Aqiqah Jogja

Aqiqah Jogja – Ayah dan Bunda yang di muliakan Allah di manapun berada, taukah kita? Bahwa Allah subhanahu wa ta’ala yang maha pemurah telah memberikan kelapangan kepada kaum muslimin dengan menjadikan “mudah” urusan dalam agama. Dikisahkan dalam Al-Qur’an yang kemudian di rincikan oleh lisan Nabi Muhammad sallallahu’alaihi wa salam, bahwa sebelum menjadi 5 waktu, sebenarnya Allah yang maha tinggi sempat memberikan perintah sholat 50 waktu dalam sehari semalam, sebelum akhirnya atas nasihat Nabiullah Musa alaihisalam, baginda Nabi Muhammad sallallahu’alaihi wa salam akhirnya meminta keringanan kepada Rabbul alamin Allah azza wa jalla menjadi 5 waktu sholat.

Bisa di bayangkan jika sampai hari ini perintah tersebut di tetapkan oleh Allah

Menghidupkan Sunnah Nabi di masa fitnah.

Tahun-tahun berlalu, menit demi menit  tak terasa sudah habis di nikmati. adakah dari kaum muslimin yang tidak pilu melihat keadaan ini? Sunnah Nabi di kebumikan oleh orang-orang Islam sendiri,orang-orang telah jauh daripada perintah Agama. Hanya kepada Allah lah tempat peraduan. Wahai saudara/i kaum muslimin,maukah mengambil sebuah jalan,yang apabila jalan tersebut di tempuh,maka tidak akan ada kesengsaraan selama-lamanya. Jalan tersebut ialah jalan yang di tempuh oleh para Nabi dan para Rasul. Allah menyebutnya dengan ‘Shirathal Mustaqim’ dalam surah Al-Fatihah,yang berarti jalan (yang) lurus.

Adapun jalan yang di tempuh para Nabi dan Rasul tersebut,tidaklah menarik kecuali bagi orang-orang yang hatinya terpaut kepada Allah. Jalan tersebut bukanlah jalan yang penuh dengan kesenangan seperti jalannya orang-orang fasik. Jalan tersebut adalah sebaik-baik sebuah jalan. Panjangnya adalah sejauh mata memandang. Lebar jalannya adalah seluas langit yang membentang. Tidak terdapat kegelapan disana,bahkan sebesar dzarrah sekalipun.

Di sepanjang jalan tersebut,terdapat kalimat-kalimat bertuliskan tinta yang terbuat dari emas. Setiap hurufnya setara dengan 10 kali lipat dunia dan seisinya,bahkan 100 kali lebih baik. Setiap Nabi dan Rasul telah membawa bagian mereka masing-masing dari tulisan tersebut. Salah satunya ialah Muhammad Rasulullah,ia telah mewarisi bagian yang paling sempurna dari tulisan-tulisan itu.

Kalimat tersebut berisi perintah untuk menyembelih hewan Qurban. Dalam Islam,hewan Qurban di sembelih pada dua hari yang besar. Yakni pada 1 hari di bulan haram,yaitu Idul Adha dan pada hari ke-7 kelahiran yang di kenal dengan Ibadah Aqiqah. Nah,pada kesempatan yang mulia ini,kami dari Aqiqah Jogja Al-Kautsar ingin menyampaikan informasi seputar Ibadah Aqiqah. Yakni terkait pelaksanaan,tata cara,dan waktu pelaksanaannya.

Hukum melaksanakan Ibadah Aqiqah

Seperti Ibadah-Ibadah lainnya,Aqiqah juga memiliki hukum. Hukum Aqiqah adalah Sunnah muakkadah menurut jumhur Ulama. Selain salah satu bagian dari Sunnah Nabi yang wajib kita imani pelaksanaannya,Ibadah Aqiqah ini memiliki beberapa manfaat yang dapat mendatangkan kebaikan. Di antaranya,Aqiqah dapat menyelamatkan Bayi dari gangguan syaitan. Aqiqah juga sebagai penebus jiwa Bayi yang tergadai,sehingga apabila sang Bayi meninggal dunia sebelum memasuki usia baligh,insya Allah bayi tersebut dapat memberi syafaat bagi kedua Orang Tuanya pada hari Kiamat kelak.

“Apabila anak seorang hamba meninggal dunia, maka Allah bertanya kepada malaikat, ‘Apakah kalian mencabut nyawa anak hamba-Ku?‘ Mereka menjawab, ‘Ya’. Allah bertanya lagi, ‘Apakah kalian mencabut nyawa buah hatinya?‘ Mereka menjawab, ‘Ya’. Allah bertanya lagi, ‘Apa yang diucapkan hamba-Ku?‘ Malaikat menjawab, ‘Dia memuji-Mu dan mengucapkan inna lillahi wa inna ilaihi raajiun‘. Kemudian Allah berfirman, ‘Bangunkan untuk hamba-Ku satu rumah di surga. Beri nama rumah itu dengan Baitul Hamdi (rumah pujian)‘.”

(HR. Tirmidzi 1037, Ibu Hibban 2948 dihasankan al-Albani)

Ketika mendengar hukum Sunnah pada sebuah Ibadah,apa yang  kira-kira terbayang dalam fikiran anda?Mungkin sebagian dari kita,ada yang memiliki pandangan bahwa “meninggalkannya tidak berdosa“. Memang demikian asal dari hukum tersebut. Hanya saja,tidak-kah pandangan ini membuat kedudukan Ibadah tertentu menjadi di anggap remeh? Sesungguhnya janganlah demikian,hal tersebut walau di bolehkan,namun menjadi lemahnya mental seorang mukmin.

Setiap Muslim bertanggung jawab atas syahadah-nya. Dimana ada ikrar “La ilaha ilallah, Muhammad Rasulullah”. Maka setiap orang yang mengucapkan syahadah,berarti ia telah mererelakan hidupnya bernaung di bawah hukum Allah dan Rasul-Nya. Sudah sewajarnya pula setiap muslim hidup dalam keyakinan tersebut.

Aqiqah adalah bentuk rasa syukur

Di beberapa Suku dan Agama,terdapat beberapa ritual peribadatan dalam rangka memperingati peristiwa tertentu. Ritual atau Ibadah pada setiap Agama dan Suku tentu berbeda-beda pula bentuknya. Ritual ini biasanya di lakukan di hari-hari yang memiliki nilai sakral bagi mereka. Misalnya saja penyembelihan hewan ternak pada acara ‘Marbinda’ yang di miliki oleh suku Batak Toba,Sumatera Utara. Marbinda ini di lakukan sebagai simbol perekatan hubungan silaturahmi di antara sesama suku batak,khususnya yang ada di daerah Toba. Berbagai macam hewan ternak seperti Sapi dan Domba di sembelih pada acara Marbinda tersebut. Mirip dengan pelaksanaan hari raya Idul Adha yang di lakukan kaum Muslimin setiap tahunnya.

Telah umum diketahui oleh seluruh orang di dunia ini,bahwa dalam agama Islam,ada banyak sekali ritual-ritual Ibadah yang di lakukan

Tinggalkan Balasan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan. Required fields are marked *