Bersama-sama, Tanamkan Prinsip Ini!

Bersama-sama, Tanamkan Prinsip Ini!

Parenting – Ada prinsip luhur yang sangat baik ditanamkan kepada anak-anak sebagai pencari ilmu. Cobalah tanamkan prinsip tersebut kepada si kecil.

  1. Menuntut ilmu adalah keharusan 

Yang membedakan manusia dengan makhluk lain adalah hati dan akal pikirannya. Oleh karena itu, menuntut ilmu adalah keharusan yang juga sekaligus kebutuhan. Ia menjadi kunci segala kebaikan dan sarana untuk menunaikan apa yang Allah wajibkan pada kita. Begitu pentingnya ilmu bagi manusia, sampai Rasulullah SAW menyatakan wajibnya menuntut ilmu bagi setiap muslim. 

Beliau SAW bersabda,

“Menuntut ilmu itu wajib atas setiap Muslim” (HR. Ibnu Majah)

Kebutuhan pada ilmu lebih besar daripada kebutuhan pada makanan dan minuman, sebab kelestarian urusan agama dan dunia bergantung pada ilmu. Imam Ahmad mengatakan, “Manusia lebih memerlukan ilmu daripada makanan dan minuman. Karena makanan dan minuman hanya dibutuhkan dua atau tiga kali sehari, sedangkan ilmu diperlukan di setiap waktu.”

  • Dimudahkannya jalan menuju surga

Ilmu dapat menjadi sebab seorang hamba mudah jalannya menuju surga. Sebagaimana oleh hadits Abu Hurairah ra, Rasulullah SAW bersabda,

“Barang siapa menelusuri jalan untuk mencari ilmu padanya, Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga” (HR. Muslim). 

Mengajarkan atau memberi kesempatan anak untuk mempelajari ilmu mengenal Allah, ilmu tentang tata cara ibadah, ilmu seputar hukum-hukum islam, atau ilmu untuk menguasai bacaan dan mendalami Al-Qur’an berarti memberi kemudahan baginya jalan menuju surga. 

  • Sebagian Ilmu adalah kekal

Sebagian ilmu, yaitu ilmu-ilmu syar’i akan kekal oleh Allah dan tetap memberi manfaat meskipun pemiliknya telah meninggal. 

Rasulullah menyampaikan dalam haditsnya,

“Jika seorang manusia meninggal, terputuslah amalnya, kecuali dari tiga hal: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, atau anak shalih yang berdoa untuknya” (HR. Muslim). 

Ilmu yang dikuasai, kemudian diajarkan kepada orang lain dan tetap bermanfaat bagi manusia akan mengantarkan pemiliknya di alam kubur mendapat amal jariyah. Di alam kubur, pemilik ilmu tetap mendapat aliran pahala dari orang-orang yang mendapat manfaat atau ajaran dari ilmunya. 

  • Ilmu menuntun pada ketaatan 

Yang paling takut pada Allah adalah orang yang berilmu. Allah menyatakan demikian dalam kitab-Nya,

“Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama” (QS. Fathir: 28).

Para ulama adalah orang yang berilmu. Semakin seseorang mengenal Allah Yang Maha Agung, Maha Mampu, Maha Mengetahui dan Dia memiliki sifat dan nama yang sempurna, mengenal Allah lebih sempurna, maka ia akan lebih memiliki sifat takut dan akan terus bertambah sifat takutnya yang menuntunnya kepada ketaatan. 

  • Orang berilmu akan diangkat derajatnya

Ini sudah menjadi janji dan ketetapan Allah, seperti dalam firman-Nya,

“…Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat…” (QS. Al-Mujadilah : 11).

Mendorong anak-anak menuntut ilmu secara tidak langsung adalah ikhtiar orang tua mengangkat derajat mereka. 

