Paket Aqiqah Darussalam Anak Perempuan Porsi Pribadi

Paket Aqiqah Darussalam Anak Perempuan Porsi Pribadi

Kami Aqiqah Al Kautsar, siap membantu urusan aqiqah anda. Kami bantu menyiapkan domba atau kambing yang baik, Kami potong dan kami masak sesuai dengan selera menu anda.
Kami mempunyai kandang sendiri, anda bisa mengunjungi kandang dan memilih sendiri domba atau kambing untuk dipotong sendiri, selebihnya kami yang akan menyelesaikannya.
Kami dapat membantu menyebarkan atau membagikan kepada para mustahiq atau panti asuhan yang anda rekomendasikan atau kami wakalah dari anda untuk mewakili memberikan panti-panti asuhan. Kami mengantarkan ke seluruh area DIY.
Kami menggunakan Bumbu dan rempah local racikan kami sendiri, tanpa pengawet, tanpa zat pewarna, semua natural yang terjamin mutu dan kebaikannya serta kehalalaannya tentu saja. Kami juga sudah memiliki sertifikat HALAL MUI, Laik Hygiene dari Dinkes Sleman, dan kami tergabung dalam APJI Jogjakarta.
Dapur kami bersih dengan seluruh meja dari stainless, food grade, yang akan menjamin kebersihan dan kesehatan olahan domba atau kambing serta olahan lainnya.


Paket Aqiqah Darussalam Anak Perempuan Porsi Pribadi:
1 Ekor Kambing + Masak
Jumlah Porsi: 50
Harga: Rp 1.900.000

Isi Nasi Box: Nasi porsi pribadi, Olahan Kepala Kaki Tulang & Jeroan
Menu Pendamping: Sambel keladi teri, kerupuk dan acar
Dessert: Puding

Pilihan Menu:
Olahan Daging: Krengsengan, Lada Hitam, Rendang, Sate, Teriyaki, Barbeque, Kambing Kecap Pedas.
Olahan Kepala, Kaki, Jeroan dan Tulang: Gule, Soto Betawi, Sop Kambing, Tengkleng

Fasilitas Free:
-Sertifikat Aqiqah
-Selebaran Aqiqah
-Cukur Gundul
-Pengantaran Aqiqah
-Penceramah Aqiqah

Informasi & Pemesanan hubungi kami via telepon, SMS, Whatsapp (0812 2234 6099)
Alamat: Jl Kaliurang Km 4,5 Tawangsari CT II D2 Yogyakarta

Cara Akikah Anak Yang Baik dan Benar

Akikah anak laki-laki dan perempuan menurut Islam sesuai sunnah bisa diartikan suatu proses penyembelihan/pemotongan kambing yang ditujukan untuk mewujudkan rasa syukur kepada Allah SWT yang telah memberikan karunia berupa anak (putra atau putri) kepada pasangan yang telah menikah. Beberapa riwayat hadits menyebutkan bahwa bagi anak laki-laki disunahkan untuk menyembelih dua ekor kambing, sedang bagi anak perempuan hanya menyembelih satu ekor kambing.

Pelaksanaan akikah anak laki-laki dan perempuan menurut Islam yang telah disepakati ulama secara sahih yakni di hari ketujuh dari kelahiran bayi tersebut. Kesepakatan ini berdasarkan dari dalil hadist sahih yang diriwayatkan oleh Samurah ibn Jundub di atas. Beliau menungkapkan, bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda seorang anak yang telah terikat dengan aqiqahnya, maka ia akan disembelihkan aqiqah di hari ketujuh dan sekaligus diberikan nama kepada bayi tersebut. Meski demikian, jika ada yang terlewat serta belum mampu melaksanakannya di hari ketujuh, maka bisa diundur pelaksanannya di hari ke 14. Bahkan jika memang belum bisa juga melaksanakannya, maka di hari 21 bisa dilaksanakan atau kapan saja mampu untuk melaksanakannya. Namun tidak ada riwayat hadist yang menyebutkan aqiqah selain hari ke-7.

Dari Samurah bin Jundab berkata, Rasulullah bersabda bahwa “semua anak bayi tergadaikan dengan akikahnya pada hari ketujuhnya disembelih hewan (kambing), diberikan nama, dan dicukur rambutnya.” [HR. Abu Dawud, Tirmidzi, Nasa’i, Ibnu Majah, Ahmad]. Dari Aisyah berkata, Rasulullah bersabda “Bayi laki-laki diakikahi dengan 2 kambing yang sama dan bayi perempuan 1 kambing.” [HR Ahmad, Tirmidzi, Ibnu Majah]. Dari Salman bin ‘Amir Ad-Dhabiy berkata, Rasulullah bersabda “Aqiqah dilaksanakan karena kelahiran bayi, maka sembelihlah hewan dan hilangkanlah semua gangguan darinya” [Riwayat Bukhari].

Pada dasarnya, akikah anak perempuan dan laki-laki disyariatkan untuk dilakukan pada hari ke-7 setelah kelahiran si anak. Namun jika belum bisa, maka hari ke-14, jika masih belum bisa juga, maka hari ke-21. Selain itu akikah anak menjadi beban ayah dari si anak tersebut.

Tapi, jika ternyata ketika kecil belum diakikahi, kita bisa melakukannya sendiri setelah dewasa. Suatu ketika Al-Maimuni bertanya kepada Imam Ahmad, “Ada orang yang belum diakikahi, apakah ketika dewasa boleh mengakikahi dirinya sendiri?” Imam Ahmad menjawab, “Menurutku, jika ia belum diakikahi, maka lebih baik melakukannya sendiri ketika dewasa. Aku tidak menganggapnya makruh”.

Syarat akikah anak perempuan dan laki laki yang sesuai ketentuan syariat dan sah menurut Islam harus dipenuhi supaya ibadah tersebut diterima. Meskipun hukumnya sunnah, maka syarat dan ketentuan tetaplah menjadi bagian penting dalam syariat Islam. Terlebih lagi, aqiqah merupakan salah satu ibadah yang pelaksanaannya sekali seumur hidup.

Minimal jumlah hewan untuk akikah adalah satu ekor baik laki-laki atau perempuan. Sebagaimana menurut Ibnu Annas ra, “Sesungguhnya Nabi Muhammad SAW mengakikahi Hasan dan Husen satu domba satu domba” (Hadist Shahih Riwayat Abu Dawud serta Ibnu Al Jarud. Akan tetapi untuk lelaki diutamakan 2 ekor dan 1 ekor untuk perempuan berdasarkan hadist di bawah ini: Ummu Kurz Al Ka’biyyah berkata,  “Rasulullah SAW memerintahkan agar disembelihkan akikah 2 ekor domba dari anak laki-laki dan dari anak perempuan 1 ekor.” (Hadist sanadnya shahih riwayat Imam Ahmad dan Ashhabus Sunan).

Dianjurkan daging yang diberikan dalam kondisi matang seperti hadist Aisyah ra,  “Sunnahnya 2 ekor kambing untuk anak laki-laki dan 1 ekor kambing untuk anak perempuan lalu dimasak tanpa mematahkan tulangnya. Lalu dimakan (oleh keluarganya) dan disedekahkan pada hari ketujuh”. (HR al-Bayhaqi). Daging akikah selain kepada tetangga atau fakir miskin bisa juga diberikan kepada orang non-muslim. Apalagi jika hal ini dimaksudkan untuk menarik simpati atau dalam rangka dakwah. Dalilnya dalam firman Allah, “Mereka memberi makan orang miskin, anak yatim, dan tawanan, dengan perasaan senang”. (QS. Al-Insan : 8). Menurut Ibn Qudâmah, tawanan pada saat itu adalah orang-orang kafir. Namun demikian, keluarga juga boleh memakannya sebagian.

Cara Akikah Anak Yang Baik dan Benar

Bagi Anda yang sedang mencari jasa aqiqah anak yang sesuai syariat,bisa menyaksikan penyembelihan secara langsung, masakan yang lezat,gratis beberapa menu olahan,fasilitas cukur gundul, pengantaran sampai lokasi, kemasan rapi dan eksekutif serta mendapatkan sertifikat bukti. Bisa datang ke kantor pusat  kami di Jl Kaliurang Km 4,5 Tawangsari CT II D2 . Kontak kami Telepon/SMS/WhatsApp (WA)  0812 2234 6099

Aqiqah dalam Islam dan Dalilnya

Aqiqah adalah sebuah perayaan penyembelihan kambing yang dilakukan sebagai bentuk dari rasa syukur karena bayi yang baru lahir. Secara etimologis lughawi Akikah bermakna memotong dalam bahasa arabnya Al qat’u atau nama untuk rambut dikepala seorang bayi yang baru lahir. Sedangkan menurut syariah fiqih akikah adalah hewan yang dikorbankan untuk disembelih sebagai bentuk wujud rasa syukur kepada Allah atas karunia lahirnya anak baik perempuan ataupun laki-laki. Untuk persyaratanya jumlah kambing yang akan disembelih antara bayi laki-laki dan perempuan juga berbeda yakni 1 ekor kambing untuk anak perempuan dan 2 ekor kambing untuk anak laki-laki.

Jumhur atau kebanyakan berpendapat jika hukum aqiqah adalah sunnah dan sebagian lagi adalah wajib dengan alasan berhubungan langsung dengan sembelih merupakan hal penting. Selama seseorang mampu melaksanakan aqiqah, maka harus segera dilaksanakan pada hari ke-7 merupakan jawaban terbijak.

Hukum aqiqah menurut pendapat terkuat adalah sunnah muakkadah yang merupakan pendapat jumhur ulama berdasarkan hadist, ada juga ulama yang memberikan penjelasan jika aqiqah adalah penebus yang artinya aqiqah menjadi pertanda terlepasnya dari kekangan jin yang ada bersama bayi sewaktu lahir.

Sudah menjadi pengetahuan bersama, dalam persoalan fikih akan sering dijumpai perbedaan pendapat dari kalangan ulama fikih, terutama ulama fiqih empat Mazhab. Seperti yang diketahui bersama hukum aqiqah adalah sunnah muakkad, yang dinyatakan para ulama fikih mazhab syafi’i dan pendapat masyhur mazhab hanbali. Dari pendapat mazhab tersebut memahami bahwa makna murtahanun atau tergadaikan adalah anak tersebut tidak akan bisa tumbuh dan berkembang dengan baik sebelum ia diaqiqahi. Sementara mazhab hanafi berpedapat bahwa aqiqah dibolehkan pada hari ketujuh kelahiran anak, setelah memberi nama, mencukur rambut kepala dan membagikan sedekah. Diantara ulama, ada pula yang mengatakan “anak tersebut diaqiqahi sebagai ibadah tambahan (tathawwu’) dengan niat bersyukur atas nikmat Allah”. (Al-Bada i’, 5/59)

Berbeda dengan pendapat mazhab Maliki, aqiqah hukumnya mandub. Hukum mandub derajatnya berada di bawah hukum sunnah. (Syarh al-Kabir, ad-Dardir 2/216). Adapun ulama fikih mazhab zahiri semisal daun bin Ali dan Ibnu Hazm, keduanya berpendapat bahwa hukum aqiqah adalah wajib. (Al-Muhalla, 6/234. Al-Majmu’, 8/447. Al-Mughni, 9/459). Namun, pendapat tersebut tidak banyak diamalkan oleh para ulama. Nah, dengan demikian dapat diketahui bahwa yang menyatakan hukum aqiqah adalah sunnah muakkad yang sudah jelas banyak dipegang oleh mayoritas ulama mazhab.

Dilaksanakannya aqiqah sebagai bentuk ungkaran rasa suka cita dan selamat atas kelahir anak. Seperti yang dikisahkan dalam hadist Nabi yang berbunyi: ketika Nabi Muhammad SAW lahir Tsuwaibah menyampaikan ungkapan suka cita atas kelahiran beliau kepada Abu Lahab, Tsuwaibah adalah seorang budak, ia berkata “pada malah hari telah lahir anak laki-laki dari Abdullah”. Maka Abu Lahab memerdekakan Tsuwaibah sebagai wujud kegembiraannya. Dan Allah tidak menyia-nyiakan tindakan Abu lahab ini, setelah kematiannya Allah memberinya minum dari lekuk pada pangkal ibu jarinya. Atas dasar ungkapan suka cita itu dapat menimbulkan rasa bahagia, maka orang muslim dianjurkan menyampaikan kabar gembira kepada saudaranya.

Berdasarkan dengan lafazh ucapan selamat, tidak ada lafazh tertentu yang diucapkan dalam momentum kelahiran anak. Yang tampak ada kelonggaran dalam masalah ini dengan syarat ucapan selamat tersebut tidak memperlihatkan tradisi jahiliyah, misalnya bergembira atas kelahiran anak laki-laki dan tidak bergembicara atas kelahiran anak perempuan. Aqiqah adalah suatu bentuk taqarrub/pendekatan diri kepada Allah, yang sekaligus bentuk rasa syukur kita atas karunia yang dianugerahkan Allah dengan terlahirnya seorang anak. Aqiqah juga sebagai sarana untuk memperlihatkan rasa gembira dalam melaksanakan syari’at Islam & juga bertambahnya keturunan kaum mukmin, yang akan memperbanyak umat Rasulullah SAW pada hari kiamat kelak.

Aqiqah dalam Islam dan Dalilnya

Bagi Anda yang sedang mencari jasa aqiqah anak yang sesuai syariat,bisa menyaksikan penyembelihan secara langsung, masakan yang lezat,gratis beberapa menu olahan,fasilitas cukur gundul, pengantaran sampai lokasi, kemasan rapi dan eksekutif serta mendapatkan sertifikat bukti. Bisa datang ke kantor pusat  kami di Jl Kaliurang Km 4,5 Tawangsari CT II D2 . Kontak kami Telepon/SMS/WhatsApp (WA)  0812 2234 6099

Aturan Aqiqah Dalam Perspektif Agama Islam

Aturan Aqiqah Dalam Perspektif Agama Islam

Aturan aqiqah  memang telah diatur dalam agama islam dengan berbagai ketentuan yang sudah tertulis. Namun sebelum membahas beberapa tema penting ada baiknya untuk mengerti pengertian dari aqiqah tersebut. Memiliki keturunan merupakan sesuatu yang menyenangkan bagi orang tua. Pun merupakan tujuan dari berkeluarga adalah mempunyai buah hati yang tentunya menyejukkan hati.

Menjadi orang muslim, tiap keturunan yang lahir, didalam keluarga sudah pasti mempunyai kewajiban yang harus dipenuhi dan didahulukan. Pada intinya, setiap orang yang mempunyai anak mempunyai peran untuk melaksanakan aqiqah terhadap keturunan mereka. Didalam agama islam juga telah disampaikan secara rinci mengenai aturan aqiqah yang tentunya bisa digunakan untuk petunjuk.

Maksud aqiqah dikenal sebagai salah satu wujud ibadah kepada Allah SWT terhadap lahirnya seorang buah hati, baik anak laki-laki maupun perempuan. Sedangkan untuk aqiqah atau Al aqiqah sendiri adalah hewan yang dikurbankan hanya kepada Allah dengan proses menyembelih hewan itu sendiri. Pada intinya, dengan melaksanakan aqiqah adalah salah satu wujud pendekatan diri dan ucapan rasa syukur kepada kenikmatan Allah.

Dari segi bahasa, Aqiqah berasal dari kata ‘aqqu yang berarti potong. Nah mengenai kata potong disini ada dua macam arti yaitu memotong dalam makna memangkas rambut buah hati yang hendak diaqiqah. Berbeda dengan arti kata potong yang kedua adalah memotong hewan kurban yang hendak diaqiqahkan. Lalu bagaimana maksud aqiqah dari perspektif islam? Ada beberapa penjabaran dari para sahabat dan ulama ahlusunnah, diantaranya:

  • Ibnul-Qayyim menukil perkataan Abu ‘Ubaid bahwasannya Al-Ashmaa’iy dan lain-lain berkata “Pada asalnya makan ‘aqiqah adalah rambut bawaan yang ada di kepala bayi ketika lahir. Namun, istilah tersebut disebutkan untuk kambing yang disembelih ketika ‘aqiqah karena rambut bayi dicukur ketika kambing tersebut disembelih.
  • Al-Jauhari mengatakan “Aqiqah adalah menyembelih hewan pada hari ketujuhnya dan mencukur rambutnya”. Selanjutnya Ibnul-Qayyim berkata “Dari penjelasan ini jelaslah bahwa aqiqah disebutkan demikian karena mengandung dua unsur diatas dan ini lebih utama”.

 

Dari dua penjelasan diatas, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa ‘aqiqah secara syar’iy yang paling tepat adalah binatang yang disembelih karena kelahiran seorang keturunan sebagai ungkapan rasa terima kasih kepada Allah ta’ala dengan niat dan syarat-syarat tertentu. Tidak hanya arti saja tetapi juga aturan aqiqah  juga telah ditetapkan maka nantinya cukup tinggal dijalankan seperti dengan apa yang sudah tertera. Aqiqah menurut pandangan yang paling kuat, hukumnya adalah sunnah muakkadah. Hal ini berasal anjuran dari Rasullullah SAW. Beliau berkata “Bersama anak laki-laki ada aqiqah, maka tumpahkanlah (penebus) darinya darah (sembelihan) dan bersihkan darinya kotoran (cukur rambutanya)” (HR Ahmad, Al-Bukhori dan Ashhabus sunan). Dalam hadist tersebut diperintahkan melalui perkataan Rasulullah “maka tumpahkan (penebus) darinya darah (sembelihan).

Jika ditelaah lebih lanjut, perintah disini buka bersifat wajib, sebab ada sabda Rasulullah yang memalingkan dari kewajiban tersebut. Rasullulah bersabda “Barang siapa di antara kalian yang ingin menyembelih bagi anaknya, maka silahkan lakukan”. (HR. ahmad, Abu Dawud, An-Nasai dengan sanad yang hasan).

Dalam aturan aqiqah disunnahkan melakukan aqiqah pada hari ketujuh dari kelahiran, tentu saja ini didasarkan hadist Rasulullah SAW. Beliau berkata: “Setiap anak itu tergadai dengan hewan aqiqahnya, disembelih darinya pada hari ke tujuh, dia dicukur dan diberi nama”.

Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Ashhabus Sunan dan dinyatakan shohih oleh At-tirmidzi). Pelaksanaan aqiqah jika tidak dapat dilaksanakan pada hari ke tujuh, disunnahkan dilakukan pada hari ke empat belas, dan bila masih tidak bisa, bisa dilakukan pada hari ke dua puluh satu. Setelah hari ke dua puluh satu masih belum sanggup melakukan aqiqah, maka bisa dilaksanakan ketika sudah mampu. Yang perlu ditekankan adalah implementasi aqiqah pada hari ke tujuh, empat belas ataupun dua puluh satu sifatnya tetap sunnah bukan wajib.

Kewajiban aqiqah dalam aturan aqiqah  adalah tanggung jawab yang dibebankan untuk orang tua buah hati, namun bila orang tua belum sanggup menyembelihkan aqiqah untuknya hingga dia dewasa, maka dapat memotong hewan aqiqah untuk dirinya sendiri.

Syaikh Shalih Al-Fauzan berkata “Dan ia tidak diaqiqahi oleh ayahnya, lalu kemudian dia mengaqiqahi dirinya sendiri, maka hal tersebut tidak menjadi masalah menurut saya, wallahu a’lam”.

Kemudian, untuk hewan yang boleh disembelih dalam aturan aqiqah  juga sudah ditentukan, ketentuannya mirip dengan hewan yang hendak disembelih untuk qurban, dilihat dari segi usia dan kriterianya. Imam Malik berkata “Aqiqah itu seperti layaknya nusuk (sembelihan denda larangan haji) dan udhhiyah (qurban), tidak diperbolehkan dalam hal ini hewan yang sakit, kurus, picak dan patah tulang”. Kemudian Ibnu Abdul Barr berkata “Para ulama telah jima’ bahwa hewan aqiqah ini tidak diperbolehkan hal-hal atau apa yang tidak diperbolehkan dalam udhhiyah, harus dari Al-Azwaj Ats-Tsamaniyyah, yaitu domba, kambing, sapi, unta, kecuali pendapat yang ganjil yang tida dianggap”.

Nah namun tidak diperbolehkan dalam aqiqah berserikat seperti dibolehkannya berserikat dalam udhhiyah, baik domba/kambing, atau sapi ataupun unta. Oleh karenanya bila ada yang aqiqah dengan sapi ataupun unta, tidak diperbolehkan untuk tujuh orang sebagaimana pada qurban, hanya boleh untuk satu orang saja.

Mungkin Anda bertanya sebenarnya apa ketentuan hewan yang bisa diaqiqahkan? Dalam Aturan Aqiqah , bagi orang tua yang hendak mengakikah anaknya menginginkan hewan aqiqah yang penting sebagai syarat utama dalam melaksanakan aqiqah. Tentu saja hewan aqiqah yang dibutuhkan untuk bayi laki-laki tentu tidak sama dengan hewan aqiqah untuk anak perempuan.

Pada aqiqah anak laki-laki dianjurkan atau disunnahkan menggunakan dua ekor kambing, namun bila tidak sanggup boleh hanya menggunakan satu ekor saja dan itu sudah ditafsir sah. Kemudian untuk anak perempuan, maka aqiqahnya hanya menggunakan satu ekor kambing atau domba yang telah memenuhi syarat sebagai hewan aqiqah. Mengenai daging hewan aqiqah, banyak ustad yang menyampaikan jika pembagiannya hampir sama dengan pembagian daging qurban, sebagiannya boleh disantap oleh keluarga yang diaqiqahkan dan yang lainnya boleh dibagikan pada fakir miskin maupun tetangga. Sedangkan bila ada keluarga dari yang diaqiqahkan tidak memakan dan membagikan seluruhnya kepada fakir miskin, tentu saja diperkenankan dan tidak ada halangan untuk itu.

Menurut Syaikh Utsaimin berkata “Dan tidak apa-apa dia mensedeqahkan darinya dan mengumpulkan kerabat dan tetangganya untuk menyantap daging aqiqah yang sudah matang”. Berbeda dengan Syaikh bin Baz, beliau memberikan hak antara mensedekahkan seluruhnya atau mensedekahkan sebagian dan memasaknya, selanjutnya memanggil saudara, teman, tetangga dan kaum muslimin yang lain untuk memakannya.

Dalam aturan Aqiqah  daging aqiqah disunnahkan dalam kondisi sudah matang atau sudah dimasak, tentu saja ini yang membedakan dengan pembagian daging qurban yang lebih disarankan dalam keadaan mentah.

sebetulnya, banyak sekali faedah yang diperoleh dengan beraqiqah, diantaranya menyelamatkan anak dari ketergadaian pembelaan orang tua di hari kemudian, menghindarkan anak dari musibah dan kehancuran sebagaimana pengorbanan Nasi Ismail AS dan Nabi Ibrahim AS, pembayaran hutang orang tua kepada anaknya dan pengungkapan rasa gembira demi tegaknya islam. Semuanya sudah tertulis dengan jelas di aturan Aqiqah .

Aturan Aqiqah Dalam Perspektif Agama Islam

Bagi Anda yang sedang mencari jasa aqiqah anak yang sesuai syariat,bisa menyaksikan penyembelihan secara langsung, masakan yang lezat,gratis beberapa menu olahan,fasilitas cukur gundul, pengantaran sampai lokasi, kemasan rapi dan eksekutif serta mendapatkan sertifikat bukti aqiqah. Bisa datang ke kantor pusat  kami di Jl Kaliurang Km 4,5 Tawangsari CT II D2 . Kontak kami Telepon/SMS/WhatsApp (WA)  0812 2234 6099

 

Menjadi Suami yang Siaga: Persiapan Melahirkan Bagi Suami

Menjadi Suami yang Siaga: Persiapan Melahirkan Bagi Suami

 

Related image

Periode akhir kehamilan adalah momen yang mendebarkan sekaligus membahagiakan bagi ibu hamil. Selama menunggu buah hati tercinta lahir, selama itu pula para ibu sering kali mengeluhkan rasa mual, mudah capek dan lainnya. Walau hal itu normal, jika tidak ditangani dengan telaten akan bisa mempengaruhi kesehatan si ibu menjelang kehamilan. Di trisemester akhir kehamilan, setidaknya suami mengambil peran untuk membantu istri lebih tenang dan mempersiapkan semua kebutuhan yang kiranya diperlukan ketika persalinan. Apa kiranya persiapan melahirkan bagi suami? Cek di bawah ya!

Menjadi suami siaga amatlah penting di periode akhir kehamilan, untuk selalu siap sedia membantu sang istri melewati masa persalinan. Persiapan melahirkan bagi suami bisa dilakukan dengan: mempersiapkan fisik dan psikis. Persiapan psikis di sini akan membantu suami untuk selalu memberikan dukungan motivasi pada istri. Dan persiapan fisik dibutuhkan untuk menjaga kesehatan istri.

Persiapan melahirkan bagi suami adalah menjadi suami siaga dengan mengerti dan bisa mempersiapkan segala kebutuhan istri menjelang dan waktunya si istri bersalin. Selain itu, suami juga harus tahu dan paham tanda-tanda terjadinya proses kelahiran. Untuk itu, setidaknya suami siaga…

  • Harus mengetahui tanda-tanda kelahiran

Suami siaga, senantiasa mendampingi istrinya dan mengetahui tanda-tanda penting menjelang persalinan. Jika si suami tahu tanda-tanda penting itu, ia bisa segera dan sigap memberikan pertolongan medis dengan cepat bila perlu. Tanda-tanda umum yang biasanya terjadi menjelang persalinan yaitu—keluarnya lendir yang disertai darah, istri mengalami kontraksi bersamaan dengan pecahnya air ketuban. Pada awalnya, calon ibu akan merasakan rasa sakit pada bagian bawah selangkangan.

  • Memilih tempat bersalin

Jauh-jauh hari sebelum persalinan, diskusikan rumah sakit mana yang tepat untuk bersalin. Pilih tempat yang membuat istri nyaman dan proses persalinan bisa berjalan lancar: mulai dari dokter yang berkompeten dan fasilitas yang memadai, hingga aspek keamanan dan keselamatan ibu juga bayinya selama persalinan dan sesudah, terjamin pasti dan baik.

Sebagai suami siaga yang stay alert pada kondisi istri, akan mencegah terjadinya keterlambatan dalam memberikan penanganan medis. Suami harus siap dengan situasi atau segala kemungkinan yang bisa saja mendadak terjadi. Stand by-kan kendaraan jika tanda-tanda persalinan mulai kentara, dan pastikan suami tahu rute terdekat dan aman untuk menuju rumah sakit terdekat. Persiapan melahirkan bagi suami tak hanya dituntut untuk selalu siaga dalam mengambil tindakan, tapi juga tak lupa untuk memperlihatkan dukungan, motivasi dan kasih sayang ke istri. Menjelang waktu bersalin, perempuan akan merasa takut dan tegang, untuk meradakan rasa itu, tunjukkan afeksi pada istri. Itu bisa memberikan dampak positif, karena akan membuat si istri merasa disayangi dan itu akan membuatnya lebih rileks menjelang masa bersalinnya. Dengan begitu, semoga proses persalinannya bisa lancar.

Untuk Anda yang berniat menemani sang istri di ruang bersalin ada beberapa persiapan melahirkan bagi suami yang perlu diperhatikan:

  • Persiapkan mental dan fisik. Jangan sampai justru Anda terlalu parno dan malah lemas juga panik ketika melihat sang istri melahirkan.
  • Tetap sabar dan selalu beri dukungan dan semangat pada istri.
  • Ciptakan suasana yang tenang. Ketika menghadapi proses persalinan, buatlah istri Anda rileks dengan mengelus kaki, punggung serta tangannya.
  • Jika Anda tidak tahan melihat darah, jangan paksakan diri untuk melihat proses kelahiran buah hati Anda. Jangan sampai karena memaksakan diri, Anda justru tak kuat dan malah ambruk di tempat. Jika hal itu terjadi, malah bisa mengganggu jalannya proses persalinan sang istri.

Itulah tadi informasi tentang persiapan melahirkan bagi suami semoga bermanfaat.

Bagi anda yang berencana untuk menunaikan ibadah aqiqah dapat mempercayakannya kepada kami, Aqiqah Al Kautsar. Aqiqah Jogja Profesional dengan Paket Kambing Aqiqah Syar’i, Sehat, Murah, dan Berkualitas.

Keterangan lebih jelas untuk harga terbaru klik Aqiqah Al Kautsar.

Klik Whatsapp

Klik Instagram 

Telp (Phone/SMS/WA): 0274 530 7684 atau 0812 2234 6099000000000

Telp/ SMS via XL Axiata 0819 3266 1699

Telp/ SMS/ WA via Telkomsel 0812 2234 6099

Telp/ SMS/ WA via Indosat 0858 68986 999

Alamat Kantor: Jl. Kaliurang Km 4,5 Tawangsari CT II D 2 Yogyakarta

Gmaps: Telusuri

Hukum Aqiqah Anak yang Masih Kecil ataupun Dewasa

Hukum Aqiqah Anak yang Masih Kecil ataupun Dewasa

 

Hukum Aqiqah Anak yang Masih Kecil ataupun DewasaHukum Aqiqah Anak yang Masih Kecil ataupun Dewasa

Anak adalah titipan dari Yang Maha Kuasa untuk senantiasa dijaga dengan sebaik mungkin. Ketika sang anak telah lahir di dunia ini, maka syariat dalam Islam menganjurkan untuk melakukan aqiqah. Hukum aqiqah anak sendiri hukumnya adalah sunnah mu’akad.

Adapun hukum aqiqah anak bagi orang tua yang dikatakan berasal dari kalangan yang mampu, maka sangat dianjurkan atau bahkan wajib dalam melaksanakan aqiqah. Aqiqah mengajarkan seorang muslim untuk mau bersyukur atas karunia yang diberikan Allah SWT.

Lalu seperti apakah hukum aqiqah itu sendiri?

 

Hukum Melaksanakan Aqiqah

Hukum aqiqah dalam Islam adalah sunnah mu’akad yang dilakukan sekali dalam seumur hidup. Sebagaimana yang telah ditulis dalam hadist Rasulullah SAW yang menjelaskan tentang aqiqah untuk anak yang baru lahir :

 

كُلُّ غُلاَمٍ رَهِينَةٌ بِعَقِيقَتِهِ تُذْبَحُ عَنْهُ يَوْمَ سَابِعِهِ وَيُحْلَقُ وَيُسَمَّيكُلُّ غُلاَمٍ رَهِينَةٌ بِعَقِيقَتِهِ تَذْ بَحُ عَنْهُ يَوْمَسَابِعِهِ وَيُحْلَقُ وَيُسَمَّى

Setiap bayi yang lahir tergadai dengan aqiqahnya, disembelihkanlah kambing untuknya pada hari ke tujuh ia lahir, dicukur dan diberilah ia nama”

Berdasarkan hadits di atas, dalam melaksanakan aqiqah yang dianjurkan oleh syariat Islam adalah pada hari ketujuh ketika sang anak lahir. Hal ini diniatkan agar ibadah aqiqah sorang muslim bisa menjadi lebih sempurna apabila sesuai dengan waktu yang disyariatkan.

Namun jika pada hari ketujuh dari kelahiran sang anak tersebut luput atau terlewat maka sebagian ulama membolehkan untuk melaksanakan aqiqah pada hari keempat belas anak lahir.

Tapi jika di hari ke empat belas orang tua tidak bisa mengaqiqahkannya, maka aqiqah bisa dilaksanakan pada hari ke dua puluh satu. Lalu bagaimana jika orang tua tetap tidak mampu melaksanakan aqiqah pada hari kedua puluh satu dan anak sudah beranjak dewasa?

Hukum Aqiqah Anak yang Sudah Dewasa

Hukum aqiqah anak yang sudah beranjak dewasa berdasarkan ijma’ ulama’ adalah :

Berdasarkan kitab Al Muntaqa min Fatawa Al Fawzan, (5/84 Asy Syameal). Syeikh Al Fauzan Hafizhahullah berkata:

وإذا لم يفعلها الوالد فقد ترك سنة، وإذا لم يعق عنه والده وعق عن نفسه فلا بأس بذلك فيما أرى، والله أعلم .

“Apabila orangtua melaksanakan aqiqah, maka sungguh ia telah meninggalkan sunnahnya. Dan apabila orangtua belum mengaqiqahi anaknya kemudian sang anak mengaqiqahi dirinya sendiri, maka hal itu tidaklah mengapa, sepenglihatan saya, wallahu a’lam.”

 

Masih berdasarkan kitab Al Muntaqa min Fatawa Al Fawzan, (4/84 Asy Syamela). Syeikh Al Fawzan Hafizhahullah juga berkata:

الأفضل يوم سابعه، هذا هو الأفضل المنصوص عليه، فإن تأخرت عن ذلك فلا بأس بذلك ولا حد لآخر وقتها إلا أن بعض أهل العلم يقول : إذا كبر المولود يفوت وقتها، فلا يرى العقيقة عن الكبير، والجمهور على أنه لا مانع من ذلك حتى ولو كبر

“Waktu pelaksanaan yang utama untuk aqiqah adalah dilakukan pada hari ke tujuh kelahirannya. Maka  jika terlambat dari hari ketujuh, itu tidaklah mengapa, dan tidak ada batasan untuk akhir waktu aqiqah kecuali sebagian para ulama berkata:

Jika anak yang lahir sudah baligh maka waktu aqiqahnya sudah lewat, tidak dianjurkan bagi orang tua untuk melakukan aqiqah atas seorang yang sudah besar. Sementara  mayoritas ulama berpendapat bahwasannya tidaklah ada larangan untuk itu meskipun sang anak sudah besar.”

Berdasarkan dari kedua dalil yang sudah dijelaskan, maka hukum aqiqah anak yang sudah beranjak dewasa tidak mengapa. Seperti itulah ulasan mengenai hukum aqiqah bagi anak yang masih kecil maupun anak yang sudah baligh. Semoga bermanfaat.

 

Bagi anda yang berencana untuk menunaikan ibadah aqiqah dapat mempercayakannya kepada kami, Aqiqah Al Kautsar. Aqiqah Jogja Profesional dengan Paket Kambing Aqiqah Syar’i, Sehat, Murah, dan Berkualitas

Keterangan lebih jelas untuk harga terbaru klik di sini.

6 Fadhillah Aqiqah Menurut Islam

6 Fadhillah Aqiqah Menurut Islam

 

6 Fadhillah Aqiqah Menurut Islam (2)

 

Definisi aqiqah menurut segi bahasa berarti memotong, aqiqah sendiri artinya adalah sembelihan untuk bayi, sebagai wujud rasa sykur orang tua terhadap kelahiran sang bayi. Lalu apa saja fadhillah atau keutamaan aqiqah menurut Islam?

Aqiqah menurut Islam sendiri hukumnya adalah sunnah mu’akadah. Adapun bagi orang tua yang merasa mampu, sangat dianjurkan untuk melaksanakan aqiqah. Pelaksanaan aqiqah sendiri adalah hari ketujuh dari kelahiran sang anak.

Pengertian Aqiqah

Secara syara’ kata aqiqah artinya adalah memotong kambing dalam rangka mensyukuri kelahiran sang anak. Aqiqah dilakukan pada hari ketujuh dari kelahiran anak tersebut.

Melaksanakan aqiqah merupakan sebuah pengamalan terhadap sunnah nabi. Selain itu aqiqah juga merupakan bukti bahwa seorang muslim mengikuti tradisi umat Islam terdahulu.

Sebelum Islam datang, orang Arab juga telah memiliki tradisi mengaqiqahkan anak mereka. Hanya saja tradisi orang Arab pada masa Jahiliyyah dulu mau melakukan aqiqahkan hanya untuk bayi laki-laki saja.

Sementara itu cara mengaqiqahinya pun dengan melumuri darah kambing pada bayi mereka. Lalu setelah Rasulullah SAW diutus, beliau tetap membiarkan tradisi aqiqah itu bahkan melakukannya serta menganjurkan kaum muslim untuk melakukannya.

Hanya saja Rasulullah mulai mengubah tradisi orang jahiliyah. Dari yang dahulu sang bayi dilumuri darah menjadi hanya mencukur dan memberinya nama. Sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawud, Tirmidzi, Nasa’i, Ibnu Majah dan Ahmad.

“Semua anak bayi akan tergadaikan dengan aqiqahnya pada hari ketujuh ia dilahirkan. Maka sembelihlah hewan (kambing), berilah nama dan cukur rambutnya.” [Hadis Riwayat Abu Dawud, Tirmidzi, Nasa’i, Ibnu Majah dan Ahmad]”

 

6 Fadhilah Aqiqah

  1. Mendapat Pahala

Melaksanakan aqiqah akan mendapat pahala karena melaksanakan sunnah Rosul. Apalagi jika daging olahan aqiqah diberikan kepada fakir miskin, yatim piatu dan orang-orang yang berhak lainnya, akan bertambahlah pahala seseorang yang melaksanakan aqiqah.

 

  1. Melaksanakan Sunnah Nabi

Aqiqah juga sama halnya seorang muslim melaksanakan sunnah Rasul. Ya, melaksanakan aqiqah sama halnya membuktikan jika seorang muslim mencintai Nabi Muhammad dan juga mencintai Islam. Mengapa bisa dikatakan demikian? Sebab semua sumber dasar Islam ada pada Al Quran dan As Sunnah, di mana aqiqah adalah salah satu isi yang ada di dalam sunnah Nabi.

 

  1. Menghilangkan kotoran dan Penyakit

Ketika melakukan aqiqah, maka selain menyembelih orang tua juga mencukur rambut sang bayi. Aqiqah yang disertai dengan mencukur rambut sang bayi sama halnya dengan niat menghilangkan kotoran dan penyakit.

 

  1. Meningkatkan ibadah seorang muslim kepada Allah SWT

Pada acara aqiqah pada umumnya disertai pula dengan khataman al quran 30 juz. Jika tidak diiringi dengan khataman biasanya disertai dengan pembacaan yasin, tahlil, doa-doa dan lain sebagainya. Hal itulah yang akan membuat seorang muslim bisa lebih meningkat rasa cinta dan ibadahnya kepada Allah.

 

  1. Mendoakan sang anak

Selain mencukur dan memberi nama, aqiqahpun juga disertai doa-doa untuk mendoakan bayi. Doa-doa yang diamini oleh orang yang hadir di dalam majlis itu mendapat ijabah dari Allah SWT.

 

  1. Menambah rasa cinta sesama muslim

Dengan membagikan daging aqiqah kepada sesama muslim dapat pula meningkatkan rasa solidaritas antara sesama muslim. Hal itulah yang akan menambah rasa cinta terhadap sesama muslim pula.

Seperti itulah pengertian aqiqah dan juga 6 fadhillah atau keutamaan melaksanakan aqiqah menurut Islam. Semoga bermanfaat.

 

Bagi anda yang berencana untuk menunaikan ibadah aqiqah dapat mempercayakannya kepada kami, Aqiqah Al Kautsar. Aqiqah Jogja Profesional dengan Paket Kambing Aqiqah Syar’i, Sehat, Murah, dan Berkualitas.

Keterangan lebih jelas untuk harga terbaru klik di sini. 

6 Tata Cara Aqiqah yang Benar

6 Tata Cara Aqiqah yang Benar

 

 

Sebagai seorang muslim, Anda tentu sudah tidak asing lagi dengan kata aqiqah?  Ya, aqiqah adalah ibadah sunnah yang dilakukan dengan menyembelih hewan untuk bayi yang baru saja dilahirkan. Lalu bagaimana tata cara aqiqah yang benar menurut syariat hukum Islam?

Mengetahui tata cara aqiqah sangat dianjurkan agar aqiqah seseorang bisa diterima dan sah menurut kacamata Islam. Rasulullah SAW pernah bersabda :

“Semua anak bayi akan tergadaikan dengan aqiqahnya pada hari ketujuh ia dilahirkan. Maka sembelihlah hewan (kambing), berilah nama dan cukur rambutnya.”

[Hadis Riwayat Abu Dawud, Tirmidzi, Nasa’i, Ibnu Majah dan Ahmad]”

Adapun tata cara aqiqah yang benar menurut syari’at Islam sendiri adalah :

  1. Ketahui Waktunya

Menurut hadis yang telah disebutkan di atas, sebagaimana diriwayatkan oleh Abu Dawud, nahwasannya para ulama telah sepakat bahwa waktu aqiqah yang paling utama adalah hari ke-7 dari awal kelahiran sang bayi.

Bahkan jika seseorang berhalangan, ia tetap dapat melaksanakannya hingga hari ke-14 atau ke-21. Adapun jika seorang muslim dalam kondisi ekonomi yang tidak memungkinkan, maka terlepaslah kewajiban untuk melakukan aqiqah.

Tidak akan berdosa seorang muslim jika meninggalkan ibadah aqiqah, kecuali jika muslim itu memang dalam keadaan tidak mampu.

  1. Mengetahui Jumlah Hewan yang Akan Diaqiqah

Hadis dari ‘Amr bin Syu’aib dari ayahnya, dari kakeknya, Rasulullah SAW bersabda :

“Barangsiapa di antara kalian yang ingin menyembelih (kambing) karena kelahiran bayi maka hendaklah ia menyembelih dua kambing untuk laki-laki dua kambing yang sama dan satu kambing untuk bayi perempuan.” [Hadis Riwayat Abu Dawud, Nasa’i dan Ahmad]

Hadits di atas menjelaskan bahwa anjuran atau tata cara melaksanakan aqiqah bagi anak laki-laki yakni 2 ekor kambing.

Adapun jika kondisi harta seorang muslim tidak mencukupi untuk membeli 2 ekor kambing bagi anak laki-laki, maka diperbolehkan bagi ia untuk membeli 1 ekor kambing saja. Sementara untuk anak perempuan, dianjurkan untuk menyembelih 1 ekor kambing saja.

  1. Hewan Yang Disembelih Harus Memenuhi Syarat

​Hewan yang menjadi syarat untuk disembelih saat aqiqah adalah hewan yang memiliki kriteria sama dengan hewan qurban. Seorang muslim sangat dianjurkan untuk memilih hewan qurban berjenis domba putih dan sehat. Umur dari hewan ini minimal setengah tahun.

  1. Dibagikan Kepada yang Berhak

Membagikan daging aqiqah tidak sama dengan membagikan daging qurban. Dalam aqiqah, seorang muslim harus membagikan daging yang sudah disembelih dalam kondisi yang sudah matang atau sudah dimasak terlebih dahulu.

Sebagaimana dijelaskan dalam Hadits Aisyah R.A:

“Sunnahnya aqiqah adalah dua ekor kambing untuk bayi laki-laki dan satu ekor kambing untuk bayi perempuan. Dagingnya dimasak tanpa mematahkan tulangnya. Lalu dimakan (oleh keluarganya), dan disedekahkan pada hari ketujuh kelahirannya”. (HR al-Bayhaqi)”

  1. Memberi Nama dan Mencukur Rambut

Saat menyelenggarakan aqiqah, seorang muslim disunnahkan untuk memberikan nama dan melakukan cukur rambut kepada anak yang baru lahir. Nama adalah doa bagi kebaikan sang anak ke depannya.

  1. Membaca Doa Ketika Menyembelih

Ketika melakukan apapun, sangat dianjurkan bagi seorang muslim untuk berdoa. Sama halnya ketika hendak menyembelih hewan aqiqah. Hendaknya berdoa :

“Bismillah allahumma taqobbal min muhammadin wa aali muhammadin wa min ummati muhammadin.”

Artinya adalah dengan nama Allah, ya Allah terimalah qurban dari Muhammad dan keluarga Muhammad serta dari ummat Muhammad.” (Hadist Riwayat Ahmad, Muslim, Abu Dawud).

Seperti itulah tata cara aqiqah yang sangat dianjurkan dalam syariat Islam. Semoga membawa manfaat bagi umat muslim yang membaca. Aamiin.

Bagi anda yang berencana untuk menunaikan ibadah aqiqah dapat mempercayakannya kepada kami, Aqiqah Al Kautsar. Aqiqah Jogja Profesional dengan Paket Kambing Aqiqah Syar’i, Sehat, Murah, dan Berkualitas

Keterangan lebih jelas untuk harga terbaru klik di sini.

3 Syarat Kambing Aqiqah Menurut Syariat Islam yang Benar

3 Syarat Kambing Aqiqah Menurut Syariat Islam yang Benar

 

3 Syarat Kambing Aqiqah Menurut Syariat Islam Yang Benar

 

Hati orang tua mana yang tidak bahagia melihat buah hatinya telah lahir di dunia? Sebagai wujud kebahagiaan seseorang yang telah “sah” menjadi orang tua, maka ada baiknya jika ia melakukan aqiqah untuk menebus kelahiran anaknya. Lalu apa saja syarat kambing aqiqah yang harus dipenuhi?

Sama halnya saat Idul Adha, syarat kambing aqiqah pun juga sama dengan kambing yang harus diqurbankan. Lalu apa sajakah syarat-syarat kambing yang harus diaqiqahkan menurut syari’at Islam?

Hukum Aqiqah Menurut Syariat Islam

Sebagaimana yang telah dijelaskan dalam hadist Nabi yang menuliskan tentang ketentuan hewan yang harus disembelih saat aqiqah. Rasulullah memerintahkan untuk menyembelih satu ekor kambing untuk anak perempuan dan 2 ekor untuk anak laki-laki.

أَنَّ رَسُولَ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم أَمْرَهُمْ أَنْ يُعَقَّ عَنْ اَلْغُلَامِ شَاتَانِ مُكَافِئَتَانِ, وَعَنْ اَلْجَارِيَةِ شَاةٌ

Artinya : Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam memerintahkan agar beraqiqah dengan dua ekor kambing yang sepadan (umur dan besarnya) untuk bayi laki-laki dan seekor kambing untuk bayi perempuan.

-Hadits riwayat Abu Dawud

Jenis dan Syarat Hewan yang Diaiqahkan

  1. Tipe hewan yang diperlukan untuk aqiqah adalah dari jenis hewan mamalia kecil seperti kambing, domba dan biri-biri.
  2. Kategori kelamin kambing untuk aqiqah boleh berjenis kelamin jantan atau betina. Keduanya  sama saja dan tidak ada masalah menurut sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dari jalan Ummu Kurz, “….tidak mudharat bagi kamu apakah kambing laki-laki atau kambing perempuan…”
  3. Umur kambing untuk aqiqah sebagaimana dikiaskan dengan umur kambing qurban, yakni: Untuk domba atau biri-biri cukup satu tahun atau kurang sedikit. Sementara untuk kambing umurnya cukup dua tahun dan masuk tahun ketiga; kambing yang diaqiqahkan haruslah yang sehat dan bagus, jangan kambing yang cacat dan sakit.

Syarat Kambing Aqiqah

Sebagaimana diriwayatkan dari Jabir Radhiyallahu ta`ala ‘anhu, Rasulullah bersabda, “Janganlah kalian menyembelih hewan kecuali hewan tersebut sudah memenuhi umur, kecuali seandainya sulit bagi kalian. Jika sulit bagi kalian maka sembelihlah dari domba.”

“Ada 4 macam binatang yang tidak sah dijadikan qurban : 1. Cacat matanya, 2. sakit, 3. pincang dan 4. kurus yang tidak berlemak lagi “ (HR Bukhari dan Muslim).

