Shigat Pernikahan, Lafal-Lafal Pernikahan – Bagian 2

Shigat Pernikahan, Lafal-Lafal Pernikahan – Bagian 2

Lanjutan dari materi lafal pernikahan bagian 1

Al-Mu’aatha (saling memberi)

Para ahli fikih bersepakat bahwa akad nikah tidak sah dengan menggunakan al-mu’aatha. Itu demi menghormati alat vital, urgensi, dan kemuliaannya. Akad nikah tidak sah kecuali dengan menggunakan lafal yang sharih (jelas) atau kinayah (sindiran) menurut pendapat ulama Hanafiah dan Malikiah, dan dengan lafal sharih menurut para ulama Syafi’iah dan Hanabilah, sebagaimana yang telah dijelaskan.

Menurut pendapat yang kuat dalam madzhab Hanafi, akad nikah tidak sah dengan menggunakan lafal iqrar (pengakuan), maksudnya, lafal iqrar bukan termasuk shighat akad. Seandainya seorang perempuan berkata, “Aku mengakui bahwa kamu adalah suamiku”, dan sebelumnya tidak pernah terjadi ikatan pernikahan antara dia dan si lelaki tersebut, maka hal itu tidak sah. Karena pengakuan itu dilakukan atas sesuatu yang sudah ada, bukan sekadar mengarang cerita.

Lafal-lafal yang diubah

Menurut para ulama Hanafiah, akad nikah tidak sah dengan menggunakan lafal-lafal yang diubah, seperti tajaw waj tu, djauw wajtu, djaw wajtu sebagai pengganti dari lafal tadjaw waztu karena tidak benar maksudnya.

Akan tetapi jika suatu kaum telah bersepakat untuk mengucapkan lafal tersebut dengan pelafalan yang salah ini, sekiranya dengan lafal salah tersebut mereka bermaksud untuk penghalalan bersenang-senang dengan perempuan, dan itu timbul dari maksud dan kehendak mereka, maka akad nikahnya sah. Karena lafal tersebut dalam keadaan semacam ini menjadi kosakata baru dari mereka. Maksudnya, lafal tersebut telah menunjukkan makna pernikahan menurut adat mereka.

Oleh karena itu, pernikahan sah dengan menggunakan lafal tersebut. Begitu juga dengan kedua belah pihak yang melakukan akad nikah hanya memahami lafal tersebut merupakan bentuk pengungkapan dari pernikahan. Juga tidak bermaksud selain makna pernikahan tersebut, menurut adat mereka.

Para ulama Syafi’iah berkata bahwa akad nikah sah dilakukan dengan lafal-lafal yang diubah, seperti jaw wadj tu. 

Lafal-lafal bukan bahasa Arab

lafal pernikahan

Kebanyakan para ahli fikih bersepakat bahwa orang asing (bukan Arab) yang tidak mampu mengucapkan bahasa Arab, sah melakukan akad nikah dengan menggunakan bahasanya sendiri. Bahasa yang ia pahami dan pakai setiap harinya. Karena yang dipandang dalam akad itu adalah maknanya. Karena ia tidak mampu berbahasa Arab maka gugurlah kewajiban untuk mengucapkan bahasa Arab, sebagaimana layaknya orang bisu. Orang tersebut harus mengucapkan kata yang bermakna “tazwij” (mengawinkan) atau “inkah” (mengawinkan), sekarang kata tersebut mencakup makna kata yang terkandung di dalam bahasa Arab-nya.

Akan tetapi, jika yang melakukan akad pandai berbahasa arab maka menurut jumhur ulama dan pendapat paling benar dalam madzhab Syafii. Untuk mengucapkan dengan semua bahasa yang memungkinkan untuk bisa saling memahami. Karena tujuannya adalah mengungkapkan keinginan, dan itu bisa terjadi di dalam setiap bahasa. Karena dia menggunakan lafalnya yang khusus maka akad nikahnya sah, sebagaimana ketika melakukannya dengan menggunakan lafal bahasa Arab.

Para ulama Hanabilah berkata, “Akad nikah tidak boleh kecuali dengan menggunakan bahasa Arab bagi orang yang mampu berbahasa Arab. Barangsiapa yang mampu mengucapkan lafal nikah dengan bahasa Arab maka akad nikahnya tidak sah jika melakukannya dengan menggunakan bahasa selain bahasa Arab. Karena ia telah berpindah dari lafal “tazwiij” dan “inkahi’ padahal dia mampu mengucapkannya. Oleh sebab itu, pernikahannya tidak sah sebagaimana tidak sahnya ketika menggunakan Iafal hibah (hadiah), meniual dan menghalalkan.

Perundangan Syiria (Pasal 6) mengambil pendapat jumhur ulama. Pasal tersebut berbunyi, “ijab dan qabul dalam akad nikah bisa dengan lafal-lafal yang menunjukkan atas makna nikah. Baik secara bahasa maupun adat istiadat.”

Tinggalkan Balasan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan. Required fields are marked *