  1. Prinsip seorang pencari ilmu 

Ada prinsip luhur yang sangat baik tanamkan kepada anak-anak sebagai pencari ilmu. Prinsip ini berisi enam pesan dari Imam Az Zarnuji yang yang tertuang dalam kitabnya, Ta’limul Muta’allim. 

“Ingatlah, Engkau tidak akan mendapatkan ilmu kecuali dengan memenuhi enam syarat. Saya akan beritahukan keseluruhannya. Yaitu kecerdasan, kemauan, sabar, biaya, bimbingan guru, dan waktu yang lama ” 

  • Kecerdasan (Dzakaa-un)

Ada dua jenis kecerdasan yang harus ada bagi pencari ilmu, yaitu kecerdasan bawaan yang berasal dari Allah, dan kecerdasan yang ia dapatkan melalui ikhtiar. Kecerdasan bawaan atau potensi menjadi bekal memilih tempat mencari ilmu dan jenis ilmu yang ia cari, sedangkan kecerdasan hasil ikhtiar bisa melalui motivasi dan bimbingan.

  • Semangat yang kuat (Hirsun)

Pencari ilmu harus memiliki semangat dan dorongan yang kuat untuk menguasai ilmu yang ia cari (courious). Tidak ada perasaan puas dalam pengetahuan, selalu ingin tahu dan semakin ingin menguasainya. Selama belajar, pikiran mampu fokus pada apa yang gurunya sampaikan. 

  • Kesabaran (Ishtibarin)

Akan banyak tantangan dan kesengsaraan dalam menuntut ilmu. Kesabaran menuntut ilmu berarti tidak mudah menyerah atas tantangannya. Tantangan dari diri sendiri adalah rasa malas dan lelah atau bosan, sedangkan tantangan dari luar diri sendiri adalah tempat dan fasilitas belajar yang kurang nyaman atau cara penyampaian guru yang kurang sesuai selera.

  • Biaya (Bulghatin)

Anak-anak perlu sadar bahwa ilmu memerlukan biaya. Biaya adalah uang sebagai bentuk kewajiban untuk pembayaran, imbalan dalam bentuk apapun sebagai ungkapan balas jasa atau rasa terima kasih, perbekalan yang mendukung selama masa-masa mencari ilmu, dan apapun yang di keluarga sebagai bentuk pengorbanan demi mendapatkan ilmu. Imam Malik menjual salah satu Kayu penopang atap rumah untuk menuntut ilmu. Imam Ahmad melakukan perjalanan jauh ke tempat negara untuk mencari ilmu. Semuanya dengan satu niat, yaitu demi mendapatkan ilmu.

  • Petunjuk Guru (Irsyadu ustadzin)

Setiap penuntut ilmu adalah murid, yang mendapat ilmu dari gurunya. Meskipun seorang murid dapat membaca kitab, ia memerlukan bimbingan guru agar apa yang ia baca tidak menyesatkannya. Guru menjadi tempat bertanya, sosok yang mengarahkan, memberi penjelasan dan peneguhan atas ilmu yang ia kaji. 

Dengan jasa guru seperti ini, murid harus tahu diri dan menghargai gurunya. 

  • Waktu yang Panjang

Maksudnya adalah perlunya meluangkan waktu secara khusus, bukan belajar di waktu-waktu sisa. Ini mengandung hikmah tentang adab belajar, yaitu bahwa menuntut ilmu memerlukan penghargaan atas ilmu itu. Meluangkan waktu utama atau untuk mempelajari ilmu berarti menyediakan waktu yang cukup, kemudian menjadikan kegiatan belajar sebagai prioritas kegiatan sepenuhnya di dalamnya. Ibu adalah bukti kesungguhan dan penghormatan terhadap ilmu yang ia pelajari dan guru yang ia hadapi. Sebaliknya, belajar di waktu sisa adalah bukti ketidak sungguhan dan menyepelekan ilmu, serta tidak adanya penghormatan kepada guru. 

[Yazid Subakti]