Seperti yang telah dijelaskan oleh kedua hadis di atas, maka kesimpulannya, syarat kambing yang harus diaqiqahkan adalah :

  1. Kambing  Harus Cukup Umur

Maksud dari kambing yang cukup umur adalah kambing minimal berusia enam bulan. Alangkah baiknya jika kambing sudah melewati satu tahun. Hal itu berdasarkan sabda Rasul dan pernyataan jumhur ulama.

  1. Kambing Sehat

Periksalah kambing yang ingin diaqiqahkan mulai dari mata, apakah kambing itu buta kedua matanya atau buta sebelah? Periksa pula ekornya apakah sudah terpotong ekonya atau telinganya?

Perhatikan  juga dari sisi fisik kambing, apakah sedang sakit atau tidak? Seandainya Anda ingin memakai jasa aqiqah, sebaiknya Anda memakai jasa aqiqah yang benar-benar memiliki kredibilitas tinggi dan bukan amatiran.

  1. Kambing Tidak Cacat

Sebetulnya bukan kambing cacat yang tidak diperbolehkan, tetapi apabila kambing memiliki tanduk yang sudah  patah, gigi lepas dalam masa pergantian serta bulu rontok. Kambing dalam keadaan sakit ringan atau bahkan sedang dalam keadaan sakit yang membahayakan kehidupan kambing untuk aqiqah.

Nah, berdasarkan penjelasan tentang syarat-syarat kambing aqiqah di atas maka sudah selayaknya Anda mampu pintar dalam memilih dan memilah. Semoga bermanfaat.

Bagi anda yang berencana untuk menunaikan ibadah aqiqah dapat mempercayakannya kepada kami, Aqiqah Al Kautsar. Aqiqah Jogja Profesional dengan Paket Kambing Aqiqah Syar’i, Sehat, Murah, dan Berkualitas

Keterangan lebih jelas untuk harga terbaru klik di sini.

Pengertian Aqiqah Menurut Para Ulama

Pengertian Aqiqah Menurut Para Ulama

 

Aqiqah adalah sebuah hukum dalam Islam yang kemudian menjadi sebuah tradisi yang ada bagi seluruh masyarakat muslim di Indonesia. Aqiqah memiliki pengertian yang berarti menyembelih hewan sebagai penebusan atas kelahiran sang anak di hari ke-7 kelahirannya.

Adapun secara bahasa, aqiqah sendiri berarti memotong atau memutus. Sedangkan menurut hukum syar’i, pengertian aqiqah adalah memotong atau menyembelih hewan berupa kambing untuk bayi yang dilahirkan pada hari ketujuh dari hari kelahiran bayi tersebut.

Lalu seperti apa pengertian aqiqah menurut para ulama? Bagaimana hukum dan ketentuan yang berlaku dalam aqiqah?

 

Pengertian Aqiqah

Definisi aqiqah menurut Imam Ibnul Qayyim Rahimahullah dalam kitabnya yang berjudul Tuhfatul Maudud. Sebagaimana yang tertulis pada halaman 25-26, beliau menuliskan bahwa Imam Jauhari berkata :

Aqiqah adalah menyembelih hewan pada hari ketujuh kelahiran anaknya dan mencukur rambutnya. Selanjutnya Ibnu Qayyim rahimahullah berkata “Dari penjelasan tersebut jelaslah bahwa aqiqah itu disebut demikian sebab mengandung dua unsur di atas dan ini lebih utama.”

Lalu pengertian aqiqah menurut Imam Ahmad dan jumhur ulama, mereka berpendapat ditinjau dari segi syar’i. Pengertian aqiqah adalah makna berkurban atau menyembelih.

Sementara pengertian aqiqah menurut Imam Syafi’i adalah berasal dari kata ‘Aqq. ‘Aqq berarti memutus dan melubangi.

Adapula yang mengatakan bahwa aqiqah adalah nama bagi hewan yang disembelih. Dinamakan demikian sebab leher hewannya dipotong, dan dikatakan juga ‘aqq sebab rambut yang dibawa si bayi ketika lahir dipotong.

Adapun makna aqiqah secara syari’at adalah hewan yang disembelih untuk menembus bayi yang dilahirkan.

Sebagaimana yang telah dijelaskan dalam hadist :

” Setiap anak tergadai dengan aqiqahnya, disembelihkanlah (aqiqahnya) bagi ia pada hari ketujuh dari kelahirannya. Maka  dinamailah dia dan dicukurlah rambutnya

Hadis riwayat Imam Ahmad: 5/8, 12 dan An-Nasa’i: 7/166 dan dishahihkan lebih dari satu orang)

 

Hukum Aqiqah

Adapun untuk hukum aqiqah sendiri menurut para ulama, mereka memberikan pandangan yang berbeda-beda. Ada beberapa ulama yang menganggap bahwa aqiqah hukumnya adalah sunnah mu’akkadah.

Sementara adapula sebagian ulama yang berpendapat bahwa hukum aqiqah adalah wajib bagi mereka yang mampu dan memiliki rizki.

Ya, aqiqah merupakan salah satu bentuk rasa syukur seseorang kepada Allah SWT setelah ia dikaruniai seorang anak. Aqiqah bisa dikatakan sebagai wasilah kepada Allah untuk menjaga dan melindungi anak yang dilahirkan gar kelak menjadi anak yang sholeh dan sholehah.

Untuk hukum waktu pelaksanaan aqiqah sendiri ada beberapa ulama’ yang berbeda pendapat. Berdasarkan hadist dikatakan bahwasannya aqiqah dilaksanakan pada hari ketujuh kelahiran sang anak.

Pelaksanaan aqiqah pada hari ketujuh karena berdasarkan sabda Rasulullah. Di mana berdasarkan hadist itu kemudian dijadikan sebagai dalil bagi orang yang berpendapat bahwa waktu aqiqah itu adanya pada hari ketujuh.

Adapun bagi orang yang melaksanakannya sebelum hari ketujuh berarti tidak melaksanakan aqiqah tepat pada waktunya. Bahwasannya syariat akan aqiqah akan gugur setelah melebihi atau lewat hari ketujuh.

Menurut  pendapat Imam Malik, beliau berkata : “Jika bayi itu meninggal sebelum hari ke tujuh, maka gugurlah sunnah aqiqah bagi kedua orang tuanya.”

Lalu ada sebagian ulama’ yang membolehkan untuk melaksanakan aqiqah sebelum hari ketujuh. Pendapat ini dinukil dari Ibnu Qayyim al-Jauziyah dalam kitabnya “Tuhfatul Maudud” di halaman 35.

Seperti itulah ulasan mengenai pengertian aqiqah, di mana aqiqah adalah berarti menyembelih hewan sebagai penebusan atas kelahiran seorang bayi di dunia ini. Semoga bermanfaat.

Bagi anda yang berencana untuk menunaikan ibadah aqiqah dapat mempercayakannya kepada kami, Aqiqah Al Kautsar. Aqiqah Jogja Profesional dengan Paket Kambing Aqiqah Syar’i, Sehat, Murah, dan Berkualitas

Keterangan lebih jelas untuk harga terbaru klik di sini.

× Order Aqiqah