan berpikir abstraknya semakin baik dan pengalaman melihat berbagai profesi semakin banyak. Pada saat awal masa akil baligh mungkin cita-citanya itu sudah berubah lebih masuk akal. Ia mulai berpikir membandingkan antara kemampuan atau minat, manfaat profesi tertentu, dan peluang untuk menggapainya.
Daftatr Isi
Hanya profesi tertentu yang diidamkan
Meskipun berpengalaman melihat banyak profesi, anak-anak cenderung hanya memilih profesi tertentu untuk diidamkan. Anak perempuan banyak yang mendambakan profesi dokter, bidan, atau guru. Anak laki-laki ingin menjadi polisi atau tentara, arsitek, atau mekanik. Seolah-olah tidak ada profesi lainnya yang baik dan menjanjikan masa depan.
Itu terjadi karena mereka merasakan jasanya, atau mengalami saat-saat mendapat pertolongan dari profesi tersebut sehingga mengakui kehebatannya. Dokterlah yang menolongnya ketika ia atau keluarganya sakit, maka ia menganggap dokter memang hebat. Begitu juga bidan kurang lebih sama. Guru memberi ilmu setiap hari di sekolah dan darinya seluruh anggota keluarga dididik menjadi pintar. Maka guru memang orang hebat yang pernah ia lihat. Bagi anak laki-laki, tentara tampak gagah dan menjaga negeri sehingga kita semua merasa aman. Arsitek dengan jelas tampak gagah membangun rumah dan kantor yang ia saksikan sendiri, dan mekanik adalah orang yang berjasa merawat kendaraan ayahnya setiap kali membutuhkan perawatan.
Dengan keterbatasan memandang profesi ini, orang tua harus lebih berjuang memperluas wawasan anak. masih banyak profesi lain yang harus dikenalkan tanpa harus merasakan langsung jasa mereka. Ada pengusaha, pilot, pelatih, olahragawan, psikolog, peneliti, ahli bahasa, wartawan, desainer, penulis, konsultan, dan lain-lain.
Pengaruh cita-cita pada anak
Cita-cita memberi bayangan model figure dalam benak anak yang ingin ia tiru di masa mendatang. Dengan gambaran model ini, gaya dan perjalanan kehidupannya akan dipengaruhi oleh apa yang ia inginkan untuk terwujud nyata.
Anak yang bercita-cita menjadi dokter menemukan sosok dokter sebagai model suksesnya. Ia bisa memulai perilakunya cenderung meniru model dokter. Jika model nyata yang jadi panutan itu adalah dokter berkepribadian baik, ia pun akan terpengaruh kebaikannya. Tetapi ketika modelnya bukan tokoh yang baik, maka yang didapat adalah berdampak negatifnya.
Anak laki-laki yang bercita-cita menjadi pembalap, kemudian suatu saat melihat figure pembalap idolanya berbuat maksiat, maka bisa saja ia terinspirasi untuk berbuat maksiat pula. Inilah dahsyatnya cita-cita. oleh karena itu, jika anak telah menyebut suatu cita-cita, anda dapat menelisik lebih dalam tokoh idola nyata yang ia gambarkan sebenarnya siapa. Jika tokoh tersebut ternyata kurang dapat menjadi panutan, Anda dapat mempengaruhinya dengan mengalihkan tokoh nyata yang lebih baik.
Dukungan orang tua
Sementara anak menggebu dengan cita-citanya, orang tua mengarahkan mereka dengan memainkan berbagai peran.
Menjadi motivator
Orang tua menjadi sumber dorongan semangat bag anak untuk terus memperjuangkan cita-cita. Seorang motivator tidak boleh kehilangan bahan bakar untuk menyemangati anaknya, tidak boleh kehilangan cara untuk meyakinkan bahwa cita cita yang sudah menjadi tekad itu akan terwujud dengan izin Allah. Tentu saja, sebagai pemberi semangat, orang tua tidak boleh kalah semangat dibanding anak yang disemangati.
Menjadi fasilitator
Fasilitator memainkan peran sebagai pemberi kebutuhan. Anak menempuh cita-cita melalui jalan yang tidak singkat dan bukan tanpa hambatan. Selama perjalanan ini, banyak kebutuhan yang harus dipenuhi oleh orang tua. Bukan hanya kebutuhan materi dan sarana bendawi, tetapi juga bekal mental menghadapi tantangannya. Orang tua mesti tampil sebagai sosok yang kuat, menularkan jiwa teguh kepada anak.
Menjadi pengarah bakat
Salah satu persoalan klasik tetapi selalu berulang adalah sulitnya membedakan antara minat dan bakat. Beberapa anak berminat atas suatu cita-cita karena kagum, sementara bakat yang sesungguhnya kurang memungknkan meraihnya. Contohnya, seorang anak berminat menjadi seorang atlet, mengharuskan ia juga bakat dalam olahraga (memiliki kecerdasan fisik yang baik).
Orang tualah yang menjelaskan ini semua. Cita-cita yang paling masuk akal adalah yang berangkat dari minat dan sekaligus berbakat. Oleh karenanya, anak perlu dikondisikan untuk mengetahui bakatnya, bukan hanya minat atau keinginannya.
Menjadi pengendali
Bagaimanapun pikiran anak tidak akan sama seperti pikiran orang dewasa. Anak-anak berpikir tanpa banyak pertimbangan sehingga dalam perjalanan cita-cita mungkin saja berubah, tiba-tiba mengaku tak memiliki cita-cita, bahkan merasa bahwa cita-cita itu tidak perlu. Beberapa anak mungkin mengubah cita-cita hanya karena sesaat melihat sosok yang ia kagumi kemudian ingin menjadi seperti itu tanpa berpikir kebaikan atau keburukannya.
Orang tua mengendalikan ketidakstabilan cara berpikir anak-anak, mengembalikan perjalanan cita-cita seperti awalnya. Jika anak memang ingin berganti cita-cita karena wawasannya yang semakin luas, itu adalah haknya. Orang tua harus memahami ini, dan kembali menjadi pengendali agar cita-cita barunya itu ia kejar dengan sungguh-sungguh.
Menjadi pendamping
Peran utama seorang pendamping adalah hadir. Maksudnya, hadir secara fisik dan terutama hadir dalam jiwa. Kehadiran ini dapat membantu orang tua mengidentifikasi apakan cita-cita anak itu berasal dari dirinya sendiri, ikut-ikutan temannya, atau hanya untuk menyenangkan orang tua yang memang menginginkan demikian.
Orang tua menyelami jiwa anak sehingga benar-benar mengetahui alasan anak menentukan cita-citanya: mengapa ia bercita-cita seperti itu dan apa yang paling ia inginkan dari cita-cita itu. Orang tua perlu mengetahui bagaimana kondisi jiwa anak ketika menetapkan cita-cita dan mengejarnya dan apa saja kondisi yang menjadikan ia lemah dan kuat dalam perjalanan mengejar cita-citanya itu.
Kehadiran dengan jiwalah yang menjadikan orang tua mengetahui mengapa suatu saat anak malas membicarakan cita-cita, ingin beralih cita-cita, bahkan membuang cita-citanya.
Dukungan yang salah
Masih banyak orang tua yang mengawal cita-cita anaknya dengan nada memaksa dan mendorong melampaui batas kemampuan dan tujuan anak yang sebenarnya.
Dengan ambisi tertentu, orang tua telah menetapkan cita-cita anak-anaknya satu persatu. Merasa sebagai orang tua yang telah berjasa menghidupi dan membiayai sekolah, orang tua merasa berhak menguasai kehidupan anak dan mengatur target masa depannya.
Inilah bentuk dukungan yang salah. Ketika anak semakin luas bergaul dan banyak pengetahuan, ia mulai sadar bahwa cita-citanya yang telah orang tuanya tetapkan itu di luar kemampuannya, di luar bakat atau di luar tujuan hidup yang ia bayangkan. Hanya ada dua kemungkinan besar hasilnya, ia tetap patuh sampai dewasa dalam ketergantungan, atau ia memberontak dan akhirnya meregang hubungan dengan keluarga.
[Yazid Subakti